Konten dari Pengguna

Garuda dari Lumpur Hell Creek di Panggung Salihara

Hidayat Adhiningrat
Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
18 Mei 2025 21:23 WIB
Ā·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Garuda dari Lumpur Hell Creek di Panggung Salihara
Prehistoric Body Theater (PBT), kolektif seni pertunjukan eksperimental asal Jawa Tengah, menghadirkan Ghosts of Hell Creek: Stone Garuda di Teater Salihara pada 17-18 Mei 2025 lalu
Hidayat Adhiningrat
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pertunjukan Ghosts of Hell Creek: Stone Garuda oleh Prehistoric Body Theater di Teater Salihara (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukan Ghosts of Hell Creek: Stone Garuda oleh Prehistoric Body Theater di Teater Salihara (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Di ujung rentang waktu yang nyaris tak terpahami, tersembunyi sebuah kisah tentang kehancuran dan kelahiran kembali. Bayangkan, 66 juta tahun silam, langit runtuh dalam ledakan asteroid raksasa berkekuatan satu miliar bom atom. Dentuman itu mengakhiri 150 juta tahun kekuasaan dinosaurus, menyisakan jejak mereka yang terpatri dalam lapisan batuan Formasi Hell Creek, Montana. Di sana, fosil-fosil bercerita tentang masa ketika Acheroraptor—raptor berbulu nan gesit—masih menjelajahi bumi dengan anggun, sebelum pupus dalam kobaran api kepunahan massal.
Tapi dari abu bencana, muncul secercah keajaiban. Purgatorius, makhluk mungil sebesar tupai yang diyakini sebagai leluhur primata tertua manusia, selamat dari kekacauan. Di tengah bumi yang luluh lantak, ia merangkak di antara pepohonan yang mulai bersemi, menikmati buah-buahan pertama dari dunia yang sedang memulihkan diri. Inilah momen krusial: kepunahan dinosaurus membuka jalan bagi mamalia—dan akhirnya manusia—untuk berevolusi.
Kisah epik inilah yang menginspirasi Prehistoric Body Theater (PBT), kolektif seni pertunjukan eksperimental asal Jawa Tengah, untuk menghadirkan Ghosts of Hell Creek: Stone Garuda di Teater Salihara pada 17-18 Mei 2025 lalu. Pertunjukan ini menjadi debut penting bagi Ari Rudenko—sutradara, koreografer, sekaligus arsitek konsep PBT—dan timnya di panggung Salihara. Dengan menggabungkan gerak tubuh, visual instalatif, dan narasi simbolis, mereka menjahit ulang ingatan purba itu. Dari keganasan asteroid hingga metamorfosis kehidupan yang bangkit dari kehancuran.
Presentasi panggungnya dibuka melalui kegelapan yang hanya gelap. Di panggung, waktu seolah terhisap kembali ke detik-detik kiamat purba. Kegelapannya bukan sekadar tanpa cahaya — ia adalah kegelapan yang terasa pekat, menyesak, seperti bumi yang tercekik abu vulkanik dan debu kosmik pasca-tumbukan asteroid. Perlahan, dari balik kelam, muncul secercah cahaya redup menyapu sisi kiri panggung. Di sana, terkuak sesosok makhluk mirip siluet purba. Tubuhnya meliuk-liuk seperti ular, tapi dalam versi merangkak dengan lutut dan telapak tangan yang menapak tanah.
Kulitnya tertutup lumpur kering yang retak-retak, seolah baru merayap keluar dari perut bumi. Kepalanya menjulur ke depan, membentuk profil paruh Acheroraptor yang runcing, tapi sayapnya hilang — hanya tersisa tangan berotot yang mencengkeram. Gerakannya primal, penuh kegelisahan. Ia memutar melingkari panggung bagai binatang terjebak labirin, sementara dari sisi kanan, sosok kembarannya muncul dengan gerak gemulai yang serupa. Dua siluet itu saling mencerminkan bayang-bayang yang terperangkap dalam ritual tanpa akhir.
Tiba-tiba, gelap menyapu. Ketika cahaya kembali menyala, warnanya telah berubah menjadi merah menyala — darah tua, seakan panggung dilumuri cahaya dari langit yang terbakar. Di bawah sorotan itu, dua makhluk baru muncul. Masih bertubuh Acheroraptor, tapi kini mereka telah lengkap: sayap membentang dari lengan hingga pinggul, kaki belakang berotot setengah tertekuk, dan punggung membungkuk seperti predator yang siap menerkam.
Mereka bergerak dalam formasi ritualistik. Langkah tertata, berirama, tangan bersayap berayun seirama dengan hentakan kaki. Gerakannya campuran antara keanggunan dan keganasan — kadang menyerupai tarian sakral, kadang seperti ayam hutan yang mengais-ngais tanah dengan naluri purba. Di balik gerak mereka, seakan ada narasi yang terpatri: sayap itu memang tak bisa membuat mereka terbang, tapi sudah mengandung benih kebebasan.

Tarian Gandrung di Tepi Evolusi

Karya Ghosts of Hell Creek: Stone Garuda sebelumnya perdana dipentaskan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 2024 lalu dengan tajuk Ghosts of Hell Creek. Secara garis besar pertunjukan ini mengisahkan perjalanan evolusi selama 500 juta tahun, dimulai dari masa kejayaan dinosaurus hingga munculnya nenek moyang primata manusia melalui perspektif Acheroraptor– jenis raptor berbulu–dan Purgatorius.
Sebelumnya, di 2024 pertunjukan ini dibawakan dalam format 90 menit, sedangkan di Salihara dibawakan dalam durasi 45 menit. Judulnya kini diperkaya dengan ā€œStone Garudaā€, merujuk pada mitos burung purba yang menjadi simbol transendensi. Bukan lagi kisah panjang evolusi, versi ini adalah konsentrat seni: fokus pada momen paling dramatis dalam narasi alam—ritual kawin Acheroraptor.
Pertunjukan Ghosts of Hell Creek: Stone Garuda oleh Prehistoric Body Theater di Teater Salihara (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Ritual ini dihidupkan melalui fenomena lekking—ritual biologis di mana jantan memamerkan bulu, suara, dan tarian, sementara betina memegang kekuatan tertinggi dalam memilih pasangan. Perilaku purba ini digambarkan lewat gerak yang terinspirasi dari tarian Gandrung dari Jawa Timur, diiringi skor gamelan orisinal oleh Hangsun Gandrung.
Acheroraptor betina menari di tengah panggung dikelilingi oleh beberapa Acheroraptor jantan. Sayap-sayap replika dikepakkan, sementara tubuh berputar dalam spiral hipnotis. Di tengah panggung itu, energi matriarkal menguasai ruang saat betina-betina Acheroraptor menari anggun di "singgasana", dengan mata tajam menyaring setiap gerak sang pretender. Di sini, kekuasaan ada di kaki sang betina—ia adalah hakim, kurator, sekaligus penjaga gerbang evolusi.
Suara gamelan tak sekadar pengiring, melainkan jiwa dari pertarungan evolusi ini. Setiap tabuh saron, gesekan rebab, dan dentang gong menyiratkan ketegangan antara hidup dan mati, antara keindahan dan kepunahan. Skor Hangsun merangkai melodi yang kadang membahana seperti teriakan pejantan yang bersaing, kadang merintih lembut seperti desir angin di tepi kawah purba. Harmoni ini selaras dengan filosofi Tari Gandrung, di mana musik dan gerak tak terpisahkan—setiap lengkungan tubuh penari beradu dengan dinamika gending, menciptakan dialog tanpa kata.
Pada pertunjukan ini kekuasaan matriarkal Acheroraptor tak berbeda dengan posisi penari Gandrung yang—meski tampak tergoda oleh lawan jenis—tetap memegang kendali sebagai kurator keindahan dan penjaga tradisi. Setiap hentakan kaki betina di panggung adalah keputusan evolusi: siapa yang layak mewarisi bumi dan siapa yang akan punah menjadi batu.
Saat sang betina menetapkan pilihan, pertunjukan bergeser seperti terhempas oleh ledakan evolusi itu sendiri. Adegan yang semula dipenuhi ketegangan ritualistik tiba-tiba luruh dalam keheningan yang memikat. Para penari—baru saja berkompetisi dalam spiral hipnotis—kini berkumpul di satu titik panggung, membentuk formasi yang berputar seirama di bawah sorotan lampu merah menyala.
Pertunjukan Ghosts of Hell Creek: Stone Garuda oleh Prehistoric Body Theater di Teater Salihara (Dok. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)
Sayap-sayap replika yang diangkat tinggi ke atas kepala menciptakan ilusi puncak gunung berapi purba, menyemburkan "lava" metaforis dari gerakan tubuh yang bergeliat. Mereka berputar semakin cepat, seolah meniru pusaran magma yang mendidih, hingga satu per satu terjatuh ke lantai. Suasana pun tenang, menyisakan getar energi yang menggantung di udara—seperti bumi yang baru saja melahirkan kehancuran sekaligus kehidupan baru.
Di ujung panggung, seorang penari tunggal berdiri tegak. Posturnya tak lagi menyerupai Acheroraptor yang meliuk-liuk, melainkan manusia purba: kaki kokoh, tubuh sedikit membungkuk, dan tatapan yang menyelidik ke arah "gunung api" yang telah padam. Inilah Sangiran 17—profil Homo Erectus yang fosilnya ditemukan di situs Sangiran, Jawa Tengah—hadir sebagai penanda zaman baru.
Kehadirannya seperti kilasan masa depan yang tak terduga, sebuah easter egg yang mengisyaratkan ambisi baru Prehistoric Body Theatre. Rupanya, kelompok seni ini sedang mengembangkan lakon tentang jejak manusia purba Nusantara, dan akhir Stone Garuda ini adalah portal waktu ketika dinosaurus yang punah bertemu manusia yang baru lahir, dalam lingkaran evolusi yang tak pernah benar-benar putus.
Meski kuat secara visual, transisi dari ritual dinosaurus ke kemunculan Sangiran 17 terasa sedikit terburu-buru. Nuansa magis Tari Gandrung dan skor gamelan yang sebelumnya mendominasi tiba-tiba menghilang, digantikan oleh kesunyian yang kontras. Namun, mungkin di situlah letak keberanian pertunjukan ini: ia menolak dikurung oleh satu narasi. Seperti evolusi itu sendiri, Stone Garuda tak takut meninggalkan fragmen yang tak terjawab.
Trending Now