Konten dari Pengguna

Wisuda Tanpa Pemberitahuan: Pilihan Hidup yang Kusadari Sendiri

Indah Dewi kumorowati
Mahasiswa Farmasi UII
28 Juli 2025 15:51 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Wisuda Tanpa Pemberitahuan: Pilihan Hidup yang Kusadari Sendiri
Gagal jadi tentara, seorang mahasiswa Jogja banting setir kuliah psikologi demi menyehatkan mental. Penuh drama dan kekonyolan, ia akhirnya lulus dan wisuda diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Indah Dewi kumorowati
Tulisan dari Indah Dewi kumorowati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar Ilustrasi Sumber: https://chatgpt.com/
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi Sumber: https://chatgpt.com/
Menjalani dunia perkuliahan dalam menggapai impian tentu tidak mudah. Hal ini turut dirasakan oleh Hariz (26) alumni salah satu universitas di Sleman, Yogyakarta. Terlahir dari keluarga yang memang kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ayahnya bekerja sebagai seorang PNS dan ibunya berwirausaha. Pada awalnya ia tidak ingin untuk menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Impiannya menjadi seorang prajurit tentara. Namun, setelah mencoba beberapa kali mengikuti seleksi ia tetap dinyatakan gagal. Sampai pada akhirnya, ia memutuskan untuk berkuliah dengan jurusan psikologi. Jurusan ini ia ambil sebab proses kegagalan yang dialaminya, sehingga memutuskan untuk rehabilitasi mental sembari kuliah. Proses penerimaan takdir tentu sangat sulit bagi dirinya. Menurutnya menjadi seorang tentara lebih mengagumkan daripada menjadi mahasiswa yang hidupnya dikejar jurnal dan kajian, sampai lupa caranya makan tanpa buka laptop di pangkuan.
Tahun pertama kuliah cukup berat. Berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan memahami mood dosen adalah perkara yang sulit. IPK yang tak sesuai ekspektasi membuat semangatnya memudar. Belum lagi UTS dan UAS yang membakar otak membuatnya semakin muak. Suatu ketika saat musim UAS tiba, ujian dilaksanakan secara daring di rumah. Hidupnya memang terkenal santai dan nggak bisa diajak panik. Saking santainya ia bangun kesiangan dan telat untuk ujian. Ketika ia mulai membuka soal waktu yang tersisa tinggal tiga menit lagi. Konyol memang, tetapi sudah tidak ada lagi harapan. Waktu yang begitu singkat ia tak bisa menyelesaikan semua soal tersebut kecuali apabila dirinya kerasukan Bandung Bondowoso. Perasaan kecewa dan merasa bersalah sudah pasti menghantui. Ia memutuskan untuk segera menghubungi dosen. Berbagai macam alasan telah ia siapkan mulai dari mati lampu satu desa, kabel yang ia sengaja rusak agar terkesan seperti terkelupas karena gigitan hewan, dan masih banyak lagi. Namun, berbagai alasan yang ia telah siapkan dihadapan dosen semuanya ditolak. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengulang mata kuliah bersama adik tingkatnya.
Empat tahun berlalu, ia dinyatakan lulus setelah perjalanan skripsinya yang panjang. Perjalanan menjadi mahasiswa psikologi telah usai. Namun, drama keanehannya tidak berhenti sampai di sini saja. Pagi yang cerah itu saat ayahnya sudah bersiap menggunakan seragam kantornya dan sedang menikmati sarapan, ia menghampiri dengan pakaian yang rapi dan formal jauh dari keseharian yang santai dan seadanya. Ayahnya menoleh dengan raut wajah keheranan, lalu bertanya kemana ia akan pergi pagi-pagi begini. Ia pun hanya menjawab dengan nada santai bahwa akan berangkat untuk wisuda bersama temannya. Tak banyak kata setelah itu, tetapi momen tersebut cukup meninggalkan jejak. Kaget dan sulit untuk dipercaya mungkin adalah kalimat yang tepat untuk mendiskripsikan kejadian tersebut. Ayahnya pun juga tidak bisa berbuat apapun. Cuti kantornya tidak bisa diurus secara mendadak dan ibunya juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Setelah berpamitan ia pun berangkat menuju kampus. Ia wisuda didampingi oleh temannya saja. Ia memilih untuk tidak memberitahu kedua orang tuanya bahwa ia akan wisuda karena dirinya tidak mau merepotkan mereka. Menurutnya, momen wisuda bukanlah suatu hal yang harus dibanggakan. Momen wisuda tidaknya sebatas gelar baru di belakang nama dan berfoto-foto selebrasi untuk merayakannya. Melainkan, wisuda merupakan awal baru dari perjalanan yang sesungguhnya. Wisuda adalah gerbang menuju kesuksesan yang sebenarnya.
Trending Now