Konten dari Pengguna

Wound dan Interloper di Ara Contemporary: Menyulam Luka, Meraba Kenangan

Hidayat Adhiningrat
Seorang penulis seni amatir dan manusia yang senang bermain-main
29 September 2025 14:09 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Wound dan Interloper di Ara Contemporary: Menyulam Luka, Meraba Kenangan
Dua pameran tunggal Alisa Chunchue (Wound) dan Mar Kristoff (Interloper) di Ara Contemporary menawarkan sebuah lensa yang tajam untuk melihat bagaimana seni berfungsi sebagai alat untuk menyembuhkan
Hidayat Adhiningrat
Tulisan dari Hidayat Adhiningrat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Karya Invisible Suture oleh Alisa Chunchue di pameran Wound Ara Contemporary (Dok. Hidayat Adhiningrat)
zoom-in-whitePerbesar
Karya Invisible Suture oleh Alisa Chunchue di pameran Wound Ara Contemporary (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Sebagai karya pembuka pameran tunggal Alisa Chunchue bertajuk "Wound", instalasi "Invisible Suture" (2022-2024) menyambut pengunjung bak sebuah metafora yang tergantung nyata. Karya ini bagai jahitan tak kasatmata yang menyatukan luka-luka yang tak terlihat, langsung mengajak kita menebak arah wacana pameran.
Dari langit-langit ruang Ara Contemporary, untaian spiral kaca yang rapuh namun kuat menjuntai. Warnanya bervariasi, dari hijau gelap, biru lembut, kuning keemasan, hingga perak metalik, membentuk pola lengkung tanpa akhir dan seolah melayang di udara. Di bawah sorotan lampu, setiap untaian yang presisi layaknya benang bedah, memantulkan cahaya dan menciptakan bayangan halus di atas lantai. Ruang putih yang kosong di sekelilingnya semakin memperkuat atmosfer meditatif dan perasaan kerapuhan.
Pada hakikatnya, "Invisible Suture" adalah visualisasi dari proses penyembuhan emosional dan fisik yang dijalani Alisa sejak 2020. Karya ini berbicara tentang bagaimana ketelitian dalam menjahit luka tubuh bisa menjelma menjadi sebuah meditasi. Sebuah praktik yang menenangkan sekaligus menantang, menyatukan kekuatan material dengan kerapuhan jiwa manusia.
Kesan mengenai “pembedahan” yang dibangun sejak awal semakin nyata ketika pengunjung melangkah lebih jauh. Tepat di sebelah tirai masuk ruang pamer utama, instalasi “Stitching” hadir bagai peralatan medis yang diperbesar. Karya ini menampilkan figur jarum-jarum yang seolah siap menjalankan tugasnya, mempertegas metafora proses penyembuhan yang tidak hanya halus tetapi juga membutuhkan ketelitian dan keberanian.
Ruang transisi antara “Invisible Suture” dan “Stitching” dengan karya-karya di ruang utama sengaja dibingkai oleh selembar tirai putih polos. Tirai ini bukan sekadar pembatas fisik, melainkan sebuah elemen kuratorial yang cerdas. Ia menciptakan ambang batas layaknya ruang operasi di rumah sakit, mengintensifkan sensasi antisipasi dan sterilitas sebelum memasuki ‘episentrum’ luka itu sendiri. Pemisah ini secara psikologis mempersiapkan mental pengunjung untuk menyelami pembahasan yang lebih intim dan mendalam.
Dengan tata pamer ini, Alisa tidak sekadar memamerkan objek, tetapi membangun sebuah narasi ruang. Ia dengan sengaja membawa kita melalui tahapan-tahapan metaforis dari benang jahit yang menggantung (“Invisible Suture”), menuju alat penjahitnya (“Stitching”), sebelum akhirnya memasuki ‘ruang bedah’ utama tempat ‘luka-luka’ tersebut dihadirkan dalam wujudnya yang paling gamblang.
Karya-karya Alisa Chunchue di pameran Wound Ara Contemporary (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa Alisa bukan hanya sedang membicarakan luka, tetapi lebih spesifik lagi, ia sedang membedah pemaknaan dari jahitan pada tubuh manusia pasca-operasi. Jahitan bukanlah sekadar penutup luka, melainkan sebuah tanda bukti, sebuah jejak dari pertempuran, penderitaan, dan yang paling penting sebuah penyembuhan yang sedang berlangsung.
Benar saja, setelah melewati tirai pembatas itu, pengunjung disambut oleh serangkaian karya yang jauh lebih intim dan meditatif. Pada fase ini, Alisa Chunchue seutuhnya menyingkap proses penyembuhan emosional dan fisiknya. Seri karya ini menelusuri teknik jahitan bedah dengan medium pensil di atas kertas dan kanvas, membentuk pola lingkaran tanpa akhir yang menghipnotis dan memenuhi ruang.
Yang menarik, dari kejauhan, karya-karya ini justru tampak seperti bidang-bidang kosong berwarna. Palet warna yang dipilih adalah warna-warna yang bisa ditemukan dalam tubuh kita sendiri, membangun kesan organik yang samar. Ada warna merah darah, krem pucat kulit, hingga biru keabuan pembuluh darah. Efek ini mengundang dan memaksa penonton untuk mendekat, mengisi kembali 'bidang kosong' tersebut dengan makna.
Pola jahitan pada lukisan Alisa Chunchue (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Dan pada jarak yang sangat dekat itulah keajaiban terungkap. Pola berulang yang identik dari bentuk jahitan operasi baru terlihat dengan jelas. Pada pandangan pertama, pola yang nyaris sempurna dan konsisten ini mudah disangka sebagai hasil cetak mekanis. Namun, pemeriksaan yang lebih seksama, pada goresan pensil yang sedikit bergetar, pada tekanan yang bervariasi, pada titik awal dan akhir yang tersambung dengan hati-hati,membuktikan bahwa setiap "jahitan" ini dibuat secara manual dengan kesabaran yang luar biasa.
Di sinilah esensi praktik artistik Alisa benar-benar terasa. Sebuah disiplin ketelitian dan ketekunan yang tinggi, di mana setiap tusukan imajiner di atas kertas adalah repetisi yang menenangkan, sekaligus pengingat akan kerumitan dan ketegangan dalam proses menyatukan kembali sesuatu yang terbelah.
Pada karya instalasi bertajuk “Invisible Incision” (2025), Alisa Chunchue menghadirkan kembali instrumen medis yang pernah menggores hidupnya, sebuah jarum dan pisau bedah. Diciptakan dari kaca dan baja stainless, replika alat-alat operasi ini bukanlah sekadar objek, melainkan kristalisasi dari pengalaman tubuhnya sendiri.
Karya ini secara literal dan metaforis adalah "torehan yang tak terlihat", yang mengingatkan kita bahwa luka terdalam seringkali tidak meninggalkan bekas kasat mata, namun terpatri dalam ingatan. Bentuknya yang merupakan gabungan antara pisau dan jarum menyampaikan sebuah siklus utuh: alat yang sama yang membelah juga yang menjahit dan menyembuhkan.
Invisible Incison karya Alisa Chunchue di pameran Wound Ara Contemporary (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Melalui seri karyanya, Alisa justru mengalihkan fokus dari sisi menakutkan penyakit dan operasi, menuju sebuah narasi ketahanan dan kontemplasi. Ia tidak merekam trauma, tetapi mentransformasikannya. Setiap goresan pensil yang repetitif pada kanvas dan setiap lekukan kaca yang presisi pada instalasi merupakan bukti fisik dari upayanya bertahan melewati masa-masa sulit.
Proses artistik Alisa Chunchue—seniman Thailand yang dikenal menjelajahi kondisi fisik dan mental manusia melalui beragam media—memang berakar pada pengamatan mendalam terhadap tubuh. Partisipasinya dalam pameran ternama seperti ARTJOG: Ramalan (Yogyakarta, 2024), The Sovereign Asian Art Prize Finalists Exhibition (Hong Kong, 2023), dan Illuminated Curiosities (Vietnam, 2022) telah mengukuhkan posisinya sebagai suara yang unik dalam wacana seni kontemporer yang membahas tubuh, ingatan, dan penyembuhan.
Melalui "Wound", Alisa tidak hanya memamerkan seni, tetapi membagikan sebuah perjalanan transformatif di mana rasa sakit diolah menjadi keindahan, dan ketakutan ditaklukkan oleh ketekunan. Karya-karyanya adalah potongan-potongan autobiografi yang intim. Dalam setiap tarikan napas kesabaran yang tercermin dari pola yang tak putus, dan setiap hembusan napas kelegaan yang terpancar dari kesempurnaan bentuk.
Mengaburkan untuk Mengingat
Sejalan dengan pameran "Wound" Alisa Chunchue, Ara Contemporary juga menghadirkan pameran tunggal Mar Kristoff bertajuk "Interloper". Jika Alisa membedah ingatan tubuh, Kristoff menelusuri arsip keluarga sebagai seorang "pengintip", seorang pengelana yang hadir di antara ruang-ruang ambigu kenangan, sebagai peserta sekaligus orang luar.
Dalam salah satu karyanya, Kristoff mereplika foto seseorang yang sedang menyetir mobil dari sudut pandang penumpang di kursi belakang. Potret hitam-putih itu tanpa wajah yang jelas, menghadirkan perasaan asing dan terpinggirkan. Di karya lain, ia menghidupkan kembali foto-foto mendiang ayahnya, dari acara kelulusan sekolah dasar hingga malam prom, namun tidak untuk dikenang secara nostalgik.
Karya Mar Kristoff di pameran Interloper Ara Contemporary (Dok. Hidayat Adhiningrat)
Melalui sapuan kuas yang mengaburkan, pembingkaian ulang yang tak terduga, dan pemindahan subjek, Kristoff justru menggugat makna yang diwariskan oleh gambar-gambar ini. Di tangannya, arsip bukanlah wadah netral atau repositori yang tetap, melainkan sebuah situs yang cair, yang rentan terhadap revisi, penghapusan, dan spekulasi.
Pameran ini mengeksplorasi paradoks fundamental dari mengingat, yaitu hasrat manusiawi untuk melestarikan, yang berhadapan dengan distorsi tak terelakkan dari waktu. Setiap karyanya adalah upaya untuk menahan waktu, namun sekaligus pengakuan bahwa begitu sebuah kenangan beredar dalam pikiran, ia mulai melayang, menyerap konteks baru, dan secara halus mengkhianati asal-usulnya.
Sebagai pemenang emas UOB Painting of the Year 2024, Kristoff tidak berusaha menyelesaikan ketegangan ini. Justru sebaliknya, ia memperkuatnya. Hasilnya adalah sebuah potret ingatan yang bukan sebagai dokumen statis, melainkan sebagai proses hidup yang dinamis, terputus-putus, penuh kontradiksi, dan tak pernah benar-benar selesai. "Interloper" dengan demikian adalah pengingat bahwa kita semua, pada tingkat tertentu, adalah pihak luar yang mencoba memahami narasi masa lalu yang pada dasarnya cair dan personal.
Kedua pameran tunggal, "Wound" dan "Interloper", seperti hadir sebagai dua sisi dari mata uang yang sama, sebuah penyelidikan mendalam tentang bagaimana manusia mencatat dan memaknai pengalamannya. Alisa Chunchue memilih untuk merawat dan menjahit, mengubah trauma menjadi meditasi. Mar Kristoff memilih untuk mengintervensi dan mempertanyakan, mengungkap kenangan sebagai fiksi yang cair. Melalui pameran bersama ini, Ara Contemporary seakan sedang menawarkan sebuah lensa yang tajam untuk melihat bagaimana seni berfungsi sebagai alat untuk menyembuhkan, sekaligus menggugat arsip hidup kita yang paling personal.
Trending Now