Konten dari Pengguna
Antara Senang dan Sedih
4 Juli 2021 9:15 WIB
Diperbarui 13 Agustus 2021 13:56 WIB

Kiriman Pengguna
Antara Senang dan Sedih
Untuk saat ini, aku sudah di tahap berusaha mencintai diri sendiri dan menerima kekuranganku. Selagi hal tersebut tidak merugikan orang lain. #userstoryIndi Lusiani
Tulisan dari Indi Lusiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku suka berpura-pura, membohongi diri sendiri. Pura-pura terlihat baik dan pura-pura terlihat normal. Padahal aku hanyalah pembohong besar bagi diriku sendiri dan orang lain, sangat susah bagiku untuk mengenal diri sendiri.
Ya, aku adalah sosok yang memiliki luka lama yang tidak bisa dilupakan. Mengapa? karena segelintir perkataan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu oleh temanku dan terlontar begitu saja, membuat aku merasakan sakit hati yang mendalam.
โGendut, Beruang, Gajah, Hitamโ, itulah panggilan yang aku dapatkan di masa SMP, panggilan itu sudah akrab di telingaku. Menegur? tidak, aku hanya tertawa, diam membisu, dan entah apa reaksiku lainnya. Jika dibilang, rasanya ingin sekali menegur teman-temanku, tapi apa daya aku hanya bungkam seribu bahasa jika kalimat itu dilontarkan kepadaku.
"Tuhan, kenapa kau tidak adil?" itulah pertanyaan yang terus mengelilingi otak anak bocah kala itu.
Berjalannya waktu, aku menjadi pribadi yang menutup diri. Terlebih masa SMA yang bisa dibilang membosankan, menyedihkan, bahkan tidak seperti masa SMA yang aku bayangkan. Di mana, di masa SMA aku tidak bisa mengeksplorasi diri.
Masa sekolah hanya aku habiskan untuk berdiam diri di kelas, dan memilih untuk tidak mengenal orang. Aku sangat takut jika panggilan yang aku terima di masa SMP terulang di SMA ku, sehingga aku memilih untuk bersembunyi di Goa yang besar.
Suatu saat aku menemukan kenyataan lain yang membuatku tersadar. Aku membaca beberapa novel biografi yang membahas tentang berdamai dengan diri sendiri dan membaca beberapa artikel terkait psikologi. Ternyata semua itu sangat membantuku untuk keluar dari zona nyaman dan menyadari siapa diriku sebenarnya.
Self-Learning, adalah awal dari segalanya, aku menemukan istilah ini dari buku bacaan yang aku dapatkan. โKetika kamu menemukan dirimu, siapa dirimu, bagaimanakah kamu, dan ketika kamu sudah menemukan โidentitasโ dirimu, akan semakin mudah memahami diri sendiri. Sehingga kamu bisa memahami perasaanmu sendiriโ.
Langkah selanjutnya ialah Self-Acceptance. Tidak semua orang menerima diri sendiri, sepertiku. Awalnya Self-Acceptance memang hal yang rumit. Kuakui akulah sang pembohong besar bagi diri sendiri. Membohongi diri sendiri dengan selalu berpikir positif demi bertahan hidup itu adalah โracunโ.
Aku tidak perlu menjadi orang lain. Setiap orang diciptakan unik, mereka punya karakter dan punya berbagai cara dalam mengatasi berbagai hal. Selama ini, mungkin banyak orang menekankan bahwa kita harus percaya dengan kelebihan yang dimiliki diri sendiri. Tentu hal tersebut tidaklah salah.
Namun, menerima segala kekurangan diri sendiri juga tidak kalah pentingnya. Aku harus menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Justru dengan menerima kekurangan diri sendiri, kita bisa mulai menyusun rencana perbaikan untuk masa depan yang lebih baik.
Aku sudah di tahap berusaha mencintai diri sendiri dan menerima kekuranganku. Selagi hal tersebut tidak merugikan orang lain, cari cara apapun untuk mencintai diri sendiri dan mensyukuri apa yang diberikan tuhan untuk diri kita. (Indi Lusiani/Politeknik Negeri Jakarta)

