Konten dari Pengguna

Gotong Royong Hapus Kekerasan terhadap Perempuan, Bisa?

Hani H Sumarno
ESG practitioner: corporate person
28 November 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Gotong Royong Hapus Kekerasan terhadap Perempuan, Bisa?
Menghapus kekerasan terhadap perempuan harus dilakukan gotong royong untuk ciptakan dunia berimbang berkelanjutan. Ini adalah isu kemanusiaan. Penting laki-laki terlibat sebagai agen perubahan.
Hani H Sumarno
Tulisan dari Hani H Sumarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun ini mengangkat urgensi hentikan perundungan di dunia digital. Ilustrasi gambar dari Canva.
zoom-in-whitePerbesar
Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun ini mengangkat urgensi hentikan perundungan di dunia digital. Ilustrasi gambar dari Canva.
Jelang akhir November hingga awal Desember 2025 para pegiat gender mengangkat isu keberpihakan para perempuan. Momentum tahunan bertajuk 16 Days Activism Against Gender Violence adalah kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.
Mengapa 16 hari? Ada rangkaian peristiwa yang membangunkan para aktivis hak asasi manusia, sehingga pada 25 November hingga 10 Desember setiap tahunnya dapat memperkuat strategi dan progresif membela hak perempuan: membebaskannya dari kekerasan di berbagai ruang. Mulai dari rumah tangga, di keluarga, di ranah publik secara fisik hingga di dunia maya.

Dari 25 November sampai 10 Desember Ada Apa?

Apa yang terjadi pada 25 November? Ini adalah peringatan internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, hari penghormatan atas pengorbanan jiwa Mirabal bersaudara (Patria, Minerva & Maria Teresa).
Mereka tak henti memperjuangkan demokrasi dan keadilan di Republik Dominika dan berakhir tragis pada 25 November 1960, mereka dibunuh oleh kaki tangan penguasa diktator negeri itu.
Lalu 29 November diperingati sebagai Hari Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia atau Women Human Rights Defender (WHRD) Internasional. Para perempuan pembela hak asasi manusia menamakan diri sebagai pekerja kemanusiaan, aktivis perempuan, pembela perempuan, konselor, pendamping korban, pekerja sosial, volunteer.
Ini adalah hari untuk mengingatkan dunia bahwa ada orang-orang berdedikasi yang menolong para perempuan yang menjerit akibat kekerasan dengan berbagai dimensi dan konteks, di tengah dunia yang berorientasi laki-laki.
Selanjutnya 1 Desember adalah Hari AIDS Sedunia yang dicanangkan pertama kali pada tahun 1988. Urgensi peringatan ini untuk tindak pencegahan penyebaran HIV/AIDS di seluruh dunia, termasuk untuk perlindungan terhadap perempuan yang rentan sebagai korban.
Berikutnya 2 Desember adalah hari internasional untuk Penghapusan Perbudakan yang dideklarasikan sebagai UN Convention for the Suppression of the traffic in persons and the Exploitation of other, dalam resolusi Majelis Umum PBB No 317(IV) pada tahun 1949. Dari laman komnasperempuan.go.id disebutkan bahwa konvensi ini merupakan salah satu tonggak dalam upaya perlindungan bagi korban, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, atas kejahatan perdagangan manusia.
Bersambung pada 3 Desember sebagai hari internasional bagi Penyandang Disabilitas. Program aksi ini diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1982. Selanjutnya 5 Desember sebagai hari internasional bagi sukarelawan. PBB mengajak organisasi-organisasi dan negara-negara di dunia untuk mengapresiasi orang-orang yang telah berkontribusi bagi sesama dan lingkungan sebagai sukarelawan.
Lalu 6 Desember sebagai Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan. Pada hari itu di tahun 1989, terjadi pembunuhan massal di Universitas Montreal Kanada yang menewaskan 14 mahasiswi dan melukai 13 lainnya. Pelaku adalah seorang pria, tersulut kemarahan pada para feminis dan diketahui ada 19 perempuan terkemuka yang sangat dibencinya.
Berikutnya 9 Desember sebagai Hari Pembela HAM Sedunia. Diakhiri 10 Desember merupakan Hari HAM Internasional, momentum ditetapkannya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB di tahun 1948. Prinsip-prinsip HAM secara detail terkandung di dalam deklarasi tersebut untuk disebarluaskan dan dipahami seluruh dunia.

Kebersamaan Kampanye oleh Tim Eropa dan Tim Indonesia

Di Indonesia, European Union -- Delegation to Indonesia and Brunei Darussalam -- dan EU Member States (Tim Eropa) tengah menyiapkan kampanye hentikan kekerasan terhadap perempuan dengan aktivitas keliling kota bersepeda, dijadwalkan berlangsung Sabtu 6 Desember 2025.
Ya, bersepeda menyiratkan pesan keseimbangan dalam kayuhan mencapai tujuan. Selain itu, bersepeda juga simbol kemerdekaan bagi perempuan: membebaskannya mengayuh tanpa terikat, dapat bepergian dengan merdeka dan menyuarakan sustainability: keberpihakan pada dunia ramah lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam beberapa hari ini hingga ke depan, sedikit perempuan di gerakan Bike to Work Indonesia dan komunitas bersepeda Yellow Ranger Indonesia bahu membahu bersama Tim Eropa mengakselerasi para pemangku kepentingan untuk kampanye efektif sesuai tema global tahun ini "End Digital Violence against All Women and Girls". Komponen kunci dari inisiatif joint-team Eropa dan Indonesia ini adalah Gotong Royong Menghapus Kekerasan terhadap Perempuan.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Deni Chaibi, telah mengundang Gubernur Daerah Khusus Jakarta berkolaborasi pada kampanye ini.
Selain sebagai wujud dukungan terhadap Gerakan Nasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak yang dirancang Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, kebersamaan mengayuh sepeda dalam kampanye ini menyiratkan kepemimpinan Jakarta sebagai kota yang ramah perempuan dengan komplimen keselamatan warga kota dan mobilitas berkelanjutan.

Esensi: Gotong Royong untuk Stop Kekerasan

Kampanye masif dirancang dengan penguatan komunikasi melalui media daring serta media massa untuk mengangkat isu hentikan kekerasan terhadap perempuan dari berbagai sudut pandang. Tim Eropa dan Tim Indonesia mengoptimalkan jejaringnya untuk menyuarakan kebersamaan menanggulangi fenomena gunung es yang terjadi terhadap perempuan di Indonesia.
Data BPS menyebutkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sepanjang 2025 rata-rata di atas 1000 kasus terjadi setiap bulannya. Januari 1.146 kasus, Februari 1.175 kasus, Maret 1.213 kasus, April 1.283 kasus, Mei 1.316, Juni 1.294, Juli 1.395, Agustus 1.314 sejalan dengan data GoodStats yang mencatat per 4 September 2025 jumlah perkara KDRT telah menembus 10.240 kasus.
Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mayoritas korban KDRT adalah perempuan sebagaimana dirilis laman ums.ac.id pada judul Kekerasan dalam Rumah Tangga yang Menyisakan Luka.
Adapun terhadap remaja, dari Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2020-2024 sekitar 83,62% kekerasan seksual mendominasi jenis kekerasan berbasis gender di lembaga pendidikan. Jumlah yang dilaporkan lebih sedikit daripada yang terjadi di lapangan.
Ketimpangan relasi kuasa yang kuat antara pelaku dan korban menjadi penyebabnya. Banyak korban juga memilih diam karena ada reputasi, faktor ekonomi dan hal lain yang membuat suara korban perempuan terbungkam.
Data di ranah digital pun makin mengkhawatirkan. Eksploitasi seksual anak yang dilaporkan Kementerian Komunikasi dan Digital di catatan 2024 menyebutkan Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dengan 1.450.403 kasus. Angka ini, lagi-lagi, fenomena gunung es. Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria dari laman komdigi.go.id menyebutkan bahwa perlindungan anak di ruang digital adalah isu publik yang mendesak.
Berbagai data yang terekam merupakan alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk lebih serius mengarus utama gerakan stop kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Laki-laki Penting Terlibat dalam Kampanye Stop Kekerasan

Keterlibatan aktif laki-laki dalam kampanye Stop Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak sangat penting. KDRT yang berujung perceraian, kekerasan di lembaga pendidikan terhadap siswa perempuan, eksploitasi seksual anak dari paparan digital, memerlukan laki-laki sebagai kelompok yang berpengaruh dalam keputusan.
Laki-laki adalah kunci untuk memutus budaya diam. Sistem nilai patriarki dan negara dengan mayoritas pemimpin laki-laki perlu empati lebih besar dari laki-laki itu sendiri, sehingga perubahan bisa dimulai dari menolak norma maskulinitas yang keliru. Laki-laki dan perempuan sejatinya menjadi teladan dalam membangun relasi yang setara dan tanpa kekerasan.
Kehadiran laki-laki secara aktif dalam kampanye ini memperkuat upaya menciptakan lingkungan yang aman, mendorong perubahan sosial, serta memastikan bahwa perlindungan perempuan dan anak menjadi tanggung jawab bersama. Gotong royong untuk hentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah isu kemanusiaan, bukan hanya isu perempuan.
Trending Now