Konten dari Pengguna
Gelombang Mitos dan Memori Seni di Art Jakarta 2025
4 Oktober 2025 22:10 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Gelombang Mitos dan Memori Seni di Art Jakarta 2025
Art Jakarta 2025, menampilkan 75 galeri terkemuka dari 16 negara, dengan fokus pada seni kontemporer Asia Tenggara. Saksikan karya memukau yang memadukan mitos, memori, dan modernitas.Hidayat Adhiningrat
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Art Jakarta kembali hadir tahun ini. Gelaran akbar pasar seni rupa itu diselenggarakan pada 3-5 Oktober 2025 di JIExpo Kemayoran. Art Jakarta 2025 kali ini diikuti oleh 75 galeri terkemuka dari 16 negara di seluruh Asia dan luar Asia. Fokus utama ajang ini tetap pada seni kontemporer Asia Tenggara, namun kehadiran galeri dari berbagai negara membuatnya menjadi titik temu penting antara seniman, kolektor, galeri, dan para pencinta seni dari seluruh dunia.
Ajang art fair, seperti lazim diketahui, adalah ajang di mana karya seni dijual secara langsung kepada kolektor, investor, dan pembeli potensial. Acara ini mendukung kolaborasi dengan institusi untuk membangun jaringan internasional, serta menekankan aspek ekonomi yang membuatnya lebih inklusif dan berorientasi pasar. Meski begitu, tidak berarti hal ini membuat karya yang tampil semata ada untuk memuaskan pasar dan berorientasi komersial belaka. Ada banyak juga karya yang dibawa oleh galeri yang menawarkan wacana yang kuat dan menarik.
Setelah berkeliling di hari pembukaan, saya coba mencatat beberapa karya yang dimaksud. Pertama, ada karya seniman asal Yogyakarta Ipeh Nur berupa karya seni instalasi Ombak Belum Tidur. Karya ini dibawa oleh galeri Ara Contemporary. Seketika melihat bentuknya pikiran kita mungkin akan terasosiasi pada tenda pengungsi di kawasan bencana. Dengan ukuran sekitar 4 x 2,5 meter, βtendaβ ini digambari oleh tanah hingga kapur yang bahannya diambil dari selatan Jawa.
Terinspirasi dari mitos Nyai Roro Kidul, Ipeh memang mengaitkan karyanya dengan mitigasi kebencanaan, khususnya dengan ancaman gempa megathrust. Menurut Ipeh, meski tidak berbasis ilmiah, mitos-mitos yang hadir di Nusantara sering menjadi cara bagi masyarakat untuk memahami dan memberi makna pada peristiwa besar termasuk bencana. Lewat karya ini, Ipeh mengajak publik untuk mempertanyakan ulang cerita-cerita dan tidak menerimanya begitu saja.
Karya ini bisa dimasuki oleh pengunjung. Ketika dimasuki, di dalamnya ada video berdurasi 11 menit yang menampilkan reka ulang jejak spiritualitas kakek sang seniman yang percaya bahwa di selatan Jawa ada portal untuk masuk ke dimensi lain. Penasaran dengan mitologi yang dipercaya sang kakek, Ipeh mulai melakukan riset dengan menggunakan manuskrip lama untuk meneliti soal kebencanaan. Tahun lalu, karya ini diboyong ke Ukraina dan mendapatkan anugerah Future Generation Awards dari Victor Pinchuk Foundation.
Selanjutnya ada karya Object Permanence (Intro) yang dibuat oleh Aditya Novali. Karya ini dibawa ke Art Jakarta oleh ROH Galeri. Object Permanence (intro) jadi instalasi terbesar di Art Jakarta 2025 dengan tinggi 5,4 meter. Karya ini mengeksplorasi hubungan antara benda warisan dengan memori, garis keturunan, dan sejarah keluarga. Jika dilihat dari jauh, dengan ketinggian itu dia akan tampak seperti monumen. Namun, saat kita melihat dari dekat terpampanglah detailnya sebagai tumpukan loker bergaya art deco.
Material yang digunakan adalah logam, kayu dan cermin, menciptakan kesan bahwa memori diproyeksikan ke ruang kontemporer. Seolah ada jembatan antara masa lalu dengan masa kini yang terus bergerak. Karya ini juga bisa dibilang sebagai karya yang sangat personal bagi Aditya. Terinspirasi dari lemari tua warisan neneknya, bentuk itu kemudian ia gandakan sebagai menara yang menjulang, menjelma tubuh yang menyimpan sekaligus melestarikan jejak lintas generasi.
Karya-karya Manajemen Talenta Nasional
Untuk pertama kalinya, Art Jakarta tahun ini menghadirkan booth baru dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya persembahan Kementerian Kebudayaan. Booth tersebut berisikan pameran seni Arus Baru yang dikurasi oleh Agung Hujatnika dengan 6 seniman muda yang memajang karya berbasis riset dan eksperimen. Mereka adalah Dzikra Afifah, Iwan Yusuf, Mariam Sofrina, Natasha Tontey, Syaiful Garibaldi, dan Uji Hahan Handoko.
Di dalam booth pameran ini ada karya seni instalasi dan lukisan itu hasil tangan Iwan Yusuf, seniman asal Gorontalo, Sulawesi Utara. Dalam karya instalasi bertajuk Bayi Perahu (Boat Child), yang diangkat dari pameran tunggalnya Seven Sails Combing the Sky, Iwan menelusuri kembali sejarah berlapis samudera Nusantara. Imaji yang ia hadirkan membangkitkan legenda kapal Pinisi, sekaligus gema dari epos mitologi La Galigo. Dengan merangkai material jaring dan kayu dengan cerita, Iwan menyusun lanskap laut tempat mitos dan modernitas, sejarah dan keberlangsungan hidup saling bertemu.
Para seniman yang hadir dalam pameran ini mewakili beragam genealogi dan sensibilitas artistik dalam seni rupa kontemporer Indonesia. Adapun benang merah yang mengikat mereka adalah kemampuan untuk membayangkan kembali sejarah, mitologi, dan ekologi dengan cara yang selaras dengan urgensi hari ini.
Maka di booth ini kita bisa melihat apropriasi jenaka Uji Handoko terhadap citra-citra kanonik sejarah seni rupa, spekulasi kosmologis Natasha Tontey yang berakar pada tradisi Minahasa, hingga refleksi ekologis Syaiful Aulia Garibaldi pada organisme pengurai yang sering terabaikan. Masing-masing karya menyingkap bagaimana masa lalu dan masa kini saling berlipat.
Sementara itu, Dzikra Afifah menghadirkan perjumpaan mentah dengan rasa takut dan ritual, lalu Iwan Yusuf menautkan warisan bahari Nusantara dengan mitos dan realitas kontemporer. Di sisi lain, Mariam Sofrina meruntut lanskap dengan ketelitian yang mengganggu kebiasaan pandang kita, menyibak lapisan-lapisan sejarah kolonial dan memori yang tersembunyi.

