Konten dari Pengguna

Hati yang Tulus dari Nabi Muhammad Saw

Mara Ongku Hsb
Dosen Studi Islam di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Guru Pancasila di SMP Widya Graha Pekanbaru
14 September 2025 16:38 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hati yang Tulus dari Nabi Muhammad Saw
Rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad Saw hari ini hendaklah ditingkatkan bahkan diatas keluarga yang kita cintai
Mara Ongku Hsb
Tulisan dari Mara Ongku Hsb tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: (Gradient illustration for mawlid al-nabi celebration)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: (Gradient illustration for mawlid al-nabi celebration)
kebiasaan manusia kalau memberi kepada seseorang atau membantu seseorang pasti ada secuil dalam hatinya berharap ingin dibalas kebaikan yang ia pernah buat, semacam feedback kah itu namanya.
Bahkan tidak jarang meminta dibalas kalau tidak dibalas kebaikan itu pun akan terhenti cukup sampai disitu saja, lebih dari itu ia pun mulai membenci dan mengenalinya cukup sekali sampai disitu ia akan menutup pintu interaksi dengan orang yang tidak mau membalas kebaikannya. Pantas ada kata orang sekali salah di hadapan manusia maka 99 kebaikan akan lenyap sudah dari yang 100 kebaikan.
Tetapi yang ini adalah al-Basyar La ka al-Basyar ( manusia bukan seperti manusia biasa) itulah pribadi agung Nabi Muhammad Saw yang tidak boleh kita samakan dengan kita sebagai manusia biasa itulah keistimewaan dan sudah menjadi pilihan Allah SWT sebagai khataman Nabiyin. ( penutup para Nabi) dan Imam al-Rasul (imam bagi para Rasul).
Ketulusan Nabi tercermin dalam surah al-Taubah [9] : 128, sebagai berikut :
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.( Q.S. al-Taubah [9] : 128)
Kalimat dari laqad merupakan taukid yang menguatkan tentang kepribadian Rasulullah Saw yang mesti diteladani, diutusnya Rasul adalah sebagai karunia kepada orang-orang mukmin dari diri mereka atau golongan dan keturunan serta bahasa mereka. Nabi Saw sendiri berasal dari bangsa Arab. (Tafsir al-Munir hlm. 103)
Sifat ketulusan dari Rasulullah Saw turun dari ayat diatas adalah sebagai berikut : pertama, aziz alaihi ma anittum ( merasakan betapa beratnya penderitaan umat), adakah pemimpin hari ini yang mau meneladani sifat yang tulus Nabi Saw ini, kalaulah pemimpin mau meniru keteladanan Nabi ini akan bersatu, berdaulat, makmurlah negeri ini sebagaimana ruh dari alinea ketiga pembukaan UUD 1945. Selain pemimpin negara, pemimpin di bawah yang tertinggi pun gubernur, bupati, camat, direktur, rektor, kepala sekolah, ketua organisasi hendaknya mau mengikuti jejak Nabi Saw diatas dimana seorang pemimpin merasakan penderitaan warga, rakyatnya, anggota dan maupun karyawan di dunia kerja.
Kedua, harisun alaikum bilmukminin ( Dia Nabi Saw menginginkan agar umatnya beriman), semua Nabi tidak ingin umatnya masuk kedalam neraka tanpa beriman, apalagi Nabi Saw bahkan sampai akhir hayatnya yang ia pikirkan adalah umati, umati, umati, umatku kata Rasulullah Saw bukan istrinya Khadijah, Aisyah, yang dipanggil Nabi melainkan umatku, karena Nabi Saw sangat berharap kelak di hari kiamat nanti lebih banyak umatku dari umat yang lain. Apakah kita memikirkan ini maukah kita mengikuti perbuatan Nabi dalam aktifitas sehari-hari,
Ketiga, rauf al-rahim ( pemaaf, penyayang), Nabi Saw adalah sosok pemimpin yang sangat pemaaf dan penyayang sekalipun umat dan warganya menghinanya, ini adalah ketulusan yang sangat dalam sudah langka mencari manusia-manusia yang mempunyai sifat tersebut apabila dihina tidak membalas balik, bahkan tidak puas dan senang kalau belum terbalas.
Kasih sayang Nabi Muhammad Saw bukan hanya kepada yang muslim akan tetapi juga kepada yang non muslim, kita bisa melihat dari sejarah kisah Yahudi Buta yang selalu Nabi menyuapi makanan kepadanya setiap hari, suatu hari Yahudi Buta merasakan perbedaan tidak sama cara pemberiannya kepada beliau, rupanya ia tak sadar yang lemah lembut memberikan ia suapan itu adalah Nabi Muhammad Saw yang ia jelek-jelekkan setelah ia tahu yang membantunya setiap hari adalah Nabi Muhamamd Saw ia menangis dan merasa menyesal sehingga ia memeluk Islam itu sendiri.
Rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad Saw hari ini hendaklah ditingkatkan bahkan diatas keluarga yang kita cintai, karena kalau dia membelakangi Rasulullah mengedepankan keluarganya tentulah ia akan berbuat semena-mena terhadap keluarga tanpa memperhatikan ajaran Nabi Saw dalam bidang keluarga misalnya, karena itulah tidak ada alasan tidak mencintai Nabi Saw ketulusannya sungguh indah dan sempurna bagi kita.[]
Trending Now