Konten dari Pengguna

Manipulasi 'Untung Mudah': Bagaimana Judi Online Menipu Persepsi Publik

ILHAM GEMIHARTO
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Unpad Kampus Pangandaran
7 Agustus 2025 20:38 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Manipulasi 'Untung Mudah': Bagaimana Judi Online Menipu Persepsi Publik
Tulisan ini menganalisis bagaimana platform judi online menggunakan Framing Theory untuk memanipulasi persepsi publik tentang "untung mudah" dan menipu masyarakat Indonesia.
ILHAM GEMIHARTO
Tulisan dari ILHAM GEMIHARTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
freepik.com
Dalam lanskap digital Indonesia yang semakin kompleks, fenomena judi online telah menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Yang mengkhawatirkan bukan hanya keberadaannya, tetapi bagaimana platform-platform ini secara sistematis memanipulasi persepsi publik melalui strategi komunikasi yang terstruktur. Framing Theory, yang dikembangkan oleh Erving Goffman dan kemudian diperluas oleh Robert Entman, memberikan lensa analitis yang tepat untuk memahami bagaimana judi online berhasil menyajikan dirinya sebagai "jalan pintas menuju kekayaan."
Menurut Entman (1993), framing adalah proses seleksi aspek-aspek tertentu dari realitas yang dianggap penting untuk dikomunikasikan, sehingga membuat masalah tersebut lebih mencolok, bermakna, atau mudah diingat bagi audiens. Platform judi online telah menguasai seni framing ini dengan sempurna. Mereka tidak pernah menyebut aktivitas mereka sebagai "judi" atau "perjudian," melainkan menggunakan terminologi yang lebih ramah seperti "game berhadiah," "prediksi beruntung," atau "investasi digital." Frame bahasa ini secara halus menggeser persepsi dari aktivitas berisiko tinggi menjadi hiburan yang menguntungkan.
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa 73,3% pengguna internet Indonesia berusia 13-18 tahun aktif menggunakan media sosial, yang menjadi sarana utama promosi judi online. Platform-platform ini memanfaatkan algoritma media sosial untuk menampilkan konten yang di-frame secara khusus: video testimoni kemenangan besar, screenshot transfer puluhan juta rupiah, dan narasi "dari nol menjadi milyuner dalam semalam." Frame visual dan naratif ini sengaja mengabaikan kisah-kisah kerugian dan kebangkrutan yang jauh lebih umum terjadi.
Strategi framing judi online juga memanipulasi aspek waktu dan usaha. Mereka memframe aktivitas judi sebagai solusi instan untuk masalah ekonomi, terutama menargetkan generasi muda yang menghadapi tekanan finansial dan ketidakpastian masa depan. Slogan-slogan seperti "5 menit jadi jutawan" atau "modal 50 ribu, untung 5 juta" secara eksplisit mem-frame judi sebagai investasi dengan return yang pasti dan cepat, padahal realitasnya justru sebaliknya.
Yang lebih berbahaya lagi adalah bagaimana platform ini mem-frame diri mereka sebagai "komunitas pemenang." Mereka menciptakan grup-grup WhatsApp atau Telegram dengan nama-nama yang mengesankan kesuksesan, di mana anggota berbagi "strategi jitu" dan saling memotivasi. Frame komunitas ini memberikan legitimasi sosial dan mengurangi stigma negatif yang biasanya melekat pada aktivitas perjudian.
Platform judi online juga memanfaatkan framing emosional dengan mengaitkan aktivitas mereka dengan nilai-nilai positif seperti "keberanian mengambil peluang," "tidak mau hidup biasa-biasa saja," atau "berani bermimpi besar." Frame ini mengubah narasi dari "berjudi untuk mendapat uang" menjadi "berjuang untuk meraih impian," sehingga mengikis resistensi moral yang mungkin dimiliki calon korban.
Ironinya, sementara platform-platform ini mem-frame diri sebagai pemberi solusi finansial, mereka justru menciptakan masalah yang jauh lebih besar. Ketergantungan, kebangkrutan, dan kehancuran hubungan keluarga adalah realitas yang sengaja di-frame keluar dari narasi utama mereka. Korban yang mengalami kerugian besar di-frame sebagai "belum beruntung" atau "perlu belajar strategi yang tepat," bukan sebagai konsekuensi logis dari sistem yang memang dirancang untuk menguntungkan bandar.
Kesadaran akan manipulasi framing ini adalah langkah pertama untuk melawan propaganda judi online. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu dibekali literasi media yang mampu membongkar frame-frame menyesatkan tersebut. Hanya dengan pemahaman kritis terhadap bagaimana pesan dikemas dan disajikan, kita dapat melindungi diri dari jerat "untung mudah" yang sesungguhnya adalah ilusi berbahaya.
Trending Now