Konten dari Pengguna

Teh Manis, Keramahan, dan Budaya Gula

Gigih Imanadi Darma
Jurnalis yang terus bertumbuh. Merekam peristiwa. Menyajikan fakta.
9 Juli 2025 6:58 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Teh Manis, Keramahan, dan Budaya Gula
Teh Manis, Keramahan, dan Budaya Gula Dalam banyak kesempatan, saya pun melihat bagaimana teman-teman saya lebih sering memesan teh manis daripada air putih, es jeruk, atau kopi.
Gigih Imanadi Darma
Tulisan dari Gigih Imanadi Darma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi keluarga yang sedang minum teh. Sumber gambar: shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga yang sedang minum teh. Sumber gambar: shutterstock.com
Di tahun ke-delapan saya membenamkan diri di Yogyakarta, ada hal-hal kecil yang datang terlambat untuk disadari. Bukan sesuatu yang besar—tidak pula mendesak—tapi cukup untuk mengisi ruang-ruang kosong di kepala. Terutama saat pikiran terbengong-bengong selepas makan, di antara kenyang dan kantuk.
Setiap kali saya berkunjung ke rumah warga atau terlibat dalam kegiatan bersama komunitas lokal, hampir selalu ada satu benda yang diam-diam sudah menanti di meja: segelas teh manis. Tak pernah absen. Ia hadir lebih cepat dari obrolan, lebih siap daripada topik pembuka. Sebuah sapaan tanpa kata, suguhan tanpa tanya.
Misalnya saja, belum lama ini, pukul lima pagi buta, saya menjemput adik-adik dari Tribuana Taekwondo Club untuk mendaki Gunung Andong. Ketika kami—saya, Sabum Dan-4 bernama Taufik, dan sang juragan: ki sanak Faksi Pahlevi—dipersilakan masuk, tiga gelas teh manis sudah tergelar sebelum sempat ada satu pun dari kami yang bersuara.
Berpose di Gapura Gunung Andong via Pendem. Sumber gambar : pribadi.
Bu Iffa, tuan rumah pagi itu, menyambut dengan senyum dan sarapan: olahan daging ayam, tempe goreng, dan sambal. Lengkap, hangat, dan penuh rasa. Tapi entah kenapa, di tengah segala keriuhan di atas meja, mata saya justru mencari sesuatu yang tak tampak: air putih. Tak ada teko. Tak ada ceret. Hanya teh. Hanya manis.
Tentu saya tak bisa menolak. Menyingkirkan teh itu sama saja menyingkirkan niat baik yang dituangkan dengan hati-hati. Dan membiarkannya dingin, lalu dihinggapi lalat, rasanya seperti menolak keramahan itu sendiri.
Sejak saat itu, saya mulai menyadari—dengan lambat tapi pasti—bahwa teh manis bukan sekadar minuman. Ia adalah kebiasaan. Ia adalah budaya. Ia adalah bentuk paling sederhana dari cara orang Indonesia menyambut sesama.
Dan lebih dari itu, ia adalah representasi paling harfiah dari sebuah bangsa yang membangun hubungan sosial dengan gula.
Teh Manis, Keramahan, dan Budaya Gula
Dalam banyak kesempatan, saya pun melihat bagaimana teman-teman saya lebih sering memesan teh manis daripada air putih, es jeruk, atau kopi. Bahkan dalam acara yang formal maupun kasual, minuman ini selalu hadir—seolah-olah kita semua sepakat bahwa keramahan harus terasa di lidah, bukan hanya di hati.
Saya mulai berpikir, di negeri ini, kebanggaan nasional bukan diukur dari jumlah peraih Nobel atau seberapa canggih riset teknologi, melainkan dari seberapa manis teh yang disuguhkan kepada tamu.
Teh manis menjadi bahasa isyarat yang tidak diajarkan di sekolah, tapi diwariskan dari ruang makan ke ruang tamu. Dalam konteks yang lebih luas: gula adalah budaya. Ia hadir dalam teh, dalam senyum, dalam cara kita menyambut orang asing tanpa curiga. Ia adalah bentuk dari keinginan besar untuk menyenangkan semua orang.
Orang luar mungkin berkata, “Indonesia itu ramah, ya.” Mereka tak tahu, ramah itu bukan watak bawaan. Ia dilarutkan perlahan. Seperti gula dalam secangkir teh.
Kita Bangsa Pemanis: Dalam Kata, Dalam Laku
Di banyak tempat di negeri ini, rasa asli dianggap mencurigakan. Pahit itu sinyal ada yang salah. Hambar itu tanda kurang perhatian. Maka, yang tak manis harus ditambah pemanis. Yang terlalu jujur harus dibalut kata-kata yang lebih bisa diterima. Yang pedas harus ditutup senyuman, agar tidak menyinggung.
Kita begitu terlatih menjadi manis, bahkan saat sedang kecewa. Kita tetap membalas pesan menyebalkan dengan “wkwk”. Kita menghindari konflik dengan kalimat seperti, “Nggak apa-apa kok, aku ngerti.” Atau, “Yang penting kamu bahagia.”
Tapi seperti semua yang manis, terlalu banyak gula menimbulkan efek samping: diabetes sosial. Kita jadi bangsa yang ramah di luar, tapi kosong di dalam. Kita menghindari kejujuran yang tajam, demi rasa aman yang palsu. Kita dibiasakan untuk menyenangkan semua orang, sampai lupa menyenangkan diri sendiri.
Gula dan Negara
Kalau kamu pernah menerima bantuan sembako dari pemerintah, kamu tahu bahwa gula selalu hadir di dalamnya. Gula pasir satu kilogram adalah benda wajib, bersanding dengan mie instan, minyak goreng, dan sesekali: sirup rasa anggur berlabel “rasa buah”.
Gula dalam paket bantuan bukan sekadar kebutuhan, tapi simbol: bahwa negara masih peduli. Bahwa negara masih manis. Bahwa negara tidak lupa, meski hanya datang lima tahun sekali.
Di sisi lain, kampanye gizi seimbang dari kementerian pun masih menyelipkan kecap manis dan susu kental manis sebagai bahan pokok. Padahal kata “manis” di situ lebih mirip tipu daya. Kita tidak minum susu kental manis karena nilai gizinya, tapi karena ia menawarkan perasaan: bahwa hidup ini masih bisa dinikmati meski pahit.
Negara tahu, memberi rasa manis lebih mudah daripada memberi solusi. Maka yang disuap bukan akal sehat, tapi lidah. Dan lewat lidah, tumbuh rasa puas yang palsu: seolah-olah kita diperhatikan. Padahal yang terjadi hanyalah distribusi gula, kamera, dan senyum seremonial.
Ketika Manis Jadi Identitas dan Beban
Di keluarga, kita diajari untuk sabar. Di kantor, kita diminta untuk tenang. Di media sosial, kita diwajibkan menyebar positive vibes only. Di segala ruang, kita didorong untuk menjadi manis, bahkan ketika hati sedang meleleh seperti karamel.
Jujur menjadi hal yang mahal. Kalau kamu terlalu blak-blakan, kamu dibilang toxic. Kalau kamu terlalu serius, kamu dibilang baper. Kalau kamu berkata jujur soal ketidakadilan, kamu dianggap cari ribut.
Akhirnya kita membungkus isi hati dengan lapisan-lapisan manis seperti lapis legit. Satu demi satu. Sampai kebenaran tenggelam dalam selai kata-kata sopan dan emoji senyum.
Gula bukan musuh. Ia membuat kopi lebih bisa diminum, luka lebih bisa dilupakan, dan dunia lebih bisa ditertawakan. Tapi seperti semua yang manis, ia harus dikenali batasnya.
Kita tidak perlu menghentikan teh manis. Biarlah ia tetap jadi penyambut tamu. Tapi mungkin, kita perlu belajar berkata: “Saya tidak suka ini,” tanpa merasa bersalah. Belajar untuk jujur, tanpa takut dibilang pahit. Belajar berkata apa adanya, meski tak semanis yang diharapkan.
Karena hidup di negeri ini sudah cukup manis di lidah—mungkin sekarang saatnya kita cari rasa yang lebih jujur di dada.
Trending Now