Konten dari Pengguna

Gowes: Olahraga dan Eksistensi Diri di Era Modern

ILHAM GEMIHARTO
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Unpad Kampus Pangandaran
21 Juli 2025 8:45 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Gowes: Olahraga dan Eksistensi Diri di Era Modern
Gowes kini bukan hanya olahraga, tapi cara manusia modern menegaskan eksistensi diri secara fisik, sosial, dan digital melalui komunitas, refleksi diri, dan ekspresi di media sosial.
ILHAM GEMIHARTO
Tulisan dari ILHAM GEMIHARTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dokumentasi Pribadi milik Ilham Gemiharto
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi milik Ilham Gemiharto
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tekanan hidup modern, manusia kerap kehilangan ruang untuk memahami siapa dirinya sebenarnya. Kebutuhan akan jeda, refleksi, dan interaksi autentik mendorong banyak orang mencari alternatif aktivitas yang bukan hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga menghidupkan kembali rasa keberadaan. Di sinilah olahraga bersepeda, atau yang akrab disebut gowes, menemukan relevansinya. Lebih dari sekadar tren gaya hidup sehat, gowes telah berkembang menjadi ekspresi eksistensi diri yang kuat baik di ranah fisik, sosial, maupun digital.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, eksistensi bukan hanya tentang berada, tetapi tentang bagaimana kita menyampaikan keberadaan tersebut kepada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sosial. Gowes, sebagai aktivitas individual dan kolektif, menjadi media ekspresi identitas yang kompleks dan bermakna.

Eksistensi Diri dalam Perspektif Ilmu Komunikasi

Eksistensi diri dalam ilmu komunikasi dapat dijelaskan melalui konsep self-concept dan self-presentation. Joseph A. DeVito menyebutkan bahwa self-concept adalah pandangan individu terhadap siapa dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman, interaksi sosial, dan refleksi terhadap tanggapan dari lingkungan. Dalam konteks ini, bersepeda bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga proses komunikasi intrapersonal di mana seseorang mengafirmasi dirinya sebagai pribadi sehat, aktif, dan mandiri.
Selain itu, teori dramaturgi dari Erving Goffman memberikan lensa menarik untuk memahami bagaimana manusia menampilkan dirinya di hadapan orang lain. Goffman menyatakan bahwa kehidupan sosial ibarat panggung, dan individu memainkan peran tertentu untuk menciptakan kesan. Saat seseorang membagikan aktivitas gowes-nya di media sosial seperti unggahan rute, jarak tempuh, hingga foto estetis, mereka sedang melakukan self-presentation yang memperkuat identitas yang ingin ditampilkan. Gowes menjadi naskah kehidupan yang dipentaskan di ruang publik, yang sekaligus memperkuat eksistensi personal.

Komunitas Gowes dan Interaksi Sosial sebagai Cermin Identitas

Selain menjadi ruang refleksi personal, gowes juga membentuk jejaring sosial yang mendalam. Komunitas-komunitas sepeda bermunculan di berbagai wilayah, menciptakan ruang kolaboratif dan komunikasi antarindividu. Dalam kerangka komunikasi kelompok, interaksi dalam komunitas seperti ini memperkuat rasa memiliki dan identitas sosial.
Penelitian oleh Xu, Yuan, dan Li tahun 2019 menunjukkan bahwa motivasi bersepeda berkorelasi kuat dengan manfaat rekreasi, seperti kebugaran, kesehatan mental, dan interaksi sosial. Temuan ini juga menyatakan bahwa manfaat rekreasi berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan, kepercayaan diri, dan afirmasi identitas diri. Dengan demikian, bergabung dalam komunitas gowes tidak hanya memberi dukungan sosial, tetapi juga membentuk ruang validasi dan refleksi eksistensial. Komunikasi yang terjalin dalam kegiatan gowes, baik saat menyusun rute bersama, memberi semangat, maupun sekadar berbagi cerita, menjadi proses penguatan jati diri yang bersifat kolektif dan bermakna.

Digitalisasi Gowes dan Representasi Eksistensi di Media Sosial

Kehadiran media digital semakin memperkaya dimensi eksistensi dalam aktivitas gowes. Aplikasi seperti Strava, Komoot, dan Garmin Connect memungkinkan aktivitas bersepeda didokumentasikan, dianalisis, dan dibagikan secara luas. Menurut laporan Strava Year in Sport 2023, Indonesia berada di peringkat sepuluh besar negara dengan pertumbuhan pengguna tercepat. Data ini mencerminkan bagaimana dokumentasi aktivitas fisik telah menjadi bagian penting dari gaya hidup digital masyarakat modern.
Dalam perspektif computer-mediated communication, representasi digital dari aktivitas bersepeda merupakan bentuk komunikasi simbolik. Saat seseorang mengunggah hasil bersepedanya, mereka sedang menyampaikan pesan identitas seperti aktif, disiplin, dan progresif. Namun, sebagaimana diingatkan Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together, eksistensi digital juga bisa menciptakan ilusi koneksi dan validasi semu. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk menempatkan dokumentasi gowes sebagai refleksi jujur, bukan sekadar ajang pencitraan atau kompetisi sosial.
Gowes bukan hanya aktivitas membakar kalori, tetapi juga medium komunikasi diri yang mencakup tiga ranah utama yaitu refleksi intrapersonal, interaksi sosial, dan ekspresi digital. Dalam setiap kayuhan, manusia modern tidak sekadar bergerak menuju tujuan fisik, tetapi juga membangun makna, mempertegas eksistensi, dan menenun identitasnya sendiri. Di tengah dunia yang serba cepat dan artifisial, gowes menjadi perlawanan sunyi yang bermakna. Ia adalah ajakan untuk hadir secara utuh, sadar, dan otentik dalam hidup yang terus bergerak.

Trending Now