Konten dari Pengguna

Bertahan di Tengah Ketidakpastian: Menjaga Kesehatan Mental di Era Ekonomi Sulit

Hanifah
Psikolog Klinis, Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran
12 Agustus 2025 13:17 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bertahan di Tengah Ketidakpastian: Menjaga Kesehatan Mental di Era Ekonomi Sulit
Bertahan di Tengah Ketidakpastian: Menjaga Kesehatan Mental di Era Ekonomi Sulit, bagaimana cara menghadapinya?
Hanifah
Tulisan dari Hanifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi perempuan memprioritaskan kesehatan mental. Foto: SewCreamStudio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan memprioritaskan kesehatan mental. Foto: SewCreamStudio/Shutterstock
Kesehatan mental adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia yang kerap diabaikan ketika berbicara soal krisis ekonomi. Ketidakjelasan kondisi negara — mulai dari terbatasnya lapangan kerja, upah di bawah Upah Minimum Regional (UMR), kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, hingga polemik honor guru dan dosen — bukan hanya berdampak pada dompet, tetapi juga pada pikiran, emosi, dan motivasi hidup masyarakat.
Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental tidak hanya berarti bebas dari gangguan jiwa, tetapi juga mencakup kemampuan seseorang untuk mengelola stres, bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada komunitasnya. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, tekanan hidup bisa meningkat tajam dan memicu berbagai masalah mental seperti kecemasan, depresi, hingga burnout.
Artikel ini akan membahas secara ringkas namun mendalam bagaimana situasi ketidakpastian ekonomi dan sosial di Indonesia memengaruhi kesehatan mental, serta strategi apa saja yang dapat dilakukan untuk menghadapinya.

Gambaran Ketidakpastian Lapangan Kerja dan Upah di Bawah UMR

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 mencapai 7,28 juta orang, bertambah 83.450 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini dapat dilihat dari berbagai situasi, seperti lapangan kerja yang tersedia sering kali bersifat kontrak pendek, tidak memiliki jaminan sosial, dan rawan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Banyak pekerja di sektor informal seperti ojek daring, pekerja lepas, dan buruh harian, yang tidak memiliki perlindungan hukum dan kesejahteraan memadai. Situasi ini sejalan dengan teori social causation, yang menyatakan bahwa status sosial ekonomi rendah meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental karena keterbatasan sumber daya dan ketidakamanan pekerjaan.
Data International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa di Indonesia, rata-rata gaji pekerja berada pada kisaran Rp 3,04 juta per bulan, yang bagi sebagian wilayah masih berada di bawah UMR setempat. Pekerja dengan upah rendah menghadapi tekanan psikologis yang tinggi — kekhawatiran membayar kebutuhan pokok, biaya pendidikan anak, dan biaya kesehatan.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan kesulitan finansial kronis di tengah melambung tingginya kebutuhan hidup saat ini. Stres kronis yang tidak terselesaikan akan berdampak pada berbagai macam hal, seperti kesehatan fisik, psikologis, fungsi kognitif, daya ingat, dan bahkan kesejahteraan hidup seseorang secara umum.

Karakteristik Pekerja Upah Rendah

Melihat fenomena ini, kita bisa mengelompokkan mengenai siapa saja kelompok pekerja upah rendah di Indonesia. Beberapa kelompok mayoritas yang berisiko mendapatkan upah rendah di antaranya adalah: usia muda (gen z dan milenial awal) di mana mereka masih merintis karier, perempuan, pekerja paruh waktu, dan tidak memiliki kontrak formal atau perlindungan sosial dari pemberi kerja. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap ketidakpastian dan sulit mengakses fasilitas kesehatan, termasuk layanan kesehatan mental.

Dampak Stres pada Kesehatan Fisik dan Mental

Di dunia kerja, dikenal istilah job strain, yaitu merujuk pada rendahnya kesejahteraan yang dimiliki oleh karyawan di suatu perusahaan yang membuatnya merasa tidak puas akan pekerjaan, rentan terjadinya turn over pekerjaan, dan bahkan melakukan job hopping. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, misalnya tuntutan pekerjaan sangat tinggi, tetapi pekerja memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki kendali atas cara mereka menyelesaikan tugas. Ketidakseimbangan antara beban kerja dan kontrol ini terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental. Dampak fisiknya meliputi hipertensi, penyakit jantung koroner, dan gangguan tidur yang kronis. Sementara dari sisi psikologis, kondisi ini dapat memicu stres berkepanjangan yang berujung pada depresi klinis. Semakin tinggi tingkat stres suatu pekerjaan, maka semakin rendah tingkat kepuasan hidup, baik dari aspek pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Akses Layanan Kesehatan Mental yang Terbatas

Meskipun risiko beban gangguan mental sangat berat, di Indonesia sendiri hanya mengalokasikan sekitar 1–2% anggaran kesehatan untuk kesehatan mental, sebagian besar digunakan untuk operasional rumah sakit, bukan untuk layanan berbasis komunitas. Jumlah psikiater dan psikolog klinis pun masih sangat terbatas, dan sebagian besar terkonsentrasi di kota besar.
Di daerah terpencil, pasien sering kali harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk mendapatkan layanan kesehatan mental. Hambatan geografis ini memperburuk situasi, terutama bagi kelompok rentan yang tidak memiliki biaya transportasi.
Selain faktor akses, stigma juga menjadi penghalang utama. Banyak orang masih menganggap gangguan mental sebagai kelemahan pribadi atau aib keluarga, sehingga enggan mencari bantuan profesional. Padahal, stigma seperti ini dapat memperlambat diagnosis dini dan mengurangi efektivitas intervensi psikologi yang dilakukan bagi pasien.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi stres di era ketidakpastian seperti saat ini?

Ada beberapa upaya yang perlu kita lakukan, baik itu strategi manajemen stres secara individu, berbasis komunitas, maupun penyesuaian kebijakan dari pemangku kepentingan di pemerintah.

1. Upaya yang dapat dilakukan secara individu untuk menghadapi stres

Melatih teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi, atau yoga dapat membantu tubuh dan pikiran mengurangi respons stres. Latihan pernapasan dalam misalnya, memicu sistem saraf parasimpatik untuk menurunkan detak jantung dan tekanan darah. Meditasi dan yoga juga terbukti secara ilmiah membantu mengurangi kecemasan, meningkatkan fokus, serta menumbuhkan rasa tenang meski berada di tengah situasi penuh ketidakpastian.
Membangun hubungan yang kuat dengan keluarga, teman, atau komunitas adalah salah satu faktor pelindung (protective factor) terbesar terhadap stres. Dukungan emosional dari orang terdekat dapat memberikan rasa aman dan mengurangi perasaan terisolasi. Keterlibatan aktif dalam kegiatan komunitas, seperti kelompok hobi atau organisasi sosial, juga dapat memberikan rasa memiliki dan tujuan yang jelas.
Ketika stres terasa berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau konselor menjadi langkah yang tepat. Terapi berbasis bukti (evidence-based therapy), seperti cognitive behavioral therapy (CBT), dapat membantu mengubah pola pikir negatif yang memicu stres. Mengakses bantuan sejak dini juga mencegah masalah berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat.

2. Upaya yang dapat dilakukan di tingkat komunitas

Edukasi publik sangat penting untuk mengenali tanda-tanda stres dan memahami strategi mengatasinya. Program literasi ini bisa dilakukan melalui seminar, pelatihan di sekolah atau tempat kerja, kampanye media sosial, hingga penyuluhan di puskesmas. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat dapat mendeteksi gejala stres pada diri sendiri maupun orang lain, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat.
Membentuk support group di lingkungan komunitas memungkinkan individu yang mengalami masalah serupa saling berbagi pengalaman dan solusi. Misalnya, kelompok dukungan untuk guru honorer, tenaga kesehatan, atau pekerja sektor informal dapat menjadi tempat aman untuk bertukar cerita dan belajar strategi mengatasi tantangan. Studi menunjukkan bahwa dukungan sebaya (peer support) dapat menurunkan stres dan meningkatkan motivasi menghadapi kesulitan.

3. Tingkat Kebijakan dan Regulasi di Pemerintah

Memperluas perlindungan bagi pekerja informal sangat penting, mengingat jumlah mereka di Indonesia sangat besar. Perlindungan ini dapat berupa asuransi kesehatan, jaminan hari tua, atau bantuan pendapatan saat kehilangan pekerjaan. Dengan adanya jaring pengaman sosial, risiko stres akibat kekhawatiran finansial dapat ditekan.
Penegakan aturan UMR harus dilakukan secara konsisten, disertai pengawasan ketat terhadap perusahaan yang melanggar. Pemerintah juga dapat memberikan insentif bagi perusahaan yang tidak hanya mematuhi UMR, tetapi juga menyediakan tunjangan kesejahteraan tambahan. Upah yang layak tidak hanya meningkatkan taraf hidup, tetapi juga memberikan rasa aman psikologis bagi pekerja.
Meningkatkan porsi anggaran kesehatan mental adalah investasi jangka panjang bagi produktivitas nasional. Pemerataan layanan sangat penting agar masyarakat di daerah terpencil juga memiliki akses yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun pusat layanan kesehatan mental berbasis komunitas, memperbanyak tenaga profesional, dan memanfaatkan teknologi seperti telekonseling untuk menjangkau wilayah sulit akses.

Kesimpulan

Ketidakjelasan kondisi negara — mulai dari lapangan kerja terbatas, upah rendah, honor guru dan dosen, hingga kesenjangan akses — adalah tantangan besar bagi kesehatan mental masyarakat. Tanpa intervensi yang tepat, masalah ini dapat menimbulkan efek jangka panjang pada produktivitas dan kesejahteraan bangsa.
Menghadapi situasi ini membutuhkan kerja sama semua pihak: individu yang menjaga kesehatan mentalnya, komunitas yang saling mendukung, dan pemerintah yang memastikan kebijakan pro-kesejahteraan dijalankan.
Seperti pepatah lama, “Kita tidak bisa mengendalikan arah angin, tetapi kita bisa menyesuaikan layar perahu.” Dalam badai ketidakpastian ini, menjaga kesehatan mental adalah salah satu cara terbaik untuk tetap tegak dan melangkah ke depan.
Trending Now