Konten dari Pengguna

Lima "Dosa" Manis di Internet Jadul yang Kini Mustahil Terulang

Deni Rusviana
Penulis di beberapa platform online tentang artikel analisis, novel, dan cerpen. Lulusan Strata 1 (S1) STMIK Tasikmalaya di bidang Teknologi Informasi (TI) yang pernah menjadi Guru Honorer di beberapa SMK di Kota Banjar, Jawa Barat.
4 Oktober 2025 6:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Lima "Dosa" Manis di Internet Jadul yang Kini Mustahil Terulang
Ingat zaman Friendster penuh glitter dan ngemis testi? Ini lima "dosa" manis di internet jadul yang kini mustahil terulang dan bikin kangen. Kamu paling sering lakuin yang mana? #userstory
Deni Rusviana
Tulisan dari Deni Rusviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kenangan menggunakan internet jadul di komputer lama. Photo by Senad Palic on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Kenangan menggunakan internet jadul di komputer lama. Photo by Senad Palic on Unsplash
Ada sebuah kerinduan aneh pada internet di masa lalu. Bukan pada koneksi dial-up yang berisik atau kecepatan loading yang menguji kesabaran, melainkan pada suasananya. Internet jadul terasa seperti sebuah kota kecil yang sedikit kacau, di mana semua orang masih belajar etiket digital. Kita bebas berekspresi, canggung, dan kadang "norak", tanpa takut jejak digital itu akan menghantui kita selamanya. Kini, saat internet telah menjadi panggung besar yang menuntut kesempurnaan, mari kita kenang kembali "dosa-dosa" manis yang pernah kita lakukan, sebuah ritual polos yang mustahil terulang di era sekarang.

Dosa Mengemis dan Memalsukan Testimonial Friendster

Di puncak kekuasaan Friendster, testimonial adalah mata uang sosial. Kita tidak segan mengirim pesan massal berbunyi, "Eh, isiin testi gue dong, yang bagus ya!". Puncaknya adalah saat kita dan teman sebangku saling bertukar password hanya untuk menulis pujian setinggi langit bagi diri sendiri di akun teman. "Dia baik banget, setia kawan, lucu, pokoknya sahabat terbaik!" Sebuah kebohongan kecil yang terasa begitu membahagiakan, sebuah validasi naif yang kini telah digantikan oleh likes dan engagement rate yang dingin dan terukur.
Testimonial atau Comment Friendster. Photo by Markus Winkler Pexels

Dosa Merusak Mata dengan Layout Penuh Glitter dan Musik Otomatis

Siapa yang tidak ingat dengan profil Friendster atau MySpace yang "lebih rame dari pasar malam"? Mengganti cursor menjadi sapu terbang Harry Potter, memasang latar belakang glitter yang berkelip menyakitkan mata, dan yang paling fenomenal,memasang lagu "emo galau" yang berputar otomatis setiap kali ada yang mengunjungi profil kita. Itu adalah kanvas digital kita, sebuah ekspresi diri yang mentah dan tanpa filter. Hari ini, tindakan seperti itu dianggap sebagai kejahatan desain UI/UX. Kita lebih memilih estetika minimalis yang rapi, menukar keunikan yang kacau dengan keseragaman yang nyaman.
Glitter. Photo by NEOSiAM 2024+Pexels

Dosa Menggunakan Bahasa "Alay" sebagai Kode Rahasia

"DuH, aQ G4L4uW B6T d3cH..." Tulisan seperti ini bukan sekadar tren, tapi sebuah subkultur. Menggabungkan huruf besar-kecil, angka, dan simbol adalah cara kita menciptakan identitas digital yang unik sekaligus menjadi semacam kode rahasia yang hanya dimengerti oleh sesama "penghuni" zamannya. Status-status puitis nan dramatis di Plurk atau status Facebook awal adalah bukti otentik dari gejolak emosi remaja kita. Kini, tekanan untuk menjadi profesional dan artikulatif membuat kita lebih memilih menggunakan PUEBI yang baik dan benar, seolah-olah setiap status adalah bagian dari CV digital kita.

Dosa Menumpahkan Isi Hati di Blog Pribadi

Sebelum era microblogging, kita punya blog di Blogspot atau LiveJournal. Blog adalah buku harian digital kita, tempat kita menumpahkan segala keluh kesah, mulai dari patah hati karena ditolak cinta monyet hingga kritik pedas terhadap guru. Kita menulis dengan jujur, tanpa berpikir bahwa tulisan itu akan dibaca oleh calon perekrut kerja 15 tahun kemudian. Oversharing di masa itu adalah sebuah katarsis, sebuah terapi. Sekarang, kita lebih banyak melakukan personal branding, membagikan pencapaian, bukan lagi kegagalan atau keresahan mentah.
Personal Blog. Photo by Ivan Samkov Pexels

Dosa Menjadi "Orang Lain" di mIRC dan Forum

Dunia anonim mIRC, Yahoo! Messenger, atau forum-forum awal adalah tempat kita bereksperimen dengan identitas. Kita bisa menjadi siapa saja dibalik nickname yang keren. Di sanalah kita belajar berdebat, merayu, atau sekadar berbincang dengan orang asing dari kota lain tentang topik yang tak pernah kita bahas di dunia nyata.
Ada rasa penasaran dan kepolosan di dalamnya. Hari ini, anonimitas sering kali diasosiasikan dengan hal negatif dan interaksi dengan orang asing di internet dipenuhi dengan kecurigaan, bukan lagi rasa ingin tahu.
"Dosa-dosa" tersebut adalah bagian dari kemewahan generasi digital pertama: kemewahan untuk bereksperimen, membuat kesalahan, dan menjadi canggung di ruang publik tanpa konsekuensi jangka panjang. Kala itu, internet adalah tempat bermain. Namun kini, ia lebih terasa seperti tempat bekerja.
Trending Now