Konten dari Pengguna
Salah Jurusan atau Salah Ekspektasi? Akar Masalah Karier Bingung Gen Z
30 September 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Salah Jurusan atau Salah Ekspektasi? Akar Masalah Karier Bingung Gen Z
Merasa salah jurusan? Simak analisis mengapa ekspektasi keliru jadi akar masalah kebingungan karier Gen Z dan cara menghadapinya.Deni Rusviana
Tulisan dari Deni Rusviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan skenario ini: seorang sarjana baru lulus, penuh harapan. Namun, saat memasuki gerbang dunia kerja, realitas menyambutnya. Fenomena ini bukan lagi sekadar keluhan personal, melainkan keresahan kolektif yang mendefinisikan tantangan karier Gen Z saat ini: "Apakah saya salah jurusan?"
Fenomena ini bukan lagi sekadar keluhan personal, melainkan sudah menjadi keresahan kolektif bagi banyak anak muda di Indonesia, khususnya Generasi Z. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan akses informasi tak terbatas, namun ironisnya, juga menjadi generasi yang paling sering merasa tersesat dalam peta karier mereka sendiri.
Pertanyaannya, apakah masalahnya benar-benar sesederhana "salah jurusan"? Atau ada akar masalah lain yang lebih dalam, yaitu "salah ekspektasi"?
Mitos "Salah Jurusan" yang Terlalu Disederhanakan
Menyalahkan pilihan jurusan saat kuliah adalah kambing hitam yang paling mudah ditemukan. Banyak yang berpikir, "Andai saja dulu saya masuk jurusan IT," atau "Seandainya saya tidak memilih jurusan ini, pasti nasib saya lebih baik." Anggapan ini memang ada benarnya, terutama jika melihat data permintaan tenaga kerja di sektor-sektor tertentu yang terus meroket.
Namun, menumpukan seluruh masalah pada ijazah adalah pandangan yang kurang tepat. Faktanya, dunia kerja modern jauh lebih cair. Banyak profesional sukses yang bekerja di bidang yang sama sekali berbeda dari latar belakang pendidikannya. Seorang lulusan Sastra bisa menjadi Digital Marketer andal, sarjana Filsafat menjadi UX Writer yang dicari, dan lulusan Hubungan Internasional sukses membangun startup di bidang agrikultur.
Ijazah kini lebih berfungsi sebagai "tiket masuk" awal, bukan penentu takdir karier seumur hidup. Ia membuktikan kemampuan seseorang untuk belajar, berkomitmen, dan menyelesaikan sebuah proyek jangka panjang. Jadi, jika masalahnya bukan melulu soal jurusan, lantas apa yang membuat kebingungan ini begitu masif?
Akar Masalahnya Bukan di Ijazah, tapi di Ekspektasi
Kebingungan karier yang dialami Gen Z sering kali lahir dari jurang yang menganga antara ekspektasi yang dibangun selama ini dengan realitas yang mereka hadapi. Setidaknya ada tiga ekspektasi utama yang berkontribusi pada krisis ini:
1. Ekspektasi "Bekerja Harus Sesuai Passion"
Generasi Z dibesarkan dengan mantra "lakukan apa yang kamu cintai, maka kamu tidak akan merasa bekerja sehari pun." Nasihat ini, meskipun niatnya baik, menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa. Mereka jadi percaya bahwa pekerjaan ideal adalah pekerjaan yang 100% selaras dengan hobi dan minat terdalam.
Realitanya, tidak semua passion bisa diuangkan dengan mudah. Lebih jauh lagi, pekerjaan, bahkan yang paling menyenangkan sekalipun, akan selalu memiliki elemen rutinitas, tekanan, dan kebosanan. Ketika ekspektasi ini berbenturan dengan kenyataan, lahirlah kekecewaan dan perasaan "seharusnya saya tidak di sini."
2. Ekspektasi yang Dibentuk Panggung Media Sosial
Platform seperti LinkedIn dan Instagram adalah panggung kesuksesan digital. Di sana, semua orang tampak hebat: merayakan promosi, bekerja di kantor dengan fasilitas impian, atau menjadi freelancer sukses yang bisa bekerja dari Bali. Paparan konstan terhadap versi terbaik dari kehidupan karier orang lain ini secara tidak sadar membentuk standar yang tidak realistis.
Akibatnya, ketika pekerjaan pertama mereka hanya diisi dengan tugas-tugas administratif atau gaji yang pas-pasan, mereka langsung merasa gagal dan tertinggal. Mereka membandingkan "bab satu" karier mereka dengan "bab sepuluh" karier orang lain.
3. Ekspektasi Bahwa Kampus Menyiapkan Segalanya
Banyak mahasiswa berharap kurikulum kampus akan membekali mereka dengan semua keahlian yang dibutuhkan dunia kerja. Kenyataannya, perubahan di dunia kerja bergerak jauh lebih cepat daripada pembaruan kurikulum. Ada kesenjangan (gap) yang signifikan antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik dan tools yang digunakan di dunia profesional. Lulusan mungkin paham konsep, tapi gagap saat dihadapkan pada perangkat lunak atau metodologi kerja yang spesifik.
Dampak Nyata pada Karier Gen Z: Lahirnya Generasi 'Kutu Loncat'
Kombinasi dari kebingungan dan kekecewaan ini melahirkan sebuah tren yang sering kita dengar: generasi "kutu loncat" atau job hopper. Pindah kerja dalam waktu singkat bukan lagi hal tabu, melainkan menjadi strategi bertahan hidup untuk menemukan tempat yang "tepat".
Fenomena ini adalah cerminan dari sebuah pencarian identitas profesional yang belum usai. Mereka tidak malas atau tidak loyal, melainkan sedang berusaha keras mencocokkan kepingan puzzle antara apa yang mereka bisa, apa yang mereka inginkan, dan apa yang dunia kerja tawarkan.
Lalu, Bagaimana Seharusnya Bersikap?
Pada akhirnya, kebingungan ini adalah bagian tak terhindarkan dari proses pendewasaan. Daripada terus-menerus meratapi "salah jurusan", mungkin sudah saatnya mengubah perspektif.
Anggaplah gelar sarjana sebagai fondasi awal, bukan sebagai bangunan yang sudah jadi. Dunia kerja adalah tempat untuk terus belajar, beradaptasi, dan membangun keahlian baru di atas fondasi tersebut. Mengurangi ekspektasi bahwa pekerjaan pertama harus menjadi pekerjaan impian juga penting. Terkadang, pekerjaan "cukup baik" yang bisa membayar tagihan dan memberikan ruang untuk belajar sudah merupakan sebuah awal yang bagus.
Bagi Gen Z, perjalanan karier mungkin tidak akan lurus seperti jalan tol, melainkan lebih mirip jalur penjelajahan dengan banyak persimpangan. Dan mungkin, justru di situlah letak keseruannya.

