Konten dari Pengguna
Menuntun Manusia Muda di tengah Arus Mesin yang Tak Pernah Lelah
10 Desember 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Menuntun Manusia Muda di tengah Arus Mesin yang Tak Pernah Lelah
Guru tetap penting di era AI karena hanya guru yang bisa menuntun proses berpikir, menjaga kedalaman belajar, serta menghadirkan bimbingan manusiawi yang tidak bisa digantikan teknologi. #userstoryGabriel Yudhistira Hanifyanto
Tulisan dari Gabriel Yudhistira Hanifyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita hidup pada masa ketika jawaban bisa hadir lebih cepat dari proses berpikir itu sendiri. Satu klik menghadirkan rangkuman, solusi, dan penjelasan yang lengkap, seolah segala hal telah dibereskan oleh teknologi.
Di tengah derasnya arus kecerdasan artifisial, kita mudah lupa bahwa belajar bukan hanya soal menemukan jawaban, melainkan tentang perjalanan memahami diri. Pada titik inilah guru memegang peran yang tidak pernah bisa digantikan.
Teknologi menghimpun data, tetapi tidak pernah bertemu dengan kegelisahan seorang anak. Guru yang menyaksikan muridnya datang dengan mata bengkak karena semalam ia bertengkar dengan ayahnya.
Guru yang memahami bahwa ada siswa yang terlihat pendiam bukan karena malas, melainkan karena menanggung beban yang tidak pernah diceritakannya. Hubungan yang demikian tidak lahir dari algoritma, tetapi dari perjumpaan manusia dengan manusia, yang saling meneguhkan keberadaannya.
Pentingnya Kehadiran Guru
Ketika banyak siswa mulai terbiasa dengan kemudahan instan, guru hadir untuk mengingatkan bahwa pikiran memerlukan latihan. Bahwa pemahaman yang mendalam lahir dari pergulatan; bahwa otak berkembang bukan karena menerima jawaban, melainkan karena menempuh jalan yang lambat dan terkadang melelahkan. Guru mengajak murid menyadari kembali nilai dari kesulitan yang wajar, kesalahan yang mendidik, dan kegagalan yang membentuk karakter.
Dalam ruang kelas, guru tidak sekadar menjelaskan konsep, tetapi memurnikan cara berpikir. Ia membantu murid melihat perbedaan antara informasi dan kebijaksanaan. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan bukan sesuatu yang hanya diambil, melainkan sesuatu yang diperjuangkan melalui refleksi dan dialog. Ketika teknologi menawarkan jalan pintas, guru menjaga agar manusia tidak kehilangan kedalaman.
Di tengah perubahan ini, peran guru bagi orang tua juga semakin penting. Banyak orang tua kebingungan melihat anaknya terlalu cepat bergantung pada teknologi. Guru menjadi "penjelas" yang tenang, menunjukkan batas yang sehat serta risiko yang perlu diwaspadai.
Ia membantu keluarga memahami bahwa kecerdasan artifisial (AI) adalah alat, bukan pengganti proses tumbuh. Dalam percakapan itu, guru tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi menenangkan kegelisahan banyak orang tua yang merasa tertinggal oleh zaman.
Kehadiran AI tidak membuat guru mengecil, tetapi menuntut guru untuk memperbarui dirinya. Guru perlu memahami cara kerja teknologi, mengenali peluangnya, dan tetap berpijak pada prinsip bahwa pendidikan adalah pembentukan manusia.
Guru belajar hal baru agar dapat membimbing murid memasuki dunia yang berubah tanpa kehilangan akarnya. Di sinilah martabat profesi guru terpancar dengan jelas. Bukan pada seberapa banyak yang ia ketahui, melainkan pada kesediaannya terus belajar demi murid.
Teknologi Menyajikan Jawaban, Guru Menumbuhkan Kebijaksanaan
Masa depan pendidikan tidak bergantung pada kecanggihan aplikasi. Ia bergantung pada manusia yang bersedia hadir. Guru yang mendengarkan dengan sungguh; guru yang sabar menuntun anak menemukan suaranya; guru yang berdiri tegar ketika teknologi berubah terlalu cepat; guru yang tetap percaya bahwa hati manusia tidak bisa diotomatisasi.
Ketika dunia bergerak semakin cepat, guru mengajak kita untuk tidak terburu-buru. Di tengah banjirnya AI, guru mengingatkan bahwa pengetahuan tidak hanya untuk dikuasai, tetapi untuk dihayati. Teknologi boleh menyajikan jawaban, tetapi hanya guru yang dapat menumbuhkan kebijaksanaan. Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya melatih kecerdasan, tetapi memulihkan kemanusiaan kita.

