Konten dari Pengguna

Titik Sunyi di Bawah Bibir

Moh Cholid Baidaie
Menulis untuk mencari yang hilang, bukan untuk mengajari. Alumni Pondok Nurul Jadid dan UIN Madura. Kini bekerja sebagai penulis lepas, menyusun kalimat seperti merapikan luka.
7 Agustus 2025 11:38 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Titik Sunyi di Bawah Bibir
Sartre pernah menulis bahwa keberadaan mendahului esensi. Kita tidak lahir dengan definisi; kita membentuk makna hidup melalui pilihan-pilihan.
Moh Cholid Baidaie
Tulisan dari Moh Cholid Baidaie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar dibuat oleh ai
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat oleh ai
Ada satu percakapan yang masih saya ingat, bukan karena panjangnya, tapi karena datang dari seseorang yang sempat menjadi pusat semesta. Waktu itu, di sebuah sore yang biasa saja, dia berkata sambil tersenyum, “Biarkan saja tumbuh, itu bagus kok.”
Tangannya menunjuk ke bawah bibir saya, ke rambut halus yang mulai terlihat, nyaris tak berarti. Saya tertawa kecil, pura-pura tak peduli, padahal sejak itu, saya tak pernah benar-benar mencukurnya habis lagi.
Orang itu pernah saya kira akan menjadi rumah—tempat pulang yang tenang, tempat menetap yang sederhana. Tapi waktu punya jalan sendiri. Kini kami menempuh arah yang berbeda, dengan luka-luka kecil yang tetap diam meski sudah lama lewat. Tapi kata-katanya tentang janggut kecil itu, entah kenapa, tinggal lebih lama dari yang lain. Mungkin karena ia datang bukan sebagai nasihat, tapi sebagai penerimaan.
Di wajah laki-laki Indonesia, tidak banyak yang tumbuh dengan janggut lebat seperti milik para filsuf Yunani atau penyair Persia. Sebagian hanya memiliki jejak samar di pipi, sedikit bayang-bayang di dagu, dan mungkin—kalau beruntung—seberkas tipis di bawah bibir. Itu pun tak semua sadar bahwa bagian kecil itu punya nama dalam dunia modern: soul patch. Tapi di desa-desa atau pinggiran kota di Indonesia, bagian itu lebih sering disebut dengan istilah sederhana: janggut kecil. Atau kalau ingin terdengar lebih puitis, mungkin bisa disebut: titik sunyi di bawah bibir.
Ada masa ketika saya ingin memiliki wajah seperti bintang film luar negeri—dengan kumis rapi atau janggut tebal yang memberi kesan maskulin. Seolah-olah kejantanan bisa diukur dari bayang-bayang yang tumbuh di wajah. Tapi apa gunanya mencoba menjadi orang lain dalam tubuh sendiri? Saya belajar bahwa beberapa bagian dari tubuh kita bukan untuk diubah, melainkan untuk dipahami. Soul patch itu, ternyata, cukup.
Saya merapikannya sesekali. Tidak mencukurnya habis. Ia tumbuh pelan-pelan, seperti kenangan kecil yang tak pernah ingin hilang. Mungkin karena di balik saran untuk membiarkannya tumbuh, tersimpan pengakuan halus bahwa saya diterima sebagaimana adanya.
Dalam filsafat, ada satu pendekatan yang terasa cocok untuk pengalaman ini: filsafat eksistensial. Sartre pernah menulis bahwa keberadaan mendahului esensi. Kita tidak lahir dengan definisi; kita membentuk makna hidup melalui pilihan-pilihan. Mungkin membiarkan satu bagian kecil dari wajah tumbuh bukan keputusan besar, tapi dalam konteks eksistensial, itu bisa berarti penerimaan, kejujuran, dan keberanian untuk tidak menjadi orang lain.
Kierkegaard berbicara tentang “keberanian menjadi diri sendiri di hadapan Tuhan”. Dan saya kira, salah satu bentuk keberanian itu adalah merawat bagian dari diri yang paling kecil, yang sering terabaikan, tapi justru membawa makna. Soul patch itu bukan sekadar rambut. Ia adalah cara untuk berkata: saya tidak butuh menjadi seperti mereka, saya cukup seperti ini.
Di sekitar kita, terlalu banyak standar. Wajah tampan harus seperti ini, maskulin harus seperti itu. Dan kita pun ikut-ikutan, mencukur ini, menumbuhkan itu, berharap bisa menyerupai bayangan yang tidak pernah selesai. Tapi seperti soul patch yang tumbuh diam-diam di bawah bibir, kadang yang kecil dan sederhana justru lebih tahan lama.
Saya tidak tahu apakah orang yang menyarankan itu masih mengingatnya. Tapi saya mengingatnya. Karena sejak hari itu, saya berhenti iri pada janggut orang lain. Saya berhenti berharap punya wajah seperti aktor luar negeri. Saya mulai menerima bahwa wajah saya bukan untuk ditiru, melainkan untuk dihayati. Soul patch itu adalah titik jeda di wajah saya. Tanda bahwa saya pernah didengarkan, dan bahwa saya pernah dianggap cukup.
Dalam tradisi Timur, terutama dalam sufisme, ada pemahaman bahwa kecantikan dan kebenaran sering tersembunyi dalam hal-hal kecil. Jalaluddin Rumi menulis bahwa Tuhan tersembunyi dalam detil-detil yang tak disangka. Dan mungkin benar, bahwa dalam setitik janggut yang nyaris tak terlihat itu, ada pelajaran spiritual yang tak selesai saya mengerti.
Kini, setiap kali mencuci muka dan bercermin, saya selalu memperhatikan bagian itu. Kadang tumbuh tak teratur, kadang terlihat aneh, tapi tetap saya biarkan. Merapikannya, ya. Menghapusnya sepenuhnya, tidak. Sebab ada hal-hal yang jika kita hilangkan, bukan cuma bentuknya yang lenyap, tapi juga makna yang pernah dititipkan padanya.
Dan hidup, pada akhirnya, adalah tentang menghormati makna-makna kecil yang diam. Tidak semua nasihat datang dalam bentuk buku. Tidak semua cinta datang dalam bentuk kata. Kadang, cukup satu saran lembut—“biarkan saja janggut kecil itu tumbuh”—dan hidup pun mulai terasa cukup.
Barangkali tidak banyak orang yang memperhatikan janggut kecil di bawah bibir. Tapi saya memperhatikannya. Karena di sanalah saya mulai menerima wajah sendiri. Di sanalah saya tahu bahwa menjadi manusia bukan berarti memenuhi semua ekspektasi, melainkan tahu bagian mana yang harus dirawat, dan bagian mana yang tak perlu dipaksakan.
Soul patch, atau titik sunyi di bawah bibir itu, kini menjadi semacam pengingat: bahwa saya pernah dihargai dalam bentuk paling asli. Dan itu cukup.
Trending Now