Konten dari Pengguna

Membaca Dunia Melalui Cat Air di Indonesia Watercolor Summit

Hidayat Adhiningrat
Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
1 November 2025 13:44 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Membaca Dunia Melalui Cat Air di Indonesia Watercolor Summit
Ulasan pameran Indonesia Watercolor Summit 2025 bertajuk "Pallet of Nations". Jelajahi karya-karya cat air menakjubkan dari 7 negara di Jakarta dan Bali. Lanskap monumental, potret intim, still life
Hidayat Adhiningrat
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pameran Pallet of Nations Indonesia Watercolor Summit (IWCS) di Museum Art:1 Jakarta (Dok. Hidayat Adhiningrat)
zoom-in-whitePerbesar
Pameran Pallet of Nations Indonesia Watercolor Summit (IWCS) di Museum Art:1 Jakarta (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Indonesia Watercolor Summit (IWCS) menggelar pameran di dua kota sekaligus: Jakarta dan Bali. Di Jakarta, pameran berlangsung di Museum Art:1, Jl. Rajawali Selatan Raya No. 3, pada 31 Oktober – 10 November 2025. Selanjutnya, rombongan seniman dari tujuh negara akan melanjutkan perjalanan ke Bali pada 6 – 11 November 2025. Selain pameran, agenda di kedua kota ini akan diperkaya dengan kunjungan ke situs budaya, artefak bersejarah, workshop, serta sesi melukis bersama.
Pada pameran bertajuk “Pallet of Nations” yang digelar di Museum Art1 Jakarta, kita bisa melihat beragam karya yang sebagian besarnya berupa lukisan yang menggunakan watercolor (cat air) sebagai bahan lukisnya. Meskipun di tahun ini Silvia Zulaika selaku Ketua IWCS juga membuka kesempatan bagi seniman untuk mengeksplorasi medium lain, mulai dari cat minyak, akrilik, hingga karya tiga dimensi, namun lukisan dengan medium cat air masih mendominasi.
Seperti diungkapkan oleh kurator Anna Sungkar, watercolor sering dianggap medium yang rapuh dan spontan, namun justru di situlah kekuatannya. Media ini bisa menjadi sarana ekspresi yang cair dan personal. Melalui pameran ini, kita diajak menyelami spektrum estetika yang luas, mulai dari realisme atmosferik hingga ilustrasi surealis, dari lanskap monumental hingga potret intim. Semuanya terhubung oleh benang merah yang sama yaitu eksplorasi tentang keterkaitan manusia, alam, dan simbol budaya.
Salah satu karya yang menyita perhatian adalah “Cloudy Harbor” karya Javid Tabai. Dalam lukisan ini, sebuah kapal besar dan dermaga hadir di bawah langit mendung yang transparan dan lembut. Tabai menciptakan atmosfer yang menggantung di antara dua perasaan, harapan dan kecemasan, kepergian dan kepulangan. Ketegangan visual antara kabut yang menyelimuti dan detail kapal yang tertambat seolah menciptakan ketegangan visual yang diam namun sarat cerita.
Karya-karya dengan objek air di IWCS 2025 (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Sementara itu, karya-karya Anastasia Petryaeva seperti “Vacation” dan “Turquoise Dream” membawa kita pada nuansa yang lebih personal dan menenangkan. Di sini, air dihadirkan sebagai ruang rekreasi, sebuah dunia di mana tubuh manusia menyatu dengan cairan yang digambarkan dengan gaya realis yang ringan dan intim. Petryaeva menguasai medium cat air dengan sempurna untuk menangkap sifat cair, transparan, dan reflektif dari air itu sendiri. Air dalam karyanya bukan lagi sekadar objek, melainkan metafora akan kedamaian, kebebasan, dan aliran kehidupan.
Tak hanya mengeksplorasi elemen air, pameran ini juga menghadirkan napas zaman melalui karya-karya yang menyoroti ruang kota bersejarah. Kota-kota seperti Istanbul, Isfahan, dan Venesia dipilih bukan semata karena pesona visualnya, melainkan karena mereka adalah simpul-simpul peradaban, tempat bertemunya perdagangan, migrasi, dan akulturasi budaya yang meninggalkan jejak dalam setiap batu dan sudutnya.
“Old Jakarta” karya Irina Kulemina menjadikan Museum Fatahillah, bekas Balai Kota yang dibangun oleh Belanda di Indonesia, sebagai objeknya. Langit abu-abu menciptakan suasana romantis tetapi monumental. Kehadiran pohon dan orang yang lewat memberikan kesan bahwa bangunan ini adalah ruang hidup, bukan sekadar lanskap mati. Pada lukisan tersebut, kota ini adalah organisme yang bernapas.
Lukisan “Gudang Balik Pulau Malaysia Corner”(Dok. Hidayat Adhiningrat)
Spirit serupa terpancar dalam “Gudang Balik Pulau Malaysia Corner” karya Nanang Widjaja, yang dengan tekun merinci susunan perabot di sebuah ruang terbuka. Karyanya seperti mengajak kita mengamati jejak waktu yang melekat pada benda-benda sederhana, menyiratkan narasi tentang penghidupan dan kenangan. Sementara itu, Dony Hendro Wibowo menghadirkan denyut urban yang berbeda lewat “Semarang Chinatown Morning Market”. Di sini, kesibukan pagi di pasar tradisional direkam dengan dinamis. Kendaraan, pedagang, dan pembeli menyatu dalam sebuah komposisi yang hiruk-pikuk namun penuh ritme.
Kembali ke Eropa, “Venice Sunset” karya Natalia Dmitrieva membawa kita menyusuri kanal yang diterangi senja. Dengan sapuan cat air yang lembut dan transparan, Dmitrieva menangkap esensi Venesia bukan sekadar sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai ruang impian yang mengambang di antara masa lalu dan kini menjadi simbol romantisme yang abadi. Karya-karya urban ini menunjukkan sisi lain dari watercolor yaitu kemampuannya menangkap suasana ruang, lampu kota, dan monumentalisme arsitektur.
Tak hanya objek hidup, benda-benda mati (still life) pun berbicara dalam pameran ini. Natalia Pilipiuk menghadirkan kesegaran melalui irisan semangka dan kelapa dalam “Watermelon Freshness” dan “Coconuts”, sementara Syakieb Sungkar mengangkat metafora yang lebih personal lewat “Domestic Issues” berupa sebuah lukisan tumpukan piring kotor yang diam-diam bercerita tentang urusan domestik yang tertunda. Di sisi lain, Icka Gavrilla dan Amie Dupuy membawa pendekatan yang lebih imajinatif; yang satu menciptakan potret surealis dengan kepala burung yang muncul dari bunga pisang, sementara yang lain dengan sabar merender setiap helai bulu dalam “Bird in Paradise” hingga terasa hidup dan bergetar.
Namun, kontras justru muncul ketika kita beralih ke karya-karya figuratif kontemporer. Di sini, wajah-wajah perempuan muda digambarkan dengan corak pop, warna pastel, dan simbol-simbol kitsch yang mencolok. Realisme dokumenter ditinggalkan, digantikan oleh narasi identitas generasi di persimpangan pop-surealisme. Beberapa seniman bahkan memasukkan simbol astrologi dan spiritualitas Asia, menciptakan ruang liminal di mana realitas wajah manusia berpadu dengan kosmos imajiner.
Karya-karya figuratif di IWCS 2025 (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Karya Veynie Vokke yang berjudul “Tea Time at Home” menjadi contoh sempurna. Secara teknis, wajah digambar dengan realisme yang detail, namun elemen-elemen di sekitarnya dibiarkan bebas dan simbolis. Bagian ini mengungkap dimensi lain dari pameran. Jika lanskap laut dan kota berbicara tentang ruang kolektif dan sejarah, maka potret-potret kontemporer ini justru menyelami ranah psikologis, identitas personal yang dibentuk oleh budaya pop, spiritualitas, dan pencarian diri.
Demikian pula, "Tea Time at Home" karya Veynie Vokke secara teknis bermain dengan lapisan tipis dan detail wajah yang realistis, namun tetap memberikan lebih banyak kebebasan dalam elemen-elemen simbolis. Bagian ini mengungkap dimensi pameran yang berbeda: jika laut dan kota berbicara tentang angkasa luar dan sejarah kolektif, maka potret kontemporer berbicara tentang identitas pribadi, psikologi, dan budaya pop kontemporer.
Maka pameran ini bukan sekadar pameran lukisan cat air. Ia adalah sebuah peta visual yang merangkum perjalanan manusia modern. Dari dermaga sunyi hingga pasar yang ramai, dari potret intim hingga benda-benda di sekitar kita, setiap karya menangkap pergulatan abadi antara refleksi pribadi dan dinamika kolektif. Dalam konteks seni kontemporer, pameran ini membuktikan bahwa cat air, medium yang sering dianggap tradisional dan ringan, ternyata masih relevan dan powerful. Ia mampu menampung suara zaman, merekam segala kerumitan, kerinduan, dan keindahan dunia kita hari ini.
Trending Now