Konten dari Pengguna
Industri 'Healing' yang Menjamur: Benarkah Menyembuhkan atau Cuma FOMO Berbayar?
8 Oktober 2025 18:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Industri 'Healing' yang Menjamur: Benarkah Menyembuhkan atau Cuma FOMO Berbayar?
Menjamurnya industri healing menawarkan banyak solusi ketenangan. Namun, apakah retreat mahal dan produk wellness benar-benar menyembuhkan, atau sekadar tren FOMO berbayar? Simak analisis mendalamnya.Deni Rusviana
Tulisan dari Deni Rusviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

'Healing' telah menjadi kata sakti bagi generasi yang lelah. Dulu, istilah ini mungkin identik dengan proses pemulihan psikologis yang mendalam. Kini, 'healing' telah berevolusi menjadi sebuah industri masif yang menawarkan berbagai produk dan jasa, mulai dari wellness retreat di Bali, sesi sound bath, hingga lilin aromaterapi yang menjanjikan ketenangan.
Namun, di tengah maraknya komodifikasi ini, muncul sebuah pertanyaan fundamental: Apakah industri healing ini benar-benar menyembuhkan, atau kita hanya terjebak dalam sebuah tren mahal yang didorong oleh FOMO (Fear of Missing Out)?
1. Komodifikasi Ketenangan Batin: Dari Curhat Menjadi 'Check Out'
Pergeseran paling signifikan adalah berubahnya paradigma dari proses menjadi produk. Jika dulu penyembuhan luka batin identik dengan proses non-material seperti curhat dengan teman, introspeksi, atau beribadah, kini ia dikemas dalam bentuk yang bisa dibeli. Ketenangan pikiran kini memiliki label harga.
Industri healing secara cerdas mengubah kebutuhan abstrak akan kedamaian menjadi keinginan konkret untuk memiliki atau merasakan sesuatu, entah itu pengalaman di lokasi eksotis atau produk-produk estetik yang mengisi kamar kita.
2. Peran Media Sosial dalam Menciptakan 'Healing Estetik'
Media sosial adalah bahan bakar utama yang membesarkan industri healing. Platform seperti Instagram dan TikTok telah menciptakan sebuah standar tak tertulis tentang bagaimana 'healing' yang benar itu seharusnya terlihat: estetik, tenang, dan tentu saja, Instagramable.
Foto-foto yoga sunrise, jurnal dengan tulisan tangan rapi, dan smoothie bowl yang cantik menciptakan sebuah narasi bahwa proses penyembuhan haruslah indah. Tekanan untuk menampilkan proses 'healing' yang sempurna ini justru bisa menciptakan kecemasan baru, sebuah paradoks yang ironis.
3. Jebakan Psikologis 'Quick Fix' dan Solusi Instan
Di tengah kehidupan yang serba cepat, industri healing menawarkan janji yang sangat menggiurkan: solusi instan untuk masalah yang kompleks. Mereka menjual gagasan bahwa satu sesi meditasi berbayar atau satu akhir pekan di retreat bisa menyelesaikan masalah burnout yang sudah menumpuk bertahun-tahun.
Ini adalah jebakan psikologis yang berbahaya. Penyembuhan sejati adalah proses yang lambat, tidak nyaman, dan sering kali tidak linear. Mengandalkan 'quick fix' berbayar bisa menghalangi seseorang untuk melakukan pekerjaan internal yang lebih sulit namun lebih fundamental.
4. Garis Tipis Antara 'Wellness' dan Pseudosains
Tidak semua produk dan layanan dalam industri healing memiliki landasan ilmiah yang kuat. Banyak di antaranya yang berada di area abu-abu antara wellness dan pseudosains (sains semu). Praktik seperti penyembuhan dengan kristal atau terapi energi mungkin memberikan efek plasebo atau rasa nyaman bagi sebagian orang, namun memasarkannya sebagai solusi definitif untuk masalah kesehatan mental bisa menyesatkan dan menunda seseorang untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.
5. Menemukan Kembali Esensi 'Healing' yang Otentik
Ini bukan berarti semua produk wellness itu buruk. Kuncinya adalah niat dan kesadaran. Sebelum memutuskan untuk membeli "paket healing" yang mahal, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau saya hanya merasa harus melakukannya karena semua orang melakukannya?".
Sering kali, 'healing' yang paling manjur justru yang tidak memerlukan biaya: tidur yang cukup, berjalan kaki di alam terbuka, memutus hubungan dengan media sosial, dan membangun koneksi yang tulus dengan orang terdekat.

