Konten dari Pengguna
Upacara Bendera: Ritual Sakral yang Mematri Rasa Cinta Tanah Air
7 Januari 2026 13:20 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Upacara Bendera: Ritual Sakral yang Mematri Rasa Cinta Tanah Air
Artikel ini memaparkan tentang fungsi upacara bendera, bukan sekedar rutinitas sekolah, namun ada nilai-nilai yang perlu dikembangkan.Gabriel Yudhistira Hanifyanto
Tulisan dari Gabriel Yudhistira Hanifyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam gegap gempita modernitas yang serba cepat dan individualistik, nilai-nilai nasionalisme seringkali diuji. Pertanyaan tentang bagaimana memupuk dan mengasah rasa cinta tanah air pada generasi baru, khususnya di lingkungan pendidikan, menjadi relevan untuk dijawab. Salah satu ritual yang telah lama hadir dan terinstitusionalisasi adalah upacara bendera. Lebih dari sekadar rutinitas mingguan, upacara bendera adalah sebuah medium pedagogis yang powerful, sebuah teatrikal kenegaraan yang dirancang untuk mengasah dan memperkuat semangat nasionalisme secara kolektif dan berkelanjutan.

Nasionalisme, dalam konteks ini, bukanlah sekadar sentiment atau emosi sesaat, melainkan sebuah kesadaran mendalam sebagai bagian dari suatu bangsa yang memiliki sejarah, cita-cata, dan tanggung jawab bersama. Benedict Anderson dalam bukunya yang termasyhur, Imagined Communities, menyatakan bahwa bangsa adalah sebuah komunitas terbayang yang dibayangkan sebagai sesuatu yang secara hakiki terbatas dan berdaulat. Proses ‘membayangkan’ komunitas ini memerlukan simbol-simbol dan ritual-ritual yang terus diulang. Upacara bendera adalah salah satu ritual terpenting untuk itu. Melalui serangkaian aktivitas yang terstandardisasi—mengheningkan cipta, menyanyikan lagu kebangsaan, mendengarkan amanat pembina upacara, dan mengikrarkan janji—setiap peserta diajak untuk secara imajinatif menyatukan diri dengan jutaan anak bangsa lainnya yang sedang melakukan hal serupa pada waktu yang hampir bersamaan.
Makna simbolis
Setiap unsur dalam upacara bendera sarat dengan makna simbolis yang dirancang untuk membangkitkan emosi kebangsaan. Pengibaran bendera Merah Putih adalah momen puncak. Bendera bukanlah sekadar sehelai kain, melainkan simbol kedaulatan, harga diri, dan perjuangan. Proses pengibaran yang diiringi lagu “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman menciptakan momen yang mengharu biru. Lagu kebangsaan, menurut Anthony D. Smith dalam Nationalism: Theory, Ideology, History, berfungsi sebagai “nyanyian suku” (tribal anthem) modern yang mempersatukan orang-orang yang tidak saling kenal dalam ikatan emosional yang sama. Saat lagu itu dikumandangkan, setiap individu tidak hanya menyanyikan syairnya, tetapi juga mengingat perjuangan para pahlawan yang gugur untuk memastikan bendera itu bisa berkibar dengan megahnya.
Momen mengheningkan cipta mungkin adalah bagian yang paling kontemplatif. Dalam kesunyian yang penuh khidmat, peserta upacara diajak untuk merenungkan jasa dan pengorbanan para pendahulu bangsa. Ini adalah proses internalisasi nilai-nilai heroisme dan patriotisme. Seperti yang diungkapkan oleh Emile Durkheim, sosiolog klasik, bahwa ritual berfungsi untuk menguatkan solidaritas sosial dan mengingatkan individu pada nilai-nilai kolektif yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Dengan mengheningkan cipta, seorang siswa tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menanamkan dalam dirinya sebuah kewajiban moral untuk meneruskan perjuangan tersebut dalam bentuk lain, yaitu dengan belajar keras dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Amanat pembina upacara juga memiliki peran strategis. Pidato ini adalah kesempatan untuk mentransmisikan nilai-nilai kebangsaan, moral, dan motivasi secara langsung kepada audiens yang terkumpul. Pesan-pesan tentang disiplin, hormat kepada orang tua dan guru, semangat belajar, serta cinta tanah air disampaikan dalam konteks yang formal dan berwibawa, sehingga lebih memiliki dampak. Pembina upacara, seringkali seorang guru atau kepala sekolah, menjadi personifikasi dari negara yang memberikan wejangan dan pengarahan kepada generasi mudanya.
Tidak kalah penting adalah aspek kedisiplinan dan ketertiban yang melekat dalam pelaksanaan upacara. Setiap peserta harus berdiri tegak, mengenakan seragam dengan rapi, dan mengikuti setiap prosedur dengan tertib. Disiplin ini, seperti yang teorikan oleh Michel Foucault, adalah sebuah teknologi kekuasaan untuk melatih tubuh (docile bodies) yang patuh dan teratur. Dalam konteks positif, kedisiplinan ini melatih peserta untuk menghormati otoritas, aturan, dan tata tertib—nilai-nilai fundamental yang dibutuhkan untuk menjadi warga negara yang baik. Ini mencerminkan nasionalisme dalam bentuknya yang praktis: sebuah ketaatan pada hukum dan norma yang berlaku demi terciptanya ketertiban bersama.
Bukan sekedar rutinitas
Namun, efektivitas upacara bendera sebagai pengasah nasionalisme tidak bisa diterima begitu saja. Tantangan terbesarnya adalah rutinitas yang cenderung mekanistis dan membosankan. Jika upacara hanya dilakukan sebagai kewajiban administratif tanpa pemaknaan yang mendalam, ia bisa kehilangan ruhnya. Nasionalisme yang terbentuk bisa jadi adalah nasionalisme yang semu dan dangkal. Oleh karena itu, kunci keberhasilannya terletak pada how bukan what. Bagaimana para pembina upacara menyampaikan amanat dengan menarik dan relevan, bagaimana lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan penuh semangat bukan sekadar gumam, dan bagaimana setiap unsur upacara dijelaskan maknanya kepada peserta, terutama yang muda.
Dalam perspektif yang lebih luas, upacara bendera di sekolah adalah miniatur dari upacara kenegaraan. Ia memperkenalkan anak-anak pada simbol-simbol dan ritual negara sejak dini, sehingga menciptakan memori kolektif dan pengalaman emosional yang sama. Pengalaman inilah yang kemudian menjadi fondasi dari identitas nasional mereka. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tim Penelitian Puslitjakdikbud (2020) menyimpulkan bahwa peserta didik yang mengikuti upacara dengan khidmat dan pemahaman makna menunjukkan skor yang lebih tinggi dalam indikator nasionalisme, seperti rasa bangga sebagai bangsa Indonesia dan kesediaan untuk membela tanah air, dibandingkan dengan mereka yang mengikuti secara formalitas.
Upacara bendera jauh lebih dari sekadar aktivitas mingguan yang membosankan. Ia adalah sebuah mekanisme sosial yang dirancang dengan cermat untuk mengasah dan mematrikan nasionalisme. Melalui kekuatan simbolis bendera dan lagu kebangsaan, kedalaman renungan dalam hening cipta, wejangan dalam amanat, dan kedisiplinan dalam tata tertib, upacara bendera menciptakan sebuah experience yang membentuk memori kolektif dan solidaritas. Ia adalah sekolah nasionalisme yang paling dasar dan paling massif. Dalam setiap detik kibaran sang saka Merah Putih, terkandung ajaran untuk tidak hanya mencintai Indonesia dalam kata, tetapi juga siap mengabdi dan berkorban untuknya dalam tindakan. Oleh karena itu, marilah kita menghidupkan kembali roh dari setiap upacara bendera, menjadikannya bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan jiwa untuk terus mengasah rasa cinta kita pada tanah air Indonesia.

