Konten dari Pengguna

Pesona Pangandaran Tak Hanya Pantai: Inilah Seni Tradisinya

Galang Ikhwan Aji Sabda
I am a lecturer at the Faculty of Communication Sciences, Padjadjaran University (FIKOM Unpad), specializing in Media Communication, Tourism Communication, and Political Communication
26 September 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pesona Pangandaran Tak Hanya Pantai: Inilah Seni Tradisinya
Pesona Pangandaran tak hanya pantai dan wisata bahari. Kabupaten ini memiliki kekayaan seni tradisi seperti Ronggeng Gunung hingga Seni Lebon yang sarat sejarah dan nilai kearifan lokal. #userstory
Galang Ikhwan Aji Sabda
Tulisan dari Galang Ikhwan Aji Sabda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
 Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Pangandaran tidak hanya terkenal dengan pantai dan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan warisan seni dan budaya yang unik. Di balik riuhnya wisata bahari, Pangandaran memiliki ragam kesenian tradisional yang sarat nilai sejarah dan kearifan lokal. Sayangnya, banyak orang lebih mengenal Pangandaran karena lautnya, sementara kekayaan budayanya belum terlalu disorot.
Salah satu kesenian khas yang lahir dari Pangandaran adalah Ronggeng Gunung. Tarian ini berakar dari kisah Dewi Rengganis dan Prabu Anggalarang, tokoh Kerajaan Galuh Tanduran. Dulu, ronggeng tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga strategi perlawanan terhadap bajak laut Bajo.
Dengan tarian yang memikat, mereka berhasil mengelabui musuh hingga akhirnya ditaklukkan. Kini, Ronggeng Gunung telah bertransformasi menjadi Ronggeng Kaleran yang biasa ditampilkan dalam hajatan, pernikahan, dan penyambutan tamu. Bedanya, dalam Ronggeng Gunung, penari sekaligus menjadi sinden, sedangkan dalam Ronggeng Kaleran, penari dan penyanyi adalah orang yang berbeda.
Dokumen Istimewa
Selain Ronggeng, ada juga Badud, kesenian asli Desa Margacinta. Badud lahir dari tradisi petani yang berjaga di sawah sambil mengusir hama dengan bunyi "dog-dog" dan angklung. Irama sederhana itu kemudian berkembang menjadi pertunjukan seni yang penuh warna, dilengkapi kostum menyerupai hewan seperti harimau dan babi hutan.
Filosofinya jelas: kesenian ini terinspirasi dari cara masyarakat menjaga hasil tani sekaligus menyalurkan ekspresi kegembiraan setelah panen. Hingga kini, Badud sering diundang untuk meramaikan hajatan, festival, bahkan pernah tampil di tingkat internasional.
Pangandaran juga memiliki Seni Lebon, yaitu seni bela diri tradisional yang dahulu lahir dari adu ketangkasan antarjawara kampung. Lebon bukan sekadar pertarungan, tetapi juga sarana menunjukkan keberanian, kekuatan, dan solidaritas antarwarga. Pertunjukan ini biasanya diiringi musik pencak silat dengan gerakan yang energik dan atraktif.
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Selain tiga kesenian tersebut, masih ada Gondang musik yang diciptakan dari alat menumbuk padi (lisung) dan berbagai tradisi unik seperti Hajat Laut, Pesona Purnama Pesisir, dan Hajat Leuweung yang rutin digelar masyarakat. Semua ini adalah ekspresi rasa syukur kepada alam dan Sang Pencipta, sekaligus wujud kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Pangandaran.
Warisan seni dan budaya Pangandaran tidak hanya bernilai hiburan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata. Melalui festival, pameran, hingga pertunjukan rutin, kesenian tradisional ini mampu menjadi magnet yang memperkaya pengalaman wisatawan. Lebih dari itu, kesenian ini juga menyimpan pesan moral: tentang perjuangan, kebersamaan, dan kearifan lokal yang patut dijaga di tengah arus modernisasi.
Kini, tantangan terbesar adalah bagaimana kesenian-kesenian ini tetap lestari dan digemari generasi muda. Upaya pelestarian tidak cukup hanya dengan pentas tahunan, tetapi juga lewat dokumentasi, promosi kreatif, dan keterlibatan aktif masyarakat. Dengan begitu, Ronggeng Gunung, Badud, Seni Lebon, Gondang, dan tradisi lainnya tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai identitas kebanggaan Pangandaran.
Trending Now