Konten dari Pengguna
Challenge Menulis dan Secangkir Kopi
20 Februari 2022 8:44 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Challenge Menulis dan Secangkir Kopi
Tentang peserta pelatihan menulis yang hampir tidak dapat menyelesaikan tugasnya. Kopi selalu memberi dukungan di saat mendesak. Memberi support pada adrenalin dan imajinasi hingga tugaspun selesai.Ikrar W Sutomo
Tulisan dari Ikrar W Sutomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini tentang tantangan. Setiap kali menaiki kereta, setiap kali melintas jalan, setiap kali bercengkrama dengan para petani, melewati pasar-pasar yang ramai, lalu membaca berita-berita di media sosial, selalu saja pikiran ini berkelana. Banyak yang menyentak di batin, mengganggu pikiran dan membuat untaian-untaian panjang cerita dalam kepala.
Bentuk ketidakadilan, ketimpangan, ketidakberdayaan, kemasabodohan, keserakahan semua membuat kepala ini berceloteh. Kerap berkata juga dalam hati seperti sebuah tekad akan kutulis opini dalam kepalaku, hingga setidaknya teman sepermainanku tahu bahwa tidak semuanya baik-baik saja. Ada yang perlu dibenahi, ada yang tidak lurus di relnya, tidak pas di kotaknya.
Meskipun tidak semua isi kepala ini adalah gundah. Banyak pula optimis yang muncul, berkelebat, dari sebuah senyum pedagang rokok, atau pengamen kecil yang ternganga kala mendapat lima puluh ribuan dan berlari menghambur ke kawannya, atau sumringah petani menyiram tanaman jagungnya di tepi pantai.
Ya, setiap kali ingin sekali kutuangkan cerita panjang itu, tapi hanya menjadi satu kalimat singkat yang tertuang dalam status WhatsApp. Ternyata kepala ini adalah tipe simple, pembuat kesimpulan, tidak mau menceritakan secara panjang lebar dan detail. Hingga suatu hari, satu flyer pelatihan menulis yang terkirim di sebuah grup wa menarik perhatian kedua mata, dengan investasi yang terjangkau kantong, sangat-sangat memungkinkan untuk mengikutinya.
Akhirnya, di hari ke-dua belas pada bulan Februari, monitor hp mengikuti dengan saksama kelas yang berlangsung di grup wa dan juga aplikasi zoom. Berjalan lancarkah? Oo, dengan dua jadwal kondangan dan susulan PH (penilaian harian) anak kedua yang waktunya bersamaan dengan jadwal pelatihan, telinga ini dipaksa fokus mendengar dan memahami materi-materi yang disampaikan.
Ya, hanya telinga yang dipaksa untuk fokus, karena mata terus berseliweran memberi perintah kepada bibir untuk senyum meladeni obrolan suami. Jadilah yang tampak adalah wajah suami dengan suara obrolan dari lisan narasumber pelatihan. Terbayangkan?
Begitulah. Hingga akhirnya, tugas yang pertama muncul yaitu praktik menulis dengan panjang tulisan 700-800 kata dengan batas waktu empat hari setelah pertemuan pertama. Tertantang? Pasti. Adrenalin meningkat dengan lonjakan-lonjakan ide.
Ingin mengangkat tema petani milenial di metropolitan, harapan petani di tepi pantai, curhatan petani padi di rorotan, banjir kanal timur yang masih produktif, hutan salak di tengah hutan beton, hingga emosi-emosi emak kala penerapan pembelajaran jarak jauh. Perjalanan singkat KRL Pasar Minggu-Depok menjadi semakin singkat karena pikiran yang asyik mencoba mereka-reka apa yang akan dituangkan.
Dari sekian banyak ide, terpilihlah satu yang datanya paling lengkap di antara yang lain. Setelah segar dengan air mandi, laptop pun mulai terpampang. Secangkir kopi panas menemani. Terbayang loncatan-loncatan jari di atas keyboard, menuliskan apa apa yang ada di kepala.
Terbayang. Ya, terbayang. Karena setelah menulis ide utama, kepala ini langsung buntu tidak tahu harus mengetik apa lagi. Apalagi yang akan dicelotehkan. Seruput kopi panas, sambil membayang-bayangkan si tema utama. Terbayang anak muda yang enerjik, terus bertahan hidup dari bidang pertanian, pernah jatuh terpuruk hingga akhirnya berjaya.
Oke, seruput lagi kopi panas dan jari mulai mengetik. Dua kalimat panjang dengan lancar disusun. Lancar seperti kereta melaju di atas rel. Tapi kemudian terhenti di stasiun dan pulang ke dipo nya. Berhenti. Senyap. Hari sudah malam. Bukan, sudah dini hari. Sisa kopi di dasar gelas masih ada. Mubazir jika dibuang. Habiskan dan marilah kita tidur dahulu, semoga besok inspirasi mengalir deras.
Senin berlalu sudah. Dengan kepadatan pekerjaan yang tak bisa dielakkan. Selasa-pun hampir berakhir dengan jadwal yang juga luar biasa. Ah, kala PPKM dan WFH-WFO berlaku kembali, biasanya kepadatan pekerjaan menurun. Kenapa ini malah menanjak? 17.00 waktu Indonesia bagian barat.
Melalui grup wa, Coach menyampaikan terima kasih pada para peserta pelatihan yang telah mengumpulkan tugas. Deg, besok deadline. Tanganku langsung menyambar kopi hitam, seduh dengan air panas dan tanpa gula. Mencoba meningkatkan konsentrasi dengan bantuan adrenalin yang sedang memuncak.
Pengumuman selanjutnya, tulisan seorang peserta yang telah muncul di kumparan.com. Dibaca, sebagai referensi sesama peserta. Tulisannya enak, mudah diikuti, dan mengupas satu sisi kehidupan pegawai honorer. Yup, hampir sama temanya. Tulisan itu mengupas satu aspek pegawai honorer. Tulisan ini akan mengupas satu aspek petani milenial Jakarta.
Seruput kopi hitam panas pahit memanaskan semangat. Tulisan mulai lancar, satu persatu mulai terurai, meski lambat tapi tetap berjalan. Dengan kecepatan sepuluh kata per sepuluh menit. Oh Tuhannnnnn, sesulit inikah menuangkan apa yang terpikirkan dalam sebuah tulisan? Rasa ingin menangis muncul.
Besok tak mungkin lagi menulis karena tugas turun ke lapangan. Malam ini?? Masih beberapa pekerjaan rumah tertunda, dan tidak mungkin tidur hingga dini hari karena esok harus fit. Kopi hitam diteguk kembali, tapi kali ini bukan kopi yang mengalir, ampasnya tertelan hingga ke tenggorokan, membuat tersedak hingga terbatuk menyiksa. Kapok? Tidak.
Secangkir lagi kopi hitam pahit panas diseduh, memaksa berpikir, apa yang dapat ditulis dalam waktu yang cepat dan singkat. Rasa. Yah, ceritakan saja yang kau rasa. Seperti bercerita pada teman dekatmu, nyinyir tanpa henti. Maka, inilah hasilnya.
Challenge yang meningkatkan adrenalin. Saat terjepit, kopi selalu memberi dukungan. Meskipun Amanda Suteja dalam quote-nya di FB mengatakan βHanya orang kesepian yang minum kopi seolah sajian dewa dewiβ dan berhasil membuat tawa meringis, dalam hati terdalam membenarkan Amanda. Tapi kopi juga ritual sebelum nguli, nguli dengan tenaga ataupun dengan imaji seperti challenge menulis ini.
Senin, 15 Februari 2022. 20.44 WIB. Di sudut kantor seorang diri. Bersiap pulang memeluk anak-anak di tempat tidur

