Konten dari Pengguna

Keterlibatan Umat Kristen dalam Lingkungan Masyarakat Islam

Ida Fitriya
Mahasiswa Universitas Jember
8 Desember 2025 9:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Keterlibatan Umat Kristen dalam Lingkungan Masyarakat Islam
Perbedaan agama tidak menghalangi seseorang untuk saling menghargai dan merayakan kebahagiaan bersama. Justru dari kebersamaan itulah hidup jauh lebih indah dan harmonis. #userstory
Ida Fitriya
Tulisan dari Ida Fitriya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anak bersalaman mengucapkan selamat. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak bersalaman mengucapkan selamat. Foto: Shutter Stock
Setiap sore sekitar jam setengah empat, saya selalu siap dengan motor beat kesayangan saya untuk menjemput ibu di pabrik kerupuk puli. Pabrik itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu jauh dengan rumah saya. Pabrik itu selalu ramai saat menjelang sore. Bau kerupuk puli yang digoreng tipis dan celotehan para pekerja yang mau pulang membuat suasana menjadi hangat.
Namun, hari itu berbeda karena masih bertepatan dengan hari keempat Lebaran. Meskipun masih suasana Lebaran, ibu saya masih tetap bekerja karena jadwal liburnya hanya diberi 3 hari saat awal Lebaran tersebut.
Saya datang sedikit lebih awal karena tahu jam kerja ibu tidak terlalu padat. Saat memarkir motor, saya melihat sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak. Saya melihat ada beberapa orang Kristen dan Islam saling bersalaman dan saya mendengar mereka mengucapkan, "Selamat Idul Fitri," dan "Mohon maaf lahir batin."
Ilustrasi hidangan lebaran. Foto: Shutterstock
Pada saat itu, saya melihat Pak Jokoโ€”yang beragama Kristenโ€”sedang membagikan kue. Ia membagikan kue itu kepada teman-teman muslimnya sambil tertawa, "Ini kue nastar dari saya agar Lebaran menjadi tambah manis!" Saya kaget; bukan karena ia baik, melainkan karena saya memang sudah tahu. Namun, saya tidak menyangka ia bisa seantusias itu ikut menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Saya jadi sedikit teringat, ibu saya pernah cerita ke saya bahwa memang Pak Joko itu orangnya dari dulu sangat bersemangat menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bahkan, di rumahnya pun juga terdapat kue-kue Lebaran dan beberapa saudaranya yang beragama Islam maupun Kristen juga datang untuk bersilaturahmi.
Saya melihat suasana di pabrik pun jadi terasa hangat. Saya melihat saudara dari juragan ibu saya juga turut bersalaman dengan para pekerja. Kebetulan, juragan ibu saya beragama Kristen dan mereka juga turut bahagia menyambut Idul Fitri.
image by https://gemini.google.com
Bahkan, di rumah juragan tersebut juga terdapat kue-kue Lebaran. Saya memperhatikan semua itu dan rasanya seperti melihat bahwa Lebaran bukan tentang soal perbedaan agama, melainkan soal kebersamaan dari orang-orang yang ingin menciptakan keharmonisan tersebut.
Ketika ibu akhirnya selesai dan keluar dari pabrik, wajahnya ku lihat sangat cerah. "Ida, di dalam rame sekali, ibu di beri kue sama saudara juragan ibu," katanya sambil naik ke motor.
"Ibu sampai dikasih dua kali," kami tertawa. Lalu, ibu berkata, "Dulu waktu ibu masih kecil, berbeda agama itu sering membuat hubungan menjadi berjarak dan tidak rukun, tetapi sekarang lihat, semua senang bareng-bareng. Yang Kristen ikut Lebaran, yang Islam nanti ikut makan kue Natal. Kalau hidup dijalani bareng, rasanya lebih ringan."
Ilustrasi Gereja. Foto: REUTERS/Vasily Fedosenko
Dalam perjalanan pulang, saya memikirkan apa yang saya lihat. Rasanya aneh, tetapi hangat saat melihat umat Kristen turut ikut merayakan Idul Fitri. Bahkan, mereka tahu berbagai tradisi Lebaran, mulai dari mulai ketupat, saling memaafkan, sampai menyiapkan bingkisan kecil untuk teman-teman Muslim.
Dan saya mulai sadar, yang saya lihat hari itu lebih dari sekadar hari raya; itu tentang bagaimana manusia yang saling menghargai, saling menjaga, bertoleransi, dan turut bahagia ketika orang lain juga bahagia.
Saya sadar bahwa saat itu saya tidak hanya menjemput ibu pulang, tetapi juga membawa kenangan tentang bagaimana Idul Fitri juga dirayakan dengan tulus oleh umat Kristen. Dan saya merasa pulang dengan hati hangat. Ternyata, perbedaan tersebut tidak membuat kita jauh. Justru, perbedaan membuat hidup ini lebih indah dan harmonis.
Trending Now