Konten dari Pengguna

Jalan Panjang Kota Surabaya Menuju Smart City

Ian Firstian Aldhi
Doktor Pengembangan SDM, Smart City Researcher, Research Team Center for Dynamic Capability (CDC) Universitas Airlangga, Co-Founder Firstian Consulting Education.
3 Oktober 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jalan Panjang Kota Surabaya Menuju Smart City
Jalan panjang Kota Surabaya menuju smart city: Surabaya menunjukkan bahwa keberhasilan lahir dari keberanian berimprovisasi dan konsistensi membangun kelembagaan pada kepentingan publik. #userstory
Ian Firstian Aldhi
Tulisan dari Ian Firstian Aldhi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Kota Surabaya. Foto: RnC Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kota Surabaya. Foto: RnC Studio/Shutterstock
Perjalanan Surabaya menuju kota cerdas (smart city) berlangsung incremental dan berorientasi pada hasil. Tonggak pentingnya agenda ini terlihat pada Digital Government Award (DGA) 2024 di Istana Negara (27 Mei 2024), ketika Kementerian PANRB menempatkan Kota Surabaya sebagai peringkat pertama kategori pemerintah kota dengan indeks SPBE 4,49 (skala 5) yang naik dari 3,69 pada 2022.
Dari sisi arsitektur pelayanan publik, Pemerintah Kota Surabaya berhasil mengintegrasikan berbagai layanan warga ke dalam satu ekosistem aplikasi. Contoh paling menonjol adalah aplikasi WargaKu yang berfungsi sebagai pintu masuk tunggal (single entry point) untuk mengakses layanan kependudukan, kesehatan, pendidikan, perizinan, hingga kanal aduan.
Transformasi perizinan secara digital, misalnya pada Surabaya Single Window (SSW) berevolusi menjadi SSW Alfa yang menggabungkan seluruh proses perizinan ke dalam satu kanal daring dengan pelacakan status secara real-time. Partisipasi warga kini difasilitasi melalui e-Musrenbang (Elektronik Musyawarah Perencanaan Pembangunan). Platform ini tidak hanya membuat proses perencanaan pembangunan lebih terstruktur dan efisien, tetapi juga membuka akses yang lebih transparan, sehingga usulan warga dapat ditelusuri dengan jelas.
Ilustrasi Surabaya. Foto: Shutter Stock
Pada aspek keselamatan, Surabaya mendirikan Command Center 112 yang siaga 24 jam sebagai layanan darurat. Koordinasi lintas instansi memungkinkan waktu tanggap rata-rata ≤ 8 menit. Di layanan kesehatan primer, e-Health Surabaya menghadirkan pendaftaran antrean puskesmas atau rumah sakit secara daring, informasi jadwal, hingga kios digital bagi warga yang tidak memiliki gawai. Integrasi kanal daring dan on-site membuat layanan lebih inklusif tanpa mengorbankan efisiensi.
Smart Mobility di Surabaya diwujudkan lewat Suroboyo Bus dan Trans Semanggi Suroboyo, aplikasi GOBIS untuk cek posisi dan bayar tiket nontunai, layanan feeder Wirawiri, terminal park & ride, e-parking, bus sekolah gratis, serta jalur sepeda dan trotoar yang makin luas. Hasilnya, perjalanan lebih lancar, aman, inklusif, dan warga makin terbiasa meninggalkan kendaraan pribadi.
Pada sektor energi dan persampahan, PLTSa Benowo menjadi proyek unggulan pengolahan sampah menjadi listrik. Fasilitas ini mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari dengan kapasitas produksi 11–12 MW dan dalam fase tertentu bisa mencapai hingga 1.600 ton.
Ilustrasi UMKM. Foto: Kemenkop dan UKM
Selain itu, pemberdayaan ekonomi lokal juga digerakkan melalui e-Peken, marketplace untuk UMKM, toko kelontong, dan sentra kuliner. Sejak dibuka pada 2022, nilai transaksi terus meningkat dari Rp35 miliar pada periode awal hingga menembus Rp189,5 miliar per Juni 2025.
Seluruh capaian ini bertumpu pada kebijakan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan penguatan kelembagaan. Keberhasilan Surabaya bukan karena menyalin mentah-mentah best practice kota lain, melainkan berkat improvisasi orkestrasi Pemerintah Kota Surabaya yang menyesuaikan dengan konteks lokal atau disebut bricolage. Dengan pendekatan ini, Surabaya menajamkan pilihan teknologinya untuk menjawab persoalan yang paling relevan bagi warganya.
Ke depan, tantangan kota-kota di Indonesia tidak sekadar mengejar label smart city, tetapi memastikan bahwa teknologi benar-benar menyentuh kebutuhan warganya. Surabaya menunjukkan bahwa keberhasilan lahir dari keberanian berimprovisasi, konsistensi membangun kelembagaan, dan keberpihakan pada kepentingan publik. Pertanyaannya: Apakah kota/kabupaten selain Surabaya siap menempuh langkah serupa?
Trending Now