Konten dari Pengguna
Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan: Tantangan Negara Tropis di Tahun 2025
23 November 2025 3:25 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan: Tantangan Negara Tropis di Tahun 2025
Cuaca tak menentu menekan produksi pangan di negara tropis. Artikel ini membahas tantangan dan peluang solusinya.Hikmah Alfiah
Tulisan dari Hikmah Alfiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan iklim bukan lagi isu yang terasa jauh. Tahun 2025 menjadi saksi bagaimana negara-negara tropis mulai merasakan tekanan nyata terhadap sistem pangan mereka. Cuaca yang semakin tidak menentu, musim tanam yang makin sulit diprediksi, hingga meningkatnya bencana hidrometeorologi membuat produksi pangan di banyak wilayah tropis berada di titik rawan.
Negara-negara tropis termasuk Indonesia sebenarnya memiliki potensi alam yang melimpah. Namun, kondisi iklim yang semakin ekstrem mengubah pola produksi yang dulu dapat diandalkan. Petani kini tidak bisa lagi memastikan kapan seharusnya mulai menanam, kapan hujan turun dengan stabil, atau kapan musim kering akan berakhir. Ketidakpastian ini membuat hasil panen menurun, sementara kebutuhan pangan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.
Di banyak daerah, kekeringan yang berkepanjangan membuat lahan pertanian retak dan irigasi tidak lagi berjalan optimal. Sebaliknya, curah hujan yang tiba-tiba sangat tinggi bisa menyebabkan banjir yang merendam sawah, menghancurkan tanaman yang baru tumbuh. Situasi ini menciptakan risiko ganda: produksi turun dan harga pangan melonjak.
Tidak hanya itu, perubahan iklim juga memicu peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman. Kondisi suhu yang lebih hangat memungkinkan hama berkembang lebih cepat dan bertahan lebih lama. Akibatnya, petani di negara tropis harus bekerja lebih keras dan seringkali lebih mahal untuk melindungi tanaman mereka.
Ketahanan pangan pun menjadi isu besar. Ketika produksi beras, jagung, sayur, dan komoditas utama lain menurun, stabilitas pasokan terganggu. Negara yang sangat bergantung pada pertanian lokal harus mencari alternatif, termasuk impor, yang pada gilirannya menambah tekanan ekonomi.
Namun, di tengah semua tantangan itu, ada peluang perbaikan. Teknologi pertanian semakin berkembang; mulai dari pemanfaatan benih tahan panas dan kering, sistem pertanian cerdas berbasis sensor, hingga peringatan dini cuaca ekstrem. Modernisasi ini memberi harapan bagi peningkatan produktivitas meskipun kondisi iklim berubah.
Pemerintah dan masyarakat juga mulai menyadari pentingnya diversifikasi pangan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Banyak komunitas kini beralih ke pola tanam yang lebih adaptif, memanfaatkan sistem irigasi hemat air, hingga menerapkan pertanian organik yang lebih ramah lingkungan.
Tahun 2025 menjadi momentum penting bagi negara tropis untuk berbenah. Perubahan iklim memang membawa tantangan besar, tetapi dengan inovasi, kebijakan yang tepat, dan kesadaran masyarakat, ketahanan pangan tetap bisa dijaga. Tantangan ini tidak bisa dihindari, namun dapat dihadapi bersama dengan cara yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

