Konten dari Pengguna
“The Last Geishas” di Teater Salihara: Dua Orang Menari Agar Tradisi Tak Mati
20 November 2025 15:55 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
“The Last Geishas” di Teater Salihara: Dua Orang Menari Agar Tradisi Tak Mati
Ulasan mengharukan “The Last Geishas: Re-Creation Proyek” karya Shingo Ōta & Hydroblast di Salihara: dari latihan bersama geisha terakhir Kinosaki hingga pose Shachihoko yang membuat penonton terdiam.Hidayat Adhiningrat
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Panggung Teater Salihara pekan lalu benar-benar gelap, hanya terdengar suara shamisen yang menggantung di udara, seperti rumah tua yang masih bernapas pelan. Suara shamisen itu khas: tajam, melengking, kadang seperti orang menangis, kadang seperti tertawa sinis. Tak ada lampu, tak ada penari, hanya layar besar di belakang yang tiba-tiba hidup, dan kita langsung tersedot ke sebuah ruangan latihan di Kinosaki, suatu sore yang dingin.
Di tengah frame berdiri Hidemi-san, geisha terakhir yang masih hidup di kota air panas itu. Rambutnya disanggul rapi, kimononya sederhana, tapi setiap gerakannya membawa bobot seratus tahun tradisi. Di depannya, dua orang “murid” yang jelas bukan dari dunia itu: Shingo Ōta, sutradara sekaligus performer, dan aktris Kyoko Takenaka ikut berlatih. Mereka berusaha meniru gerakan Hidemi-san, langkah kecilnya, hingga putaran leher yang nyaris tak terlihat. Tapi Hidemi-san tak pernah membiarkan mereka lolos begitu saja. Setiap aksen dia hentikan, jelaskan, koreksi.
Cuplikan yang ada dalam video ini adalah proses riset Ōta dan Takenaka yang menghadiri kelas, berlatih berbagai tarian, mengenakan kimono, hingga tampil dalam jamuan tradisional. Melalui pengalaman langsung, mereka berusaha memahami dan menafsir ulang dunia geisha dari dalam. Hasil dari riset ini ditujukan untuk penampilan panggung “The Last Geishas: Re-Creation”, proyek pertunjukan yang diproduksi oleh Hydroblast, kolektif seni yang didirikan pada 2019 oleh Shingo Ōta dan berfokus pada penciptaan karya film dan teater dengan pendekatan dokumenter.
Dalam catatan prosesnya, Shingo Ōta menjelaskan bahwa ide karya ini muncul setelah ia membaca kesaksian seorang mantan maiko (geisha magang) tentang kerasnya industri tersebut. Pengalaman itu mendorongnya untuk mendalami dunia geisha, terutama setelah bertemu dengan Hidemi, geisha terakhir di daerah Kinosaki. Dari sana, ia mulai berlatih sebagai geisha dan menjadikan tubuhnya sebagai medium dokumentasi dan refleksi.
Kita yang duduk di kursi Salihara ini sebenarnya sedang menyaksikan proses riset bertahun-tahun yang diringkas jadi beberapa menit pembukaan yang mengharukan. Ōta dan Takenaka benar-benar tinggal di Kinosaki, mengenakan kimono berat seharian, melayani tamu di ozashiki, menari di atas tatami sampai lutut memar. Semua demi memahami dunia geisha dari dalam, bukan dari luar kaca museum atau kartu pos turis.
***
Lampu panggung kemudian menyala dan Shingo Ōta muncul. Kimono berlapis-lapis membalut tubuhnya yang tinggi, obi lebar diikat rapi, wajahnya dipulaskan oshiroi putih tebal, bibir merah kecil, alis tipis. Ia benar-benar telah berubah menjadi geisha. Hanya sorot matanya yang masih “Shingo”: tajam, gelisah, seperti orang yang membawa rahasia terlalu besar untuk satu tubuh. Ia mulai berbicara, suaranya pelan tapi menggema, seolah-olah ruangan itu ozashiki sungguhan di Kinosaki.
Dia bercerita tentang perjalanan karyanya. Karya yang berangkat dari pengamatan terhadap profesi geisha; sosok yang menjadi lambang dari citra Jepang yang terfantasisasi, namun sering kali kurang dikenal dan kini berada di ambang kepunahan. Melampaui pandangan stereotip yang selama ini melekat, pertunjukan ini mencoba menelusuri kenyataan di balik profesi yang penuh disiplin, kesenian, dan kerahasiaan itu.
Melalui “The Last Geishas: Re-Creation”, Ōta seperti sedang mengajukan pertanyaan: bagaimana kita dapat mendefinisikan siapa atau apa sebenarnya geisha itu? Apakah mereka sekadar daya tarik wisata, atau justru pelaku seni tradisional yang telah menjaga warisan budaya berusia berabad-abad? Belum sudah pertanyaan ini terjawab, dari sudut lain muncul Yuika Hokama yang sama seperti Ōta berdandan layaknya geisha.
Yuika adalah kolaborator dari perancis (berdarah jepang) yang tampil menggantikan Kineko yang berhalangan hadir. Yuika dan Ōta kemudian berlatih gerakan-gerakan tari Geisha. Mereka mulai berlatih di depan kita semua, bukan lagi cuplikan video, tapi hidup, napas demi napas. Yuika bergerak begitu pelan dan Ōta berbicara seperti guru mengajari muridnya. Bahunya turun, lehernya memanjang, jari-jarinya seperti mengambang di udara. Satu langkah. Dua langkah. Ōta berkata, “Tubuhmu perlahan berubah menjadi balon.”
Ōta dan Yuika kini berdiri berdampingan, kemudian mereka mempraktikan dua gerakan geisha lainnya. Pertama ada Itako Dejima. Ini tarian pemula yang wajib dikuasai setiap maiko di hari-hari pertamanya. Konon, tarian ini menceritakan seorang tukang perahu wanita di zaman Edo yang mendayung pelan menyeberangi sungai. Di tepi seberang, tanpa sengaja ia melihat pria yang dicintainya berdiri di bawah pohon sakura. Hanya sesaat, sekilas bayangan. Cukup untuk membuat jantungnya berdegup kencang, cukup untuk membuatnya menunduk malu, tapi juga cukup untuk membuat bibirnya tersenyum tanpa suara.
Yuika memerankannya dengan sempurna. Ia melangkah kecil seperti mendayung, tangan kanan memegang ruang kosong seolah memegang dayung. Lalu tiba-tiba kepalanya menoleh cepat sebelum buru-buru kembali menunduk, bahunya naik turun seperti napas yang tertahan. Tangan kirinya naik pelan menutupi separuh wajah, tapi jari-jarinya terbuka sedikit, membiarkan kita semua melihat senyum kecil yang tak bisa disembunyikan. Malu dan gembira bercampur jadi satu.
Lalu mereka berpindah ke gerakan yang jauh lebih sulit: “Shachihoko”. Di atap Kastil Nagoya, ada dua patung ikan raksasa berlapis emas yang berdiri mengangkat kepala tinggi-tinggi, mulut terbuka, ekor melengkung ke langit. Itulah shachihoko, penjaga kastil dari api, lambang keberanian dan keseimbangan. Di dunia geisha Nagoya, setiap gadis baru wajib bisa menirukan pose itu dengan tubuhnya sendiri. Bukan sekadar berdiri biasa, tapi mengangkat kedua kaki lurus ke atas, hanya bertumpu pada tangan yang menyentuh lantai, seperti patung hidup.
Yuika mengambil bantal kecil, meletakkannya di lantai sebagai tanda “ini latihan”. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan menurunkan tubuhnya. Kaki naik lurus ke atas, jari-jari kaki menegang sempurna. Kimono yang berat tetap rapi, obi tak bergeser sedikit pun. Tubuhnya gemetar halus, bukan karena lemah, tapi karena menahan beban puluhan kilo kain dan tradisi selama beberapa detik.
Di momen itulah pesan pertunjukan ini terasa paling tajam. Geisha memang bukan sekadar “penghibur cantik” seperti yang selama ini kita dengar dari film Hollywood atau brosur turis. Mereka adalah seniman yang menghabiskan puluhan tahun melatih tubuhnya sampai bisa menahan rasa sakit, menahan beban, menahan air mata hanya agar satu pose tetap sempurna selama beberapa detik di depan tamu. Kata “geisha” sendiri berasal dari gei (seni) dan sha (orang). Artinya: orang seni. Bukan pelayan, bukan objek, tapi seniman.
Tapi di luar sana, jumlah geisha terus menyusut. Anak-anak muda Jepang kini lebih memilih jadi idol K-pop atau influencer ketimbang masuk okiya dan bangun jam tiga pagi untuk latihan shamisen. Di Kinosaki, Gion, Kanazawa, satu per satu lampu ozashiki mulai padam. Hidemi-san mungkin benar-benar generasi terakhir.
Dan saat Ōta serta Yuika berdiri berdampingan di akhir latihan itu, dua orang “luar” yang dengan susah payah menari tarian yang bukan milik mereka, kita bisa merasakan bahwa pertunjukan ini bukan lagi sekadar teater. Ini seperti upacara penyelamatan. Upacara yang dilakukan oleh orang-orang yang tahu bahwa kalau kita yang bukan pewaris ini tak mulai menari sekarang, tak ada lagi yang akan menari nanti.

