Konten dari Pengguna

Revenge Bedtime Procrastination: Seni Menghancurkan Esok Hari Demi Kepuasan

Hilya Kamilah
Psychology Student at Brawijaya University
29 November 2025 10:00 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Revenge Bedtime Procrastination: Seni Menghancurkan Esok Hari Demi Kepuasan
Kebiasaan menunda tidur demi kepuasan instan setelah hari yang melelahkan, meski tubuh sudah lelah dan tahu dampak buruknya di esok hari.
Hilya Kamilah
Tulisan dari Hilya Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi bermain ponsel di malam hari. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bermain ponsel di malam hari. Foto: Shutterstock
Setiap malam, banyak dari kita melakukan rutinitas yang serupa. Tubuh telah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, mata mulai berat, tetapi tangan kita tetap memegang ponsel sambil berkata "sebentar lagi deh". Awalnya mungkin hanya lima menit, namun perlahan-lahan berubah menjadi 30 menit, kemudian satu jam, sampai tanpa disadari jam menunjukkan pukul 2 pagi. Kita tahu bahwa hari esok akan berantakan jika telat tidur, namun entah kenapa kita tetap mengulanginya.
Fenomena ini disebut Revenge Bedtime Procrastination (RBP) yaitu kebiasaan menunda tidur bukan karena tidak mengantuk, melainkan karena merasa tidak cukup mendapatkan waktu untuk diri sendiri sepanjang hari. Pada malam yang tenang itulah, kita seolah-olah ingin merasakan kebebasan yang hilang selama jam-jam siang yang padat dan melelahkan.
Dari sudut pandang neurosains, RBP bukan hanya soal kurang disiplin. Ketika menjalani hari yang panjang dan penuh dengan tuntutan, bagian otak yang bertanggung jawab dalam keputusan rasional yaitu korteks prefrontal mengalami kelelahan. Ketika area ini lemah, kemampuan untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang menurun. Pada saat bersamaan, aktivitas ringan seperti menggulir TikTok, menonton reels Instagram, menonton drama, atau bermain game dapat merangsang dopamin yaitu zat kimia yang memberikan kenikmatan sementara. Otak yang lelah lebih cenderung memilih kepuasan instan ini daripada tidur yang sangat dibutuhkan. Kombinasi tersebut membuat RBP terasa sulit untuk dihentikan meskipun kita menyadari dampak negatifnya.
Selain aspek neurologis, penelitian mengungkap bahwa RBP sangat berkaitan dengan perasaan kendali yaitu sejauh mana seseorang merasa memiliki kontrol atas waktunya sendiri. Linke (2022) menemukan bahwa semakin rendah rasa kendali seseorang atas hidupnya, semakin besar kemungkinan ia melakukan RBP. Hal ini sangat logis yaitu ketika hari diisi dengan banyak tuntutan, malam menjadi satu-satunya momen ketika seseorang merasa bisa mengambil keputusan yang benar-benar miliknya. Menunda tidur menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan akan kendali tersebut secara psikologis.
Keterkaitan ini semakin jelas bila dilihat dari sudut pandang Self-Determination Theory (SDT), khususnya Basic Psychological Need Theory (BPNT). Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan dasar yaitu otonomi, kompetensi, dan koneksi. Ketika ketiga kebutuhan ini terhambat, misalnya karena pekerjaan, studi, atau lingkungan yang terlalu membebani, individu cenderung mencari cara kompensasi yang sering kali tidak adaptif. MΓΌller (2023) menyebut RBP sebagai perilaku perlawanan, yakni bentuk perlawanan pasif yang muncul untuk memulihkan rasa otonomi yang terbatasi di siang hari. Kegiatan di malam hari seperti menggulir TikTok, menonton reels Instagram, menonton drama, atau bermain game dianggap sebagai cara untuk mengambil kembali kendali yang hilang.
Meskipun begitu, perilaku perlawanan ini sering kali berdampak besar. Menunda waktu tidur secara berulang dapat mengganggu ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengontrol kapan tubuh merasa kantuk dan terjaga. Saat ritme ini terganggu, kualitas tidur menjadi lebih buruk. Tubuh menjadi sulit mencapai tidur yang dalam, sehingga proses pemulihan fisik terganggu. Konsentrasi menjadi berkurang, daya ingat sulit terjaga, dan stabilitas emosional menurun.
Ironisnya, keadaan kurang tidur ini justru meningkatkan stres dan membuat kita lebih cenderung untuk menunda tidur di malam hari selanjutnya. Hal ini menciptakan sebuah siklus yang sulit dihentikan dari stres membuat kita menunda tidur, kurang tidur memperburuk stres, dan stres yang meningkat kembali mendorong kita menunda tidur pada malam berikutnya. Siklus ini dapat berlanjut selama berhari-hari tanpa kita sadari.
Fenomena RBP dipengaruhi oleh cara teknologi terbaru dirancang. Saat ini, platform digital menggunakan algoritma yang berusaha untuk terus menarik perhatian pengguna. Reviglio dan Agosti (2020) mengemukakan bahwa sistem rekomendasi yang didukung AI bisa memanfaatkan teknik hypernudging yang membuat pengguna merasa nyaman bertahan dalam aplikasi tanpa mereka sadari. Dalam hal ini, kebiasaan menunda tidur sering kali bukan hanya pilihan individu, tetapi juga akibat dari desain digital yang sengaja mendorong kita untuk berlama-lama. Dari video singkat, notifikasi yang tak henti-hentinya, hingga gulir tanpa akhir memberikan rangsangan dopamin yang terus-menerus. Sementara itu, adanya rasa takut ketinggalan informasi atau yang sekarang biasa disebut fear of missing out (FOMO) mendorong kita untuk tetap terhubung dengan dunia digital meskipun tubuh sudah sangat lelah.
Meskipun terlihat rumit, RBP sebenarnya adalah perilaku yang bisa dimodifikasi. Penelitian yang dilakukan oleh Maulita (2020) mengungkapkan bahwa terapi cinta diri dapat mengurangi kedalaman RBP dengan meningkatkan kesadaran diri, menghargai kebutuhan tubuh, serta kemampuan untuk menetapkan batasan yang sehat. Para partisipan dalam penelitiannya mampu kembali ke kebiasaan tidur yang teratur setelah mengikuti terapi, yang menunjukkan bahwa membangun hubungan positif dengan diri sendiri bisa mempengaruhi pola tidur dengan signifikan. Intinya adalah ketika seseorang mencintai dan menghargai dirinya sendiri, ia tidak merasa perlu untuk mengorbankan hari esok demi kepuasan sesaat.
Pada akhirnya, Revenge Bedtime Procrastination bukan hanya sekadar kebiasaan menunda tidur. Ia merefleksikan bagaimana manusia berjuang antara tuntutan kehidupan sehari-hari, desain teknologi yang mengundang ketergantungan, kebutuhan psikologis yang tidak terpuaskan, dan keinginan untuk memiliki kendali atas hidup mereka. Tidur bukanlah lawan kebebasan, sebaliknya, ia adalah dasar dari kejernihan pikiran, stabilitas emosi, dan kesehatan jangka panjang. Meskipun menunda tidur mungkin terasa seperti kemenangan kecil di malam hari, dalam jangka panjang hal tersebut justru merusak kualitas hidup kita. Dengan memahami dasar-dasar psikologis dan neurologisnya, kita dapat mulai membangun hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri dan juga dengan waktu istirahat kita.
Trending Now