Konten dari Pengguna
Sehari Setelah Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Siap Kendali?
6 Juni 2018 4:20 WIB
Diperbarui 14 Maret 2019 21:08 WIB

Kiriman Pengguna
Sehari Setelah Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Siap Kendali?
Hani H Sumarno
Tulisan dari Hani H Sumarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Putaran jam meninggalkan 5 Juni yang didapuk sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Interkoneksi warga global ke media sosial -- terutama yang beririsan dengan isu lingkungan -- sehari penuh dihangatkan dengan "the global game". Dari mulai anak-anak hingga senior pesohor internasional merekam selfie (foto/video) ajakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dengan tagar #BeatPlasticPollution. Ini tema yang dipancang UN Environment sebagai elemen pengikat yang mudah dicerna. Motornya adalah generasi milenial, yang super akrab dengan gadget, yang diharapkan jadi agen pengubah.
Mula Hari Lingkungan Hidup Sedunia PBB menyelenggarakan konferensi pertama tentang lingkungan hidup di Stockholm, Swedia 5-16 Juni 1972. Perhelatan ini menyusul kondisi kala itu: keresahan global mencuat akibat beragam problema lingkungan. Beberapa wilayah di Eropa digempur kabut asap. Jepang dihantam wabah penyakit Minamata. Pembangunan yang mengorbankan hutan -- pembakaran tak terkendali -- limbah industri merusak ekosistem, dan banyak lagi. Konferensi melahirkan 7 kesepakatan dan 26 prinsip yang dituangkan dalam Declaration of the United Nations Conference on the Human Environment. Konferensi pun menetapkan 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. http://www.un-documents.net/unchedec.htm
Indonesia mengutus Emil Salim dan mantap berlanjut menjadi negara yang selalu terkoneksi dengan UN Environment hingga hari ini. Dikutip dari pemberitaan Harian Kompas, 2 Juni 1972, Sekretaris Negara Soedharmono mengatakan bahwa Indonesia akan memperjuangkan agar negara-negara berkembang tidak menjadi korban keadaan lingkungan yang merugikan.
#BeatPlasticPollution: 'Hajar'= Kendalikan? Seribu alasan bisa direntang tentang alasan tema #BeatPlasticPollution untuk peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2018. Dari BBC News (19/4/2018) dilansir bahwa David Shukman, editor sains, melihat masalah sampah plastik di Indonesia sudah sedemikian akut. Militer turun tangan. Jauh beberapa bulan sebelumnya, pemuda kakak beradik Gary Bencheghib dan Sam Bencheghib mengabarkan pada dunia tentang betapa shock, sedih, marah sekaligus terbakar semangat kala berekspedisi #PlasticBottleCitarum pada Agustus 2017. Ini bukan kali pertama bagi mereka menyusur sungai terpapar polusi. Namun, jelas bisa dilihat dan disentuh, di Citarum benda-benda sampah plastik nyata dalam volume besar. Beberapa ruas diantaranya bahkan tertutup sampah plastik yang tak mudah terurai ini, hingga ke badan sungai. Suara protes warga lokal (Indonesia) atas kondisi menahun sampah plastik yang mengancam ekosistem sungai, tak lagi bertaji. Tak tampak tanda-tanda pemerintah melakukan perbaikan yang mengubah signifikan. Sampai kemudian duo bule Gary dan Sam, menjadi story teller tentang betapa memilukan kondisi sungai pemasok 82% air baku untuk Jakarta tersebut.
Dari sumber lingkunganhidup.co disebutkan InSWA, Indonesia Solid Waste Association bahwa berat sampah plastik Indonesia 5,4 juta ton pertahun. Informasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di sumber yang sama tahun 2016 disebutkan dari 100 toko anggota APRINDO, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, dihasilkan sampah plastik 10,95 juta lembar pertahun. Kalau dibentang setara 60 lapangan bola pertahunnya. Separah ini, sudah pantas polusi plastik dilawan dengan regulasi-regulasi yang keras dan frekuensi kontrol yang intensif. Namun kalimat#BeatPlasticPollution yang terasosiasi tegas, keras -- paling pas menerjemahkannya menjadi 'hajar' polusi plastik -- bagi Indonesia menjadi "kendalikan". Kondisi darurat sampah plastik, belum cukup menarik bagi para pengambil keputusan untuk 'hajar'. Bisa jadi, perangkat dan regulasi untuk melakukan pendidikan keras yang membuat jera kontributor polusi plastik ala 'hajar', belum cukup memadai. Jalan Tengah Membangun komunikasi antar warga dunia dengan ajakan-ajakan simpatik adalah jalan tengah. Meski bukan terbaik untuk situasi yang terbilang kritis akan kondisi polusi plastik, setidaknya cara ini bisa mengubah cara pandang. Plastik sekali pakai dicoba keras untuk dihindari. Kalaupun terpaksa dipilih, dipastikan paham kemana ujungnya berakhir. Plastik juga bukan sampah untuk dibuang ke landfill (tempat pembuangan akhir). Melainkan, plastik adalah material yang musti menemukan jalannya untuk didaur ulang.

