Konten Media Partner

Marak Kecelakaan Tronton, Wako Edi Desak Pemprov Pindahkan Pelabuhan ke Kijing

13 November 2025 21:35 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Marak Kecelakaan Tronton, Wako Edi Desak Pemprov Pindahkan Pelabuhan ke Kijing
Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono, mendesak Pemprov Kalbar untuk segera memindahkan pelabuhan kota ke Pelabuhan Kijing di Mempawah untuk mengurangi lakalantas. #publisherstory #hipontianak
HiPontianak
Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Pontianak, Edi Kamtono. Foto: Dok. Istimewa
Hi!Pontianak - Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menyoroti masih maraknya insiden kecelakaan lalu lintas yang melibatkan kendaraan besar di Kota Pontianak. Ia mendesak perlunya pemindahan aktivitas pelabuhan dari pusat kota ke Pelabuhan Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
“Belakangan ini memang sering terjadi kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar. Saya sudah berulang kali meminta agar pelabuhan di Kota Pontianak ini dipindahkan ke Pelabuhan Kijing yang sebenarnya sudah beroperasi,” kata Edi.
Menurutnya, peningkatan kapasitas pelabuhan di dalam kota setiap tahun menyebabkan volume kendaraan berat semakin tinggi, terutama truk trailer dan kontainer. Saat ini, pelabuhan telah melebihi kapasitas.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Pontianak membatasi jam operasional kendaraan besar, seperti kontainer. Kendaraan kontainer berukuran 20 feet dilarang beraktivitas mulai dari pukul 06.00 - 08.00 WIB dan 16.00 - 19.00 WIB. Sementara itu, kendaraan 40 feet dilarang beroperasi mulai dari pukul 05.00 - 21.00 WIB.
“Namun, di luar jam tersebut lalu lintas di dalam kota tetap padat dan tidak ada jalan alternatif lain. Karena itu, kami terus mendorong agar pelabuhan dipindahkan ke Kijing serta dibangun jalur outer ring road untuk mengurai kepadatan,” jelasnya.
Edi pun mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati, terutama di ruas jalan yang kerap dilalui kendaraan berat, seperti di Jalan Tanjungpura, Imam Bonjol, Pak Kasih, dan Kom Yos Sudarso. Ia juga meminta para pengemudi kendaraan kontainer dan pengendara lainnya agar lebih waspada dan menaati aturan keselamatan.
“Setiap hari ada sekitar 200 hingga 300 truk dan kontainer keluar masuk pelabuhan. Jika semua harus dikawal, tentu memerlukan banyak personel. Namun, kalau operasional mereka dihentikan sepenuhnya akan berdampak pada distribusi ekonomi, terutama kebutuhan pokok masyarakat di Kalimantan Barat. Karena itu, solusi terbaik adalah memindahkan aktivitas pelabuhan ke Kijing,” tuturnya.
Ia menambahkan, jika Pelabuhan Kijing beroperasi penuh, truk-truk kontainer tidak lagi melintas di Kota Pontianak. Kalaupun masih ada truk kecil, itu hanya untuk melayani pelabuhan dengan kapasitas terbatas.
“Kuncinya ada pada percepatan pembangunan jalur outer ring road dan jalan bebas hambatan. Jika memungkinkan, bahkan bisa dibuat jalan tol yang menghubungkan Pontianak, Mempawah, dan sekitarnya,” ujar Edi.
Terkait belum beroperasinya Pelabuhan Kijing secara penuh, Edi menjelaskan hal itu bukan kewenangan Pemerintah Kota Pontianak.
“Nah, itu tanyakan kepada Pelindo karena bukan kewenangan Pemerintah Kota. Jalan nasional juga merupakan tanggung jawab pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR. Saya akan kembali menyampaikan kepada Bapak Gubernur agar mendorong Pelindo segera mengoperasikan Pelabuhan Kijing secara penuh karena ini sangat penting bagi kelancaran lalu lintas dan perekonomian daerah,” pungkasnya.
Penulis: Ade Mirza
Trending Now