Konten dari Pengguna
Nelayan di Tengah Krisis Iklim: Menangkap Ikan di Laut yang Semakin Panas
30 Oktober 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Nelayan di Tengah Krisis Iklim: Menangkap Ikan di Laut yang Semakin Panas
Perubahan suhu laut memengaruhi distribusi dan migrasi ikan, menggeser musim tangkap serta daerah penangkapan. Kondisi ini berdampak pada tangkapan nelayan dan keseimbangan ekosistem laut. #userstoryGILAR BUDI PRATAMA
Tulisan dari GILAR BUDI PRATAMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi sektor perikanan tangkap di Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan laut, tetapi juga oleh nelayan yang bergantung pada kestabilan ekosistem perairan. Salah satu indikator perubahan tersebut adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang berpengaruh langsung terhadap distribusi, perilaku, dan ketersediaan ikan di wilayah perairan tropis seperti Indonesia.
Laut Indonesia Semakin Panas
Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature atau SST) di wilayah Indonesia mengalami tren peningkatan yang konsisten. Hasil penelitian Mubarrok dkk pada tahun 2025 yang diterbitkan oleh Jurnal Geosains Kutai Basin menunjukkan laju peningkatan suhu laut di Indonesia mencapai 0,020°C per tahun, sedikit lebih tinggi dibandingkan tren global yang berada di angka 0,018°C per tahun.
Kenaikan suhu tersebut terlihat kecil, tapi memiliki implikasi besar terhadap sistem ekologi laut. Kenaikan suhu memicu perubahan arus laut, lapisan air, serta produktivitas plankton yang menjadi dasar rantai makanan laut. Ketika produktivitas ini terganggu, distribusi ikan ikut berubah. Spesies pelagis—seperti cakalang, tongkol, dan tuna sirip kuning yang hidup pada suhu optimal 26°C hingga 30°C—mulai berpindah ke wilayah dengan kondisi perairan yang lebih sejuk dan stabil. Akibatnya, daerah tangkapan yang dulunya produktif berpotensi mengalami penurunan hasil tangkapan.
Musim Tangkap yang Bergeser dan Risiko yang Meningkat
Perubahan suhu laut tidak hanya memengaruhi lokasi ikan, tetapi juga waktu musim tangkap. Musim yang sebelumnya datang secara teratur kini bisa berubah, datang lebih cepat, lebih lambat, atau bahkan berpindah ke wilayah lain. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian bagi nelayan dalam menentukan waktu melaut.
Selain itu, perubahan iklim turut mengubah pola hembusan angin di berbagai belahan dunia. Dampaknya terlihat pada fenomena El Niño dan La Niña yang semakin sering dan sulit diprediksi. Kedua fenomena ini berpengaruh pada suhu laut, curah hujan, dan pergerakan massa air yang memengaruhi keberadaan ikan.
Pemanasan laut juga dapat menimbulkan gelombang panas laut (marine heatwaves) dan meningkatkan risiko gelombang ekstrem di beberapa wilayah perairan. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam keselamatan nelayan, tetapi juga mengurangi jumlah hari efektif melaut. Akibatnya, pendapatan nelayan menurun sementara biaya operasional seperti bahan bakar terus meningkat.
Krisis iklim juga menimbulkan tekanan ekonomi bagi masyarakat pesisir. Ketika hasil tangkapan menurun, rantai pasok ikan di pasar lokal ikut terganggu. Pasokan yang berkurang dapat menyebabkan harga ikan naik di tingkat konsumen, tetapi nelayan sering kali tetap memperoleh keuntungan yang kecil karena hasil tangkapan tidak menentu. Situasi ini menunjukkan pentingnya strategi adaptasi yang berkelanjutan dalam menjaga ketahanan sektor perikanan tangkap.
Teknologi dan Data: Harapan Baru di Tengah Krisis
Di tengah tantangan tersebut, teknologi berbasis data mulai memberikan harapan baru bagi dunia perikanan. Melalui penginderaan jauh dan pemantauan satelit, para peneliti dapat mengamati kondisi oseanografi seperti suhu laut, klorofil, dan arus permukaan. Data tersebut kemudian digunakan untuk mengembangkan sistem prediksi daerah penangkapan ikan potensial.
Salah satu contoh penerapannya adalah aplikasi Daerah Penangkapan Ikan atau DPI yang dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Aplikasi ini menggabungkan data oseanografi dengan informasi historis hasil tangkapan, sehingga nelayan dapat menentukan lokasi potensial ikan pelagis secara lebih efisien.
Meski telah memberikan manfaat nyata, DPI masih memiliki ruang untuk dikembangkan lebih baik. Salah satu langkah penting adalah pemanfaatan data oseanografi secara realtime agar informasi yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi terkini di laut. Selain itu, penggunaan model prediktif yang lebih kompleks dan pemanfaatan machine learning dapat meningkatkan akurasi dalam memperkirakan lokasi ikan. Dengan pengembangan tersebut, DPI berpotensi menjadi alat yang lebih adaptif dan presisi dalam menghadapi perubahan laut akibat krisis iklim.
Menuju Perikanan yang Tangguh terhadap Iklim
Membangun sektor perikanan tangkap yang tangguh terhadap perubahan iklim membutuhkan sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan publik. Data ilmiah dapat menjadi dasar untuk merumuskan kebijakan adaptasi yang berpihak pada nelayan kecil sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
Laut Indonesia memang semakin panas, tetapi dengan pengetahuan yang tepat, inovasi teknologi, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan, nelayan Indonesia dapat melaut dengan harapan baru.

