Konten dari Pengguna
Sastra yang Menyapa, Farmasi yang Memintaku Bertahan
24 Juli 2025 15:25 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Sastra yang Menyapa, Farmasi yang Memintaku Bertahan
Seorang mahasiswa farmasi yang ragu akan pilihannya. Adanya rasa dilema antara farmasi dan sastra membuatnya krisis identitas, tekanan akademik, dan tekanan batin.Indah Dewi kumorowati
Tulisan dari Indah Dewi kumorowati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyukai bidang tertentu yang tidak sesuai dengan jurusan kuliah sering kali terjadi. Hal ini turut dirasakan oleh penulis, Indah Dewi Kumorowati (19) seorang mahasiswa farmasi salah satu kampus di Sleman, Yogyakarta. Ia suka menulis, membaca puisi, dan kadang lebih paham karya sastra Pramoedya daripada biokimia. Sejak kecil ia sudah memiliki minat membaca buku. Berbagai macam bacaan tertata rapi di rak buku, mulai dari majalah anak-anak sampai kumpulan novel dan cerita pendek. Saat SMP ia mulai tertarik dalam dunia penulisan. Ia bergabung dalam klub mading di sekolah dan senang apabila tulisannya dipajang di mading sekolahnya. Namun, satu keputusan mengubah hidupnya yaitu memilih untuk masuk ke SMK Farmasi. Hal ini dikarenakan ia terinspirasi dari saudaranya yang mengambil studi di jurusan keperawatan.
Memasuki SMK Farmasi awalnya menikmati dan seru-seru saja. Pertama kali racik obat, pakai jas lab, dan aroma khas dari bahan kimia merasa jadi orang paling keren. Bertemu dengan teman-teman, guru yang suportif, dan pernah memenangkan lomba farmasi adalah pencapaian yang gak akan terlupakan. Saat SMK pun, ia masih menyempatkan menulis puisi dan cerpen. Sempat mengikuti ajang perlombaan cerpen dan menjadi penulis terpilih. Tiga tahun berlalu, akhirnya lulus dari SMK Farmasi dan menjadi lulusan terbaik. Ada rasa bangga bisa menyelesaikan pendidikan dengan lancar. Pokoknya di masa ini gak ada kata salah jurusan dan punya tekad kuat untuk lanjut studi di S1 Farmasi dan jadi apoteker.
Sampai pada babak baru di dunia perkuliahan, kegiatan ospek kampus dan fakultas cukup menguras energi. Bertemu teman-teman dengan latar belakang dan daerah yang berbeda-beda membuat ia merasa kurang ada kecocokan satu sama lain. Belum lagi kegiatan praktikum yang lebih padat daripada saat SMK Farmasi dan harus memahami mood dosen yang suka berubah-ubah menjadi tantangan tersendiri. Kesulitan menerima pelajaran yang belum didapatkan saat SMK dulu juga menjadi hambatan di perkuliahan. Saat kuliah ia berubah menjadi pribadi yang lebih tertutup dan tidak seaktif saat di SMK. Selama kuliah setres meningkat, menutup diri, dan mulai mengalami gangguan kecemasan. Beban kuliah yang semakin dijalani semakin terasa berat membuat ia berpikir mulai salah jurusan dan ingin berkuliah di bidang yang memang dulu diminatinya yaitu sastra.
Banyak waktu yang dihabiskan untuk menangis dan meratapi nasib. Tak lupa, bumbu-bumbu perdebatan dengan orang tua menjadi pemanis dalam konflik ini. Bahkan, ia sudah mendaftarkan diri di salah satu kampus dengan jurusan Sastra Indonesia. Dalam hal ini, penulis sampai konsultasi ke psikolog untuk mengetahui jalan keluarnya. Satu demi satu saran dari psikolog ia terima. Mulai dari menuliskan pro kontra jurusan farmasi dan sastra, sampai riset bersama orang-orang yang paham di bidangnya masing-masing. Pencarian jati diri dalam penentuan jurusan kuliah ini terus berlanjut. Salah satu dosen yang ia ajak berdiskusi menginginkannya untuk tetap di farmasi membuat ia semakin bimbang. Ia juga mulai membuka diri untuk lingkungan pertemanan. Perlahan teman-teman mulai menerimanya dan ternyata tidak seburuk ia pikirkan sebelumnya. Mereka sering kali mengajaknya untuk hanya sekadar mengerjakan tugas atau makan bersama. Kehidupan kuliah terasa jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Walaupun tidak sebaik saat di SMK Farmasi tetapi patut untuk disyukuri. Perlahan mulai menata hati dan pikiran kembali. Satu keputusan telah dibuat bahwa ia tetap akan melanjutkan kuliahnya di jurusan farmasi. Hal ini telah diputuskan karena ternyata banyak orang yang peduli dengan dirinya. Tak hanya teman-teman tetapi dosen juga turut memberikan dukungan baik yang belum tentu akan didapatkan di kampus lain. Setelah pengumuman pendaftaran itu tiba dan ia tidak lolos seleksi bukanlah hal yang menyedihkan, sebab hatinya sudah bulat bertahan di farmasi.
Melalui tulisan ini, penulis ingin berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat. Terima kasih untuk orang tua saya yang panik waktu saya daftar sastra. Tenang, anakmu masih hidup untuk terus menakar takdir di dunia farmasi yang fana, bukan jadi seorang pujangga. Terima kasih kepada teman-teman, dosen, dan pihak terkait yang terus menerus menarik saya untuk tetap menstabilkan iman dan takwa di farmasi.
Indah Dewi Kumorowati, Mahasiswa Farmasi UII

