Konten dari Pengguna
The Stillness of Becoming: Labirin Cahaya & Air di Ara Contemporary
18 November 2025 17:21 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
The Stillness of Becoming: Labirin Cahaya & Air di Ara Contemporary
Pameran tunggal Condro Priyoaji “The Stillness of Becoming” di Ara Contemporary: karya refraksi & refleksi cahaya pada air yang chaotic namun meditatif, hadir dalam labirin lorong sempit Hidayat Adhiningrat
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Main Gallery di Ara Contemporary tak lagi menyerupai kubus putih yang steril dan luas seperti biasanya. Kini, ruangan itu terasa lebih intim, bahkan sedikit sesak, dipenuhi lorong-lorong sempit yang memandu pengunjung seperti alur cerita yang tak terduga. Bayangkan berjalan melalui gang-gang misterius, di mana setiap belokan menyimpan rahasia visual. Di sini, karya-karya Condro Priyoaji tersebar, dalam pameran tunggalnya yang berjudul The Stillness of Becoming.
Pada belokan pertama, sebuah karya berjudul “Lens #4” bertengger di dinding putih. Dari kejauhan, ia tampak seperti kaca buram yang diselimuti embun pagi, dingin dan tak terganggu. Tapi begitu mendekat, permukaannya seolah hidup. Gelombang-gelombang lembut membeku di tengah gerakannya, seperti air yang tiba-tiba membatu tepat saat hendak jatuh. Riak-riak itu mengalir dari pusat ke tepi, lalu berputar balik. Cahaya yang menyentuhnya dipelintir, dibiaskan, dan dilemparkan kembali, menciptakan semacam ilusi optik.
Di sisi kanan dari karya ini ada sebuah lukisan monokromatik dengan figur terkesan abstrak. Kanvas hitam itu dipenuhi goresan tinta putih yang acak, tanpa bentuk figuratif yang jelas. Gelombang cahaya putih mengalir perlahan di dalamnya, seperti urat-urat kilat yang terperangkap dalam obsidian cair. Alirannya berbeda-beda, kadang mengalir dari atas ke bawah seperti air terjun terbalik, kadang membentuk pusaran di tengah sebelum pecah menjadi cabang-cabang halus yang merayap ke tepi.
Kenyataannya, lukisan ini—bagian dari seri "Reflection Eternal" yang mencakup delapan karya lain di pameran—bukanlah abstraksi semata. Ia adalah representasi figuratif dan realis dari gelombang air yang disinari cahaya, di mana kekacauan tampak menjadi harmoni yang diam. Pameran ini menandai pameran tunggal keempat Condro Priyoaji, yang terus mengeksplorasi obsesinya untuk "menghentikan" gerak dan kefanaan, lalu menerjemahkannya menjadi visual yang abadi.
Sejak awal karirnya, Condro selalu fokus pada transformasi sifat alam. Mengubah yang fana menjadi kekal, yang bergerak menjadi statis. Jika seri sebelumnya menyelami permainan cahaya di alam bebas, kali ini ia beralih ke pertemuan cahaya dengan elemen buatan manusia, seperti cermin dan riak air. Melalui karya-karya terbarunya di Ara Contemporary ini, Condro menyelidiki bagaimana air yang tampak diam bisa membengkokkan cahaya, memberinya bentuk sekaligus gerak, dan akhirnya mengubah cara kita melihat objek serta dunia di sekitarnya.
Karya-karya dalam pameran ini secara alami terbagi menjadi dua keluarga besar. Yang pertama adalah karya-karya refleksi: mereka yang chaotic, liar, seperti badai cahaya yang terperangkap di dalam kanvas hitam, penuh gelombang tak terkendali yang seolah hendak melompat keluar. Yang kedua adalah karya-karya refraksi: mereka yang teratur, tenang, hampir meditatif, lahir dari lensa-lensa resin buatan Condro sendiri. Namun keduanya tetap terikat oleh satu benang merah yang sama yaitu pembelokan cahaya. Bagaimana cahaya dipaksa berubah arah, dipelintir, lalu menjadi sesuatu yang lain sama sekali.
Pola refraksi tak hanya hadir di atas kanvas. Di salah satu lorong yang paling gelap, Condro memasang instalasi langsung di dinding. Sepotong lensa resin besar ditempelkan tinggi, dan dari belakangnya cahaya ditembakkan pelan. Hasilnya adalah tarian cahaya mentah yang jatuh ke dinding. Aliran putih keperakan mengalir turun seperti asap cair, membentuk gelombang-gelombang lebar yang bergerak perlahan menuju lantai, kemudian lenyap begitu saja di ambang kegelapan bawah, seperti air yang menguap sebelum menyentuh tanah.
Pameran ini, pada akhirnya, adalah kelanjutan dari pencarian panjang Condro Priyoaji bahwa segala yang kita anggap “nyata” di dunia ini hanyalah pantulan dan pembelokan cahaya pada benda-benda di sekitar kita. The Stillness of Becoming adalah undangan untuk berhenti sejenak, lalu menyadari bahwa di balik segala keheningan yang tampak mutlak, selalu ada getar, selalu ada gerak yang tertahan.
Presentasi atas pencarian itu tak akan terasa sekuat ini tanpa sentuhan arsitektur FFFAAARRR yang mengubah white cube menjadi labirin lorong-lorong sempit. “Kehadiran air, cahaya, dan dialog keduanya dalam karya Condro sangat dekat dengan bidang keahlian sekaligus minat kolektif kami,” kata Andro Kaliandi, salah satu pendiri FFFAAARRR. Bagi mereka, karya Condro selalu terasa atmosferik sekaligus sekilas saja, seperti mimpi yang hampir terlupakan saat mata terbuka.
Maka mereka merespons dengan cara menangkap bingkai-bingkai momen itu, satu per satu, dalam alur berurutan. Segmentasi ruang sengaja dibuat untuk memisahkan setiap karya ke dalam lorongnya sendiri, sehingga setiap karya bisa “bernapas” sendirian”. Ketika pengunjung melihat satu lukisan atau instalasi dalam kesunyian lorong yang sempit itu, imajinasi tentang gerak asalnya menjadi begitu hidup, seolah kita sedang menyaksikan air yang baru saja membeku, cahaya yang baru saja berhenti berlari, dan keheningan yang baru saja lahir dari kegaduhan.

