Konten dari Pengguna

Cerita di Balik Pengorbanan Pasukan Oranye

16 November 2017 14:52 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:14 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerita di Balik Pengorbanan Pasukan Oranye
Gitario V I
Tulisan dari Gitario V I tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suparno (31) sudah menjadi petugas Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air selama empat tahun. Dia bertugas di sekitar sungai yang ada di daerah Epicentrum-Imperium. Bekerja bersama empat rekannya, satu tim ada yang tiga , empat, atau lima orang dari pagi-sore satu lokasi.
"Kadang-kadang kita juga membantu tempat lain kalau memang dibutuhkan," ujar Petugas Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air, Suparno.
Ketika bertugas dia menemukan banyak sampah mulai dari bangkai tikus, anjing, kucing sampai tempat tidur. Bahkan rekannya pernah menemukan mayat bayi di sungai dan langsung dilaporkannya ke polisi.
Semua sampah diangkut ke dalam truk sampah. Saat bekerja dia sudah terbiasa terkena beling atau paku. Walaupun sudah memakai sepatu tetap saja kakinya terkena benda-benda tersebut. Jika terluka terkena paku, Suparno langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksa. Jika parah akan diizinkan untuk izin dengan memberikan surat izin ke pengawas.
Pengorbanannya untuk menjaga kebersihan di wilayah Jakarta sungguh mulia.
"Kebersihan itu sebagian dari iman, dulu saya pernah bekerja sebagai security selama tiga tahun karena resiko terlalu besar lalu berganti menjadi petugas Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air," ujarnya.
Sistem kerjanya harian yaitu pekerja harian lepas, tapi gaji ya satu bulan. Kalo semisal izin sehari gajinya dipotong kalo tidak ada surat izin. Ia bekerja dari pukul delapan pagi sampai jam 12 siang selepas istirahat disambung lagi hingga jam lima sore.
"Setiap lokasi ada penempatan sampah jadi kalau kita sisir sudah bersih ya bersih. Terus kalau siang hari nanti sampah timbul lagi baru kita bersihin lagi," ucapnya.
Selama empat tahun dia membersihkan di sekirar Imperium tetap nanti kalau ada kerja bakti ditempat lain baru dia berganti tempat. Sebulan sekali ada kerja bakti tergantung kondisinya di mana. Kalau daerah Mampang minta bantuan ya kita bantu.
"Ditempat lain kita juga saudara jadi saling membantu. Belum lagi kalau air meluap kita standby kalau kira-kira bisa dikerjain ya dikerjain kalau kira-kira bahaya ya kita jangan, dari dinas engga boleh. Kalau kita banjir nih terus nyebur kita malah diomelin," ucapnya.
"Kalau hujan kita standby di lokasi kita pantau luapan air berapa tingginya terus kita foto terus kita kasih ke dinas," tuturnya.
Sampah lebih banyak itu saat musim hujan karena pas musim hujan para warga yang tidak mengerti kebersihan sembarangan buangnya, kalau musim kering warga takut untuk membuang sampah karena saluran tidak akan jalan.
"Kalau musim hujan dia buang seperti kasur, kadang-kadang lemari-lemari sedang lah. Tv juga ada situ," ujarnya.
Semua diambilnya dengan tangan dengan menggunakan sepatu ia menggerak-gerakan sepatunya.
"Jadi, kalau ada sampah yang nyangkut kita ambil. Kita angkat masukin ke karung terus kita pindahin ke dataran sungai baru diangkut. Besok atau nanti kita ambil siang tergantung kitanya kalau penuh kita laporan ke pengawas gimana nih pak sampah penuh baru diambil dengan mobil truk. Kalau tidak crowded kita pake mobil Carry," lanjutnya.
Saat hari libur pak Suparno tidak menentu ia kadang diputar menjadi hari senin, selasa kadang rabu karena sampah tidak pernah habis di Jakarta. Pak Suparno berpesan untuk kesadaran warga tolong jaga kebersihan jangan sampai buang sampah di kali.
"Intinya sih beling paku jangan dibuang, kesadaran aja benda paku/beling itu jangan dibuang," tutupnya.
Trending Now