Konten dari Pengguna

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Novel Sepúlveda dan Realita di Amazon

Frisca Alexandra
Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mulawarman
4 Juni 2025 7:34 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta: Novel Sepúlveda dan Realita di Amazon
Bagaimana jika fiksi itu ternyata sangat mirip dengan realita di Amazon hari ini? Novel Sepúlveda melampaui sastra, ia adalah seruan sunyi dari agenda hubungan internasional terkait isu lingkungan
Frisca Alexandra
Tulisan dari Frisca Alexandra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis)
“Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” adalah sebuah novel karya Luis Sepúlveda, seorang novelis berkebangsaan Chile. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1989. Novel ini menceritakan sebuah kisah sederhana tentang seorang lelaki tua bernama Antonio José Bolivar yang menghabiskan hari-harinya membaca novel roman di sebuah desa kecil di tepi hutan Amazon.
Bolivar hidup menyendiri namun ia hidup dengan penuh kepekaan terhadap alam. Ia tidak hanya mengenal ritme hutan Amazon tetapi juga ia memahami bagaimana manusia seharusnya hidup selaras dengan alam. Konflik dalam novel ini mulai muncul ketika seekor singa betina menyerang manusia karena anak-anaknya dibunuh oleh pemburu ilegal. Bolivar kemudian bersepakat dengan pemerintah setempat guna memburu sang singa betina. Dalam proses perburuan tersebut, Bolivar melihat bagaimana eksploitasi sumber daya hutan memberikan dampak negatif bagi masyarakat adat dan juga bagi hewan-hewan yang menghuni hutan Amazon.
Sesungguhnya kisah dalam novel ini lebih dari sekedar kisah fiksi. Kisah dalam novel ini merupakan refleksi atas kenyataan yang sedang dihadapi dunia internasional saat ini. Karya Sepúlveda tidak hanya indah dari segi sastra, tetapi juga sarat akan makna ekologis dan politik yang sangat relevan dengan kajian hubungan internasional, khususnya terkait isu lingkungan.
Apabila dilihat dalam konteks hubungan internasional, Sepúlveda seperti menyentil ketimpangan ekologis global yang kerap terjadi di negara-negara Global South. Negara Global South merujuk pada negara-negara berkembang yang berada di belahan bumi selatan serta beberapa negara di belahan bumi utara yang juga mengalami kesulitan ekonomi dan pembangunan. Istilah Global South sering digunakan untuk menyoroti ketimpangan ekonomi dan sosial antara negara maju dan negara berkembang.
Hampir 60% wilayah hutan Amazon berada di Negara Brasil, sementara sisanya tersebar ke beberapa negara Amerika Selatan lainnya seperti Kolombia, Peru, Venezuela, Ekuador, Bolivia, Guyana, Suriname dan Guyana Prancis. Negara-negara ini tergolong kedalam negara Global South yang kerap menjadi medan eksploitasi sumber daya oleh perusahaan asing.
Salah satu kasus terkait eksploitasi hutan Amazon terjadi pada era kepemimpinan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro (2019-2022). Selama masa jabatannya, ia kerap menjadi sorotan dunia karena tingkat deforestasi di hutan Amazon meningkat drastis. Berdasarkan data yang penulis kutip dari World Rainforest Movement, peningkatan kerusakan hutan Amazon meningkat sebesar 73% antara tahun 2018 sampai 2021.
Peningkatan ini disebabkan oleh kebijakan Bolsonaro yang mendorong deregulasi lingkungan. Beberapa kebijakannya antara lain, melemahkan lembaga lingkungan seperti IBAMA (Badan Perlindungan Lingkungan Brasil) serta memberi izin kepada para pelaku agribisnis, penambang liar dan perusahaan besar untuk membuka lahan melalui pembakaran hutan. Padahal, hutan amazon memainkan peranan vital guna menyerap karbon global, itulah sebabnya ia dijuluki sebagai “paru-paru dunia”.
Dalam novel “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” juga diceritakan tentang konflik antara masyarakat adat yakni suku Shuar dengan pemerintah setempat. Pada kenyataannya, di hutan Amazon terdapat lebih dari 350 kelompok masyarakat adat, dua diantaranya adalah suku Yanomami dan Kayapo yang selama berabad-abad hidup dalam keterikatan spiritual dengan hutan Amazon. Masyarakat adat menjadi kelompok yang paling terdampak atas kebijakan Presiden Bolsonaro. Mereka tidak hanya mengalami perampasan wilayah adat secara sistematis tetapi juga menjadi korban kekerasan akibat konflik dengan militer dan penambang emas ilegal. Tragedi kemanusiaan di wilayah suku Yanomami misalnya, dimana air sungai mereka tercemar merkuri dari tambang yang menyebabkan krisis kesehatan, namun pemerintah secara sepihak menghentikan layanan medis. Fenomena ini bukan hanya bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia tetapi juga bentuk nyata dari kolonialisme ekologis yang terus berlangsung dan mengancam masyarakat adat.
Luis Sepúlveda, dalam Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, menuliskan cinta yang tak melulu romantis, melainkan cinta yang lebih dalam dan tak kasatmata: cinta pada hutan, pada kehidupan yang sederhana, dan pada harmoni antara manusia dan alam. Melalui tokoh Antonio José Bolívar, ia menyuarakan bentuk cinta yang kini kian langka—cinta yang tidak menaklukkan, melainkan merawat dan memahami.
Dalam dunia yang terus didorong oleh logika ekstraksi dan ekspansi, novel ini menjadi cermin yang merefleksikan kehilangan kolektif kita: hilangnya hutan, hilangnya kebijaksanaan lokal, dan runtuhnya relasi etis antara manusia dan bumi.
Lebih jauh, ia juga menjadi pengingat bahwa urusan ekologis tidak lagi bisa dibatasi oleh batas-batas negara. Apa yang terjadi di Amazon berdampak pada iklim dunia; dan apa yang dialami oleh masyarakat adat di pedalaman Latin Amerika seharusnya menjadi keprihatinan moral komunitas global. Dengan demikian, novel Sepúlveda melampaui sastra: ia adalah seruan sunyi untuk menegakkan kedaulatan ekologis, menghargai pengetahuan lokal, dan menempatkan keadilan lingkungan sebagai bagian integral dari agenda hubungan internasional yang beradab dan berkelanjutan.
Trending Now