Konten dari Pengguna

Menembus Kelamnya Bumi Manusia

Imam Samudra
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
11 Agustus 2024 10:30 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menembus Kelamnya Bumi Manusia
Bumi Manusia mengandung banyak nilai kehidupan dan memberikan gambaran tentang situasi Indonesia pada masa itu. Buku ini juga memancarkan semangat perjuangan melalui karakter-karakternya
Imam Samudra
Tulisan dari Imam Samudra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
lIlustrasi foto orang memegang bendera merah putih/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
lIlustrasi foto orang memegang bendera merah putih/Shutterstock
Saya baru saja menyelesaikan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (Pram). Novel ini ditulis oleh Pram saat ia berada di Pulau Buru sebelum akhirnya diterbitkan pada tahun 1975. Sejak tahun 1973, novel ini sudah mulai diceritakan ulang dari satu orang ke orang lain. Pram lahir di Blora pada 6 Februari 1925, sebagai putra sulung dari pasangan seorang guru dan putri tengah dari seorang petinggi keagamaan di Rembang. Pram menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Institut Boedi Oetomo, Blora, dan melanjutkan pendidikannya di Sekolah Teknik Radio Surabaya (Radio Volkschool Surabaya) selama satu setengah tahun. Namun, berbagai masalah yang dialami, baik dari keluarga maupun lainnya, menyebabkan Pram tidak naik kelas. Selain sebagai seorang sastrawan, Pram juga terlibat dalam dunia politik. Sebagai penulis yang aktif, Pram ikut serta dalam berbagai polemik mengenai sastra dan politik pada masanya. Banyak karyanya yang mencerminkan pandangan pribadinya, yang dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu. Beberapa karya terkenalnya antara lain Bumi Manusia(1980), Anak Semua Bangsa(1980), Jejak Langkah(1985), dan Rumah Kaca(1988). Bumi Manusia mengandung banyak nilai kehidupan dan memberikan gambaran tentang situasi Indonesia pada masa itu. Buku ini juga memancarkan semangat perjuangan melalui karakter-karakternyakarakter-karakternya. Saya akan membahas beberapa aspek penting dari novel ini. Pertama, tentang tokoh-tokoh dan karakternya. Kedua, tentang alur ceritanya. Terakhir, pesan yang dapat kita ambil dari novel tersebut. Pertama, ada beberapa tokoh penting yang perlu dibahas, karena banyak pesan yang disampaikan melalui dialog dan pergulatan mereka. Tokoh utama adalah Minke, seorang pemuda tampan yang gemar menulis dan membaca koran. Dia adalah siswa H.B.S yang terpesona oleh peradaban Eropa. Kemudian ada Robert Suurhof, teman Minke di sekolah H.B.S., seorang peranakan Eropa. Annelies, seorang gadis cantik yang berkarakter kekanak-kanakan. Nyai Ontosoroh, ibu Annelies, adalah seorang perempuan yang cantik, bijaksana, rajin, dan mampu melakukan banyak hal. Jean Marais, seorang pelukis asal Perancis dan mantan militer kompeni yang pernah bertempur di Aceh, adalah sahabat Minke. Terakhir adalah Kommer, seorang jurnalis yang juga menjadi sahabat Minke. Meskipun ada tokoh-tokoh lain yang tidak disebutkan satu per satu, tokoh-tokoh di atas adalah yang paling menonjol karena mereka berhubungan langsung dengan tokoh utama dalam novel ini. Novel ini memiliki alur yang sangat relevan dengan sejarah Indonesia. Ceritanya berfokus pada pergulatan hidup Minke dan keluarga Nyai Ontosoroh. Kisah dimulai ketika Robert Suurhof mengajak Minke bertemu dengan kenalannya di Surabaya, tepatnya di Wonokromo. Di sana, Minke bertemu dengan Annelies, adik dari teman Robert. Pertemuan ini adalah awal mula hubungan antara Minke dan Annelies. Annelies kemudian memperkenalkan Minke kepada ibunya, Nyai Ontosoroh. Pertemuan Minke dengan Nyai Ontosoroh menjadi momen penting. Minke bingung harus memperlakukan Nyai dengan adat Jawa atau Eropa. Namun, Nyai Ontosoroh langsung menyodorkan tangannya untuk berjabat, menunjukkan bahwa dia tidak terikat pada adat tertentu. Minke kemudian diajak berkeliling oleh Annelies ke sekitar rumah sekaligus tempat kerja Nyai dan Annelies. Tanpa sadar, ketika hendak pulang, Minke mencium pipi Annelies. Setelah peristiwa itu, Minke dan Robert pun pulang. Beberapa waktu kemudian, Minke menerima surat undangan dari Nyai untuk datang kembali ke Wonokromo. Minke pun setuju tanpa berpikir panjang. Seiring berjalannya waktu, Minke dan Annelies semakin dekat. Setelah Minke lulus, dia menikahi Annelies. Banyak pesan yang disampaikan dalam novel ini, terutama melalui dialog antar tokoh. Namun, roh utama dari novel ini adalah memperjuangkan hak asasi manusia. Minke, sebagai seorang jurnalis, mencurahkan seluruh usahanya untuk memperjuangkan hak-hak manusia. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis dan membaca. Pada masa itu, kehidupan bangsa Indonesia sangat kelam, lebih gelap dari malam yang gulita. Pribumi dipandang rendah oleh orang Eropa, dipaksa bekerja tanpa upah yang layak, disiksa, dan dibunuh. Ketakutan terhadap orang Eropa sudah menjadi sesuatu yang tak terbayangkan lagi. Namun, Minke turun ke masyarakat untuk memperjuangkan hak mereka dan menghilangkan tradisi yang merendahkan martabat pribumi, seperti berjalan jongkok saat menghadap petinggi. Minke berusaha menghapus stigma buruk yang melekat pada pribumi. Dia ingin menghapus berbagai bentuk penindasan terhadap mereka, menunjukkan bahwa pribumi dan petinggi adalah makhluk Tuhan yang setara. MinkeMinke juga ingin memperjuangkan hak masyarakat dan menghapus sistem patriarki. Novel ini mengajarkan kita bahwa tulisan bisa menjadi senjata untuk melawan ketidakadilan, memperjuangkan hak-hak masyarakat, dan mengenal sejarah bangsa kita pada masa kolonialkolonial. Bumi Manusia sangat cocok dibaca di waktu senggang, karena melalui novel ini kita dapat memahami lebih dalam tentang bangsa Indonesia pada masa kolonial, serta mengambil pelajaran dari perjuangan yang digambarkan oleh Pramoedya Ananta Toer
Trending Now