Konten dari Pengguna

Biennale Jogja 2025: Seni Memang Perlu Dirayakan oleh Siapapun

Hidayat Adhiningrat
Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
12 November 2025 12:20 WIB
·
waktu baca 11 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Biennale Jogja 2025: Seni Memang Perlu Dirayakan oleh Siapapun
Biennale Jogja 2025 "KAWRUH: Tanah Lelaku" rayakan seni inklusif di 11 lokasi Yogyakarta. Dari video transgender Posak Jodian hingga instalasi Mia Bustam, seni lahir dari pengetahuan kolektif warga.
Hidayat Adhiningrat
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Komunitas transgender Yogyakarta menyaksikan video Misafafahiyan - Teman dari Jauh di Biennale Jogja 2025 (Dok. Hidayat Adhiningrat)
zoom-in-whitePerbesar
Komunitas transgender Yogyakarta menyaksikan video Misafafahiyan - Teman dari Jauh di Biennale Jogja 2025 (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Hujan deras mengguyur wilayah Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Sore itu, 6 November 2025, udara panas yang menyelimuti Toko Purnama perlahan sirna bersama rintik air dari langit, digantikan hembusan angin sejuk menyegarkan. Sejak sebulan lalu, bangunan ini telah disulap menjadi venue perhelatan Biennale Jogja 2025 babak kedua. Lantai dua yang masih berpasir didaulat sebagai ruang pamer. Karya-karya para perupa mejeng di gedung setengah jadi.
Alia Swastika, Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, muncul dari balik tangga, menyapa hangat para relawan yang menjaga lokasi pameran. Di sela obrolan ringan, ia menoleh ke arah saya, bertanya kabar, dan menjelaskan maksud kedatangannya. “Sudah dari tadi, Mas? Nanti ada teman-teman transgender mau nonton karya Posak Jodian. Itu kan teman-teman mereka yang ada di video. Orangnya sendiri malah belum pernah nonton,” ujarnya ramah sambil tersenyum lebar.
Tak lama, dari tangga yang sama, beberapa anggota komunitas transgender tiba. Salah satunya adalah penampil dalam karya video Misafafahiyan - Teman dari Jauh. Mereka langsung menuju sudut pameran tempat karya diproyeksikan, duduk lesehan di atas karpet. Karya instalasi video ini dibatasi tirai berwarna merah jambu lembut. Di dalamnya terpajang miniatur ruang rias lengkap dengan sebuah wig. Dua pengeras suara berbeda ukuran tersimpan di sisi televisi layar datar berukuran besar.
Di layar, video mempertemukan para penampil transgender lokal (Mami Tata dan Ibu Sinta) dengan Haohao, seorang penampil transgender Amis dari Taiwan. Menggunakan lagu karaoke sebagai jembatan, mereka saling berbagi cerita dan perasaan pribadi. Pertemuan ini tak hanya terjadi lewat nyanyian dan penampilan, tetapi juga melalui musik populer, suasana salon kecantikan, serta tekstur kehidupan sehari-hari, mencerminkan bagaimana setiap individu membentuk dan mendefinisikan ruangnya masing-masing.
Instalasi miniatur ruang rias karya Posak Jodian (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Percakapan ringan yang diselingi tawa renyah mengisi diskusi informal sore itu. Sangat menarik menyaksikan para penonton, terutama sang penampil, melihat dirinya sendiri untuk pertama kali di layar televisi. Beragam kisah di balik pembuatan video mengalir dari mulutnya, penuh semangat dan kehangatan. Tatkala layar menampilkan Mami Tata, Ibu Sinta, dan Haohao bernyanyi karaoke sambil menari lincah di ruang publik Yogyakarta, suasana langsung riuh. Satu pertanyaan menggelitik pun mengemuka: bagaimana respons warga sekitar saat melihat mereka menari begitu bebas? “Ah, kita sih pede aja. Lagi syuting kok,” jawabnya bangga, disertai tawa ceria yang menular.
Sebagai pusat budaya dan pertunjukan utama di Indonesia, Yogyakarta telah lama memupuk visibilitas serta keragaman ekspresi komunitas transgender. Kota ini menciptakan lanskap budaya yang marjinal sekaligus semarak. Dalam karya Posak, tubuh queer tak lagi diposisikan sebagai korban atau objek eksotis, melainkan muncul sebagai bentuk yang lebih berani dan mendorong mereka untuk berdiri tegak, bersuara tentang ruang yang mereka tempati. Karaoke pun menjadi praktik perlawanan halus terhadap dominasi sistem heteronormatif dan jejak kolonial yang berupaya menyingkirkan identitas queer dari ruang publik.
Untuk diketahui, di tahun 2025 ini, Biennale Jogja menawarkan sebuah tema bertajuk “KAWRUH: Tanah Lelaku”. Kawruh dalam konteks ini bisa ditafsirkan sebagai langkah ekosistem seni untuk kembali menengok pengetahuan kolektif warga di Indonesia maupun wilayah Global Selatan. Kawruh sendiri secara harfiah memiliki arti pengetahuan yang menubuh berdasarkan pengalaman warga selama berabad-abad lampau. Sebagian besar karya yang ditampilkan dalam perhelatan Biennale Jogja tahun ini adalah hasil kolaborasi aktif seniman dan masyarakat dalam memanfaatkan potensi kesenian yang muncul di lingkungan sekitar mereka.
Biennale Jogja tahun 2025 dibagi menjadi dua babak. Babak I diadakan di Padukuhan Boro, Kulon Progo pada tanggal 19-24 September 2025 lalu, kemudian dilanjutkan babak II di Kota Yogyakarta, Desa Panggungharjo, Desa Bangunjiwo, dan Desa Tirtonirmolo pada 5 Oktober-20 November 2025. Pada babak dua, pameran kota dua tahunan ini mengaktivasi 11 lokasi yang tersebar di sudut-sudut Yogyakarta, salah satunya Toko Purnama yang menjadi tempat karya Posak Jodian ditampilkan.
Griya Fantasi karya Gata Mahardi di Toko Purnama dalam Biennale Jofja 2025 (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Bersama dengan Posak, seniman lain yang memajang karya di sini di antaranya adalah Gata Mahardi yang membawa Griya Fantasi. Karyanya adalah sebuah stan satir yang menyerupai booth properti di pusat perbelanjaan. Di dalamnya terdapat sederet desain-desain perumahan yang sengaja dibuat tidak manusiawi untuk memprovokasi refleksi kritis tentang kebijakan perumahan, perencanaan kota, dan dampaknya pada komunitas urban.
Pada karya ini Gata seakan ingin mengatakan bahwa derasnya urbanisasi dan sentralisasi aktivitas ekonomi di kota, justru membuat kota mirip pabrik raksasa. Proyek ini menjadikan daerah pedesaan seperti petak-petak tidak terencana untuk kelas pekerja. Kota sesak penuh rumah dan desa bersaing menjual tanah.
Di sudut lain ada karya dari Inter-Asia Woodcut Mapping (IAWM). Kolektif ini didirikan pada tahun 2019 dan berfokus pada kajian dan pengembangan praktik seni cetak cukil kayu kontemporer. Kolektif ini menganalisis isu-isu sosial di kawasan Asia melalui perspektif inter-Asia dan meresponsnya dengan jejaring serta kolaborasi lintas wilayah. Karya-karya mereka menunjukkan betapa seni kolektif dan aktivisme cetak cukil kayu —dari kaos, zine, hingga publikasi independen— hidup subur di banyak negara Asia.
Di ujung bangunan, seniman Jepang Yuta Niwa menampilkan Non-dual Mandala of the Banquet Table. Karya ini memadukan Gunung Fuji di Jepang dengan sistem kepercayaan Gunung Merapi di Indonesia, dan kosmologi "Garis Imajiner" Yogyakarta guna menciptakan narasi visual baru.Karya ini mewarisi struktur tripartit Mandala Gunung Fuji yang sakral di atas, alami di tengah, dan sekuler di bawah sambil meresapkan makna transformasi dan regenerasi ke dalam lapisan-lapisan ini.
Alam atas, yang awalnya merupakan ruang transendensi, diselimuti oleh asap vulkanik dan hanya menyisakan rasa ketidakpastian dan kekacauan. Matahari dan bulan muncul berdampingan melambangkan sumber cahaya dan bayangan. Di bagian tengah, gunung berdiri dalam kesendirian, tetapi dengan tenang menyangga dunia. Lapisan bawah terbentang sebagai perjamuan agung tempat manusia, hewan, dan sosok-sosok ilahi berkumpul semeja, bersatu dalam harmoni.

Kawruh dari Mia Bustam hingga Kitab Surga

Perjalanan saya menelusuri pameran Biennale Jogja 2025 dimulai sehari sebelumnya, sejak di Benteng Vredeburg. Hal paling mencolok di lokasi ini adalah kehadiran section pameran Mia Bustam. Karya-karya Mia Bustam, arsip, dan respons orang tentangnya terpampang memenuhi isi ruangan. Pameran ini menggali sosok Mia Bustam sebagai seorang perempuan yang melawan dan membawa kita memahami sejarah lain dari seni rupa Indonesia yang selama ini lebih banyak dituliskan dari kacamata laki-laki, dengan Sudjojono (mantan suami Mia Bustam) sebagai kiblat dominannya.
Nama Mia Bustam mungkin asing di telinga kita hari-hari ini. Tapi justru karena itulah dia memiliki daya tariknya tersendiri. Bagi yang belum mengetahui, Mia Bustam atau yang lahir dengan nama Sasmiyati Sri Mojoretno adalah salah satu seniman perempuan yang dipenjara pasca-Peristiwa Gerakan 30 September. Selama 13 tahun enam bulan masa hidupnya dihabiskan dari penjara ke penjara.
Lukisan diri Mia Bustam (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Dia ditangkap di rumahnya pada 23 November 1965, lalu dibawa ke Penjara Sleman, dipindah ke Benteng Vredeburg, lalu ke Penjara Wirogunan. Hampir lima tahun ditahan di sana Mia pun dipindahkan lagi ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Bulu, Semarang. Lalu setelahnya dia kembali dipindah ke Kamp Plantungan hingga dibebaskan pada 27 Juli 1978. Kisahnya tersebut telah dituliskannya dalam memoar keduanya Dari Kamp ke Kamp.
Penempatan lokasi pameran Mia Bustam di Benteng Vredeburg seakan memberikan makna simbolik tentang upaya “mengembalikan” Mia Bustam ke Yogyakarta. Di gedung tempatnya pernah dipenjara ini, dia tidak lagi hadir sebagai pesakitan seperti 60 tahun lalu, tetapi sebagai perempuan luar biasa yang tangguh, melawan dan dirayakan.
Dus, ada dua hal yang membuat section ini terasa menggugah. Pertama, karena menampilkan satu bagian kelam tentang Benteng Vredeburg yang belum diketahui sebagian besar orang. Kedua, menjadi tempat di mana kita bisa menemukan kisah tentang sosok penting seniman, perempuan, dan tahanan politik yang seakan dibungkam oleh sejarah.
Dari Benteng Vredeburg saya bergeser ke Balai Desa Karangkitri. Awan hitam masih menggantung di langit, konsisten sejak pagi hari, meski matahari sudah bergerak ke tengah. Di sini, karya-karya seni disebar di berbagai sudut. Dari berbagai referensi, dikatakan bahwa tempat tersebut selama ini digunakan warga untuk melakukan kegiatan kesenian.
Saat Kelurahan Panggungharjo dipimpin Wahyudi Anggoro Hadi, ia bermimpi menjadikan Karangkitri sebagai pusat kebudayaan Jawa. Ia pun mengajak warga desa, akademisi, seniman, petani, dan siapa saja untuk menelusuri kembali akar budaya Jawa, lalu menjadikannya pijakan hidup yang kokoh bagi banyak orang. Kehadiran Biennale Jogja di sini seakan mendukung mimpinya, namun dengan cara yang kontemporer.
Balai Desa Karangkitri sebagai salah satu venue Biennale Jogja 2025 babak II (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Di samping balai desa, kita bisa melihat The Strained Trade karya Egga Jaya. Dalam karyanya ini Egga meminjam imaji caravan yang ia wujudkan sebagai kendaraan bermuatan pengetahuan lokal. Ditempatkan di lokasi yang terkait dengan jejak pabrik gula, caravan ini bukan hanya menghidupkan memori masa lalu, tetapi juga merayakan masa kini dan membuka kemungkinan masa depan.
Tak jauh dari situ, ada Sarang karya Agnes Hansella, yang lahir bersama warga Desa Panggungharjo. Karya ini melibatkan banyak tangan, mengalir seiring irama keseharian. Seniman dan warga duduk sejajar sebagai subjek aktif, mencipta bersama, tanpa sekat. Apa yang dipamerkan di sini membuktikan bahwa seni tak harus menyesaki ruang galeri yang dingin dan sulit dijangkau. Ia bisa dialami langsung, menjadi laku hidup sehari-hari. Semua orang punya kesempatan melihat seni dari jarak nol, menyentuh, merasakan, bahkan ikut mencipta bersama.
Sekitar 500 meter ke utara, venue Gubug Putih menyambut dengan suasana yang sama hidupnya. Di tengah kolam kecil, sebuah cerobong berdiri tegak mengeluarkan struktur bebunyian tertentu. Instalasi ini adalah Spektralieri, karya Fioretti Vera. Ia menerjemahkan aktivitas memasak ibu-ibu KWT Sawit, Desa Panggungharjo, menjadi simfoni suara yang berasal dari denting wajan, irisan sayur yang jatuh, serta tawa dan obrolan ringan antar mereka. Semua direkam, lalu dihidupkan kembali lewat cerobong itu.
Karya Fioretti tak sendirian. Di lokasi yang sama, BIYA Project menghadirkan instalasi yang sama-sama berakar pada keseharian. Kolektif asal Bandung ini fokus mengolah sampah kantong plastik sekali pakai menjadi karya kreatif. Mereka selalu melibatkan warga, menghadirkan pendekatan etis sekaligus edukatif terhadap pengelolaan sampah. Hasilnya? Sebuah kebun mungil dari sampah plastik yang dikreasikan menjadi taman bunga warna-warni. Indah, ironis, dan mengajak berpikir.
Karya Faisal Kamandobat Kitab Surga di Plataran Djokopekik Biennale Jogja 2025 (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Perjalanan berlanjut ke Plataran Djoko Pekik. Di sini, ringkasan perjalanan maestro itu dirangkum dalam satu ruang penuh hormat. Di samping studio Djoko Pekik, ada karya Faisal Kamandobat. Seniman asal Cilacap ini dikenal sebagai penulis, penyair, sekaligus perupa. Ia mendirikan Sanggar Matur Nuwun di kampung halamannya, sebuah madrasah dan studio inklusif yang memupuk kreativitas serta literasi anak muda.
Karya Faisal di Biennale Jogja tahun ini adalah manuskrip visual berjudul Kitab Surga. Lahir dari eksplorasi etnografi di pegunungan Dayeuh Luhur, Cilacap, manuskrip ini menceritakan Kiai Jembar Manah, seorang guru sufi, yang mengutus muridnya belajar pada Ki Girang Tampian, pemuka adat Sunda. Namun, alih-alih memberi pelajaran, Ki Girang menyampaikan ramalan kelam: hari kiamat akan tiba saat manusia terpisah dari alam. Sebuah peringatan yang “ditulis” dengan tinta, gambar, dan sunyi yang dalam.

Seni yang Berakar dari Tradisi Menjadi Milik Bersama

Di hari kedua, sebelum ke Toko Purnama, saya mendatangi area sekitaran Kampoeng Mataraman. Di sini, saya menemukan beberapa karya seni yang mengambil akar dari tradisi. Masyarakat dan tradisinya adalah tempat di mana pengetahuan bisa digali dan ditemukan kembali. Rani Jambak membawa karya Kincia Aia (kincir air) ke The Ratan. Perempuan komposer eksperimental keturunan Minangkabau ini menyerap inspirasi dari pengetahuan kolektif masyarakat Minangkabau dalam menggarap lahan pertanian.
Di Minangkabau dahulu, kincir air digerakkan oleh aliran sungai yang akan membantu warga untuk menumbuk padi. Teknologi tradisional ini telah diadaptasi warga di Sumatera Barat selama bertahun-tahun, dan kini terancam punah akibat masifnya penggunaan listrik. Untuk membangkitkan kembali ingatan mengenai kincia aia, Rani mengubah kincir air menjadi alat musik yang mengeksplorasi ragam bebunyian.
Kincia Aia (Kincir Air) karya Rani Jambak di The Ratan Biennale Jogja 2025 (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Hasil gerak mekanis kincir dan gabungan antara alat musik tradisional Minangkabau Talempong Batu dan Pupuik diolah dengan bunyi digital. Karya ini merupakan karya interaktif. Pengunjung bisa menciptakan musik dengan memencet tombol sensor yang mengeluarkan berbagai variasi suara. Kita juga bisa menekan talempong hingga mengatur berapa jumlah alu-alu yang akan digerakkan oleh kincir air.
Di sekitaran area ini ada juga karya Nathalie Muchamad. Seniman diaspora Jawa yang bermukim di Kaledonia Baru ini menelusuri buah sukun sebagai simbol perlawanan adat terhadap kolonialisme. Selama residensi, Nathalie sering dikirimkan olahan buah sukun oleh Mbah Muji, warga sekitar Lohjinawi. Lewat pertemuannya yang berulang kali dengan warga, Nathalie menghubungkan makna historis dengan potensi gastronomi: sukun bisa jadi pangan pokok masa depan.
Di Pendapa Art Space, seniman asal Papua, Dicky Takndare dan seniman Belanda Kevin Van Braak menghadirkan instalasi mixed media berjudul Another Hidden Faces of Papua. Karya ini mempertemukan budaya Jawa, Papua, hingga Belanda untuk memunculkan narasi politik keseharian warga Papua dalam melawan pengaburan sejarah.
Terdapat tujuh topeng yang dibaluti kulit wayang khas Jawa. Topeng-topeng ini menggaungkan permasalahan yang menyelimuti tanah Papua, seperti sulitnya mencari dan menyebarkan informasi tandingan demi melawan dominasi pemberitaan rezim Indonesia. Salah satu topeng yang dipamerkan menunjukkan wajah yang kedua mata dan mulutnya dicengkeram oleh tangan raksasa.
Another Hidden Faces of Papua karya Dicky Takndare dan Kevin Van Braak di Pendapa Art Space Biennale Jogja 2025 (Dok. Hidayat Adhiningrat)
***
Menjelang magrib di Toko Purnama, hujan akhirnya mereda. Satu per satu, anggota komunitas transgender menyalakan motor dan melaju pergi. Para relawan pameran mulai berbenah, pulang untuk beristirahat atau bersiap menghadapi hari esok. Pengunjung pun undur diri perlahan.
Melalui perjalanan dua hari menyusuri berbagai lokasi Biennale Jogja 2025, dari Toko Purnama yang industrial hingga Balai Desa Karangkitri yang penuh keseharian warga, tema "KAWRUH: Tanah Lelaku" terasa sebagai jembatan antara pengetahuan leluhur dan ekspresi kontemporer. Karya-karya yang ada di sini memperlihatkan bagaimana seni bisa lahir dari tanah lelaku sebagai perjalanan hidup yang dibagikan bersama.
Biennale Jogja telah membuktikan bahwa seni adalah hak universal yang patut kita rayakan bersama, oleh siapa saja. Maka, rayakanlah. Hidupkanlah!
Trending Now