Konten dari Pengguna
Cerita dari Mereka yang Tidak Suka Nasi
12 November 2025 7:00 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Cerita dari Mereka yang Tidak Suka Nasi
Seorang yang menceritakan tentang fenomena dimana dia tidak bisa memakan Nasi dan makanan lainnyaHussein Tegar praditya
Tulisan dari Hussein Tegar praditya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua orang bisa menikmati sepiring nasi hangat. Bagi sebagian orang, nasi justru menimbulkan rasa takut dan ketidaknyamanan. Inilah kisah nyata tentang bagaimana saya menjalani hidup tanpa nasiโdan belajar bahwa nasi bukanlah segalanya.
Bagi kebanyakan orang Indonesia, nasi adalah makanan pokok yang tak tergantikan. Banyak yang merasa belum benar-benar makan jika belum menyantap nasi. Namun, tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama. Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak bisa memakan nasi, bahkan sejak kecil.
Menurut cerita dari ibu saya, sejak bayi saya sudah sulit menerima makanan yang bertekstur kasar. Setiap kali disuapi nasi, saya akan menolak atau menangis. Karena itu, ibu saya menggantinya dengan bubur tim atau makanan lembut lainnya. Seiring bertambahnya usia, ketidaksukaan itu berubah menjadi ketakutan. Saya tidak hanya enggan makan nasi, tetapi juga takut melihat atau mencium aromanya. Hanya dengan mendekatinya saja, saya merasa mual dan ingin menjauh.
Kini setelah dewasa, rasa takut itu memang mulai berkurang. Saya sudah bisa melihat dan memegang nasi tanpa merasa panik. Tapi untuk memakannya, tubuh saya masih belum bisa menerima. Setiap kali mencoba, perut saya terasa tidak nyaman dan sering kali langsung mual. Tidak hanya nasi, saya juga tidak bisa makan sayur, buah, maupun daging. Akibatnya, pola makan saya sangat terbatas.
Sebagai gantinya, saya mengonsumsi roti dan kentang sebagai sumber karbohidrat utama. Untuk menjaga asupan gizi, saya menambah susu dan vitamin setiap hari. Meski begitu, rasa bosan tentu sering muncul. Ketika orang lain bisa menikmati nasi goreng, mie ayam, atau bakso, saya hanya bisa memilih roti panggang atau makanan ringan dari toko. Dunia kuliner terasa sempit bagi saya.
Berbagai cara sudah pernah saya coba. Saya pernah menjalani shock therapy bahkan hipnoterapi, tetapi hasilnya nihil. Tubuh saya tetap menolak nasi, seolah sudah menjadi bawaan alami. Akhirnya saya memilih berdamai dengan keadaan ini. Meski kadang terasa canggung saat makan bersama keluarga atau teman, saya belajar untuk tidak memaksakan diri.
Banyak orang menganggap aneh ketika mendengar saya tidak bisa makan nasi. Namun, pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap orang punya kondisi tubuh dan kebiasaan yang berbeda. Tidak semua yang dianggap โnormalโ berlaku untuk semua orang.
Pada akhirnya, saya belajar bahwa nasi bukan segalanya. Selama kebutuhan gizi terpenuhi dan tubuh tetap sehat, apa pun bentuk makanannya tak masalah. Mungkin saya tidak bisa menikmati sepiring nasi hangat, tapi saya tetap bisa menikmati hidup dengan cara saya sendiri.

