Konten dari Pengguna
Kawah Ijen, 'Surga' Dunia di Indonesia
10 Juli 2021 17:26 WIB
Diperbarui 13 Agustus 2021 14:01 WIB

Kiriman Pengguna
Kawah Ijen, 'Surga' Dunia di Indonesia
Tak bisa terlupakan pesona memukau Gunung Ijen di dalam benakku, Gunung ijen akan selalu aku kenang sebagai salah satu keajaiban tuhan yang indah dan menyenangkan. #userstoryIndi Lusiani
Tulisan dari Indi Lusiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terik matahari yang begitu tajam menusuk kalbu di pagi itu dan menyambut kedatangan aku dan keluargaku di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Bandar Udara Internasional Banyuwangi, di sinilah tujuan untuk melihat salah satu surga dunia dimulai.
Perjalananku beserta keluarga dalam rangka liburan panjang yang bertepatan dengan Hari Natal dan akhir tahun 2020. Kami memilih untuk berlibur ke salah satu gunung yang berada di daerah Banyuwangi. Wisata Alam Kawah Ijen, merupakan objek wisata yang telah dikenal luas oleh para wisatawan domestik dan asing karena keindahan alamnya.
Satu mobil yang membawa empat orang penumpang ini, bergerak keluar dari hotel terdekat dari Kawasan Gunung Ijen, Rabu, 23 Desember 2020 pukul 23.45 WIB. Jalan mulus dini hari tanpa macet membuat mobil meluncur dengan cepat tanpa hambatan kecuali di lampu merah.
Lagu ber-irama dangdut terdengar dari salah satu pemilik warung warga lokal di Kawasan Gunung Ijen, pada pukul 01.30 WIB. Udara malam yang dingin sangat terasa dan terlihat para wisatawan dan pedagang mengharuskan mereka untuk memakai jaket yang tebal.
Namun, pandemi Covid-19 mengharuskan adanya batasan jarak dengan upaya menghindari kerumunan. Alhasil, jam buka Gunung Ijen pun berubah. Jam buka Gunung Ijen semula dibuka pada pukul 01.00 WIB, saat pandemi Covid-19 menjadi pukul 03.00 WIB.
Dikarenakan baru dibuka pukul 03.00 WIB, para pengunjung tidak bisa melihat fenomena Blue Fire. Yakni, fenomena alam api berwarna biru yang terjadi karena keluarnya gas vulkanik yang mengandung belerang panas bersuhu sekitar 660 derajat celsius, dan terbakar saat bersentuhan dengan udara. Fenomena ini hanya dapat dilihat pada malam hari.
Fenomena Blue Fire ini hanya ada dua di dunia, selain di Ijen fenomena ini juga terdapat di Islandia. Maka tak heran keberadaan si api biru ini begitu diburu para wisatawan, khususnya turis asing.
Pukul 03.00 WIB, pendakian dimulai dari area parkir kendaraan di Pos Paltuding. Pendakian ke puncak (bibir kawah) Ijen berjarak 3 km, dan memakan waktu sekitar 1,5 jam sampai 2 jam perjalanan dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Aku dan keluarga mulai berjalan mengikuti pemandu. Begitu melewati pintu gerbang Taman Wisata Kawah Ijen, para pekerja troli mulai mengikuti wisatawan bergerak menanjak. Beliau adalah pekerja pendorong troli atau biasa disebut ojek troli, yang akan mengantarkan wisatawan jika lelah dalam perjalanan mendaki Gunung Ijen.
Cukup duduk manis di troli, maka para pekerja troli akan mendorongnya sampai ke atas gunung. Jasa ini memang terbilang cukup mahal, tetapi jika diniatkan untuk membantu ekonomi warga lokal pasti akan lebih berharga.
Cahaya remang-remang yang terlihat hanya berasal dari lampu di kepala wisatawan, dan para pekerja. Jalan yang ditempuh beralas tanah dan dilengkapi dengan jalur yang menanjak.
βSemangat mbak, Pos 2 lebih menanjak!β terdengar dari belakang suara pekerja menyemangati pengunjung. Ternyata benar, belum sampai di pos 2 sudah terasa berat gerakan kaki ku. Semakin berat lagi begitu berjalan naik dari pos 2.
Langkah wisatawan lain mulai melambat dan ada yang berhenti di tepi jalan, juga bekal air yang ia bawa langsung dilahap dengan cepat. Ditambah jalur pendakian yang tidak ada lampu, masing-masing hanya mengandalkan lampu dari pemandu atau dibawa sendiri.
Pekerja troli berkali-kali meminta aku untuk naik ke troli saat terlihat kelelehan. Tetapi aku menolak dengan alasan ingin tes kemampuan dan hanya meminta berhenti saja jika lelah.
Akhirnya aku dan keluarga tiba di Pos 6 pada pukul 04.30 WIB, dan sudah ramai para wisatawan yang telah tiba. Di pos ini terdapat kantin sehingga para wisatawan bisa beristirahat sambil makan. Saat istirahat terlihat satu persatu troli pengangkut penumpang ditarik sampai di pos 6. Mereka yang paling depan setelah menarik troli terlihat kelelahan dengan memegang lututnya serta napas tak beraturan.
Setelah beristirahat dan merasa kuat lagi, aku sekeluarga memutuskan untuk mendaki meninggalkan pos 6 mengikuti gerakan wisatawan lain.
Matahari mulai bangun dari tidurnya, perjuangan melelahkan itu akhirnya terbayar ketika pada pukul 05.30 WIB sampai ke Ke Kawah Ijen. Para wisatawan terlihat tidak ingin tertinggal momen ajaib dan langsung mengabadikan momen indah itu.
Meski tidak bisa menyaksikan Blue Fire, pemandangan yang disuguhkan di Gunung Ijen tetap terbayarkan, terlihat tetap cantik dan memesona. Kawahnya yang berwarna biru terang masih tetap indah untuk dinikmati kala pandemi.
Terlihat juga pekerja pengangkut belerang dari kawah ijen, sesekali aku mencoba mengajak foto meski belerang masih di atas bahu yang beratnya mencapai 70 hingga 100 Kg. Setelah mengangkut belerang dari kedalaman 200 meter dari dasar Kawah Ijen, kemudian diturunkan lagi ke bawah dengan troli hingga sampai ke pembeli.
Dari Kawah Ijen layangkan pemandangan di sekitarnya, akan terlihat rangkaian gunung lain di wilayah Pegunungan Ijen, Seperti Gunung Merapi di timur, Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante dan sebagainya. Tak bisa terlupakan pesona memukau Gunung Ijen di dalam benakku, Gunung Ijen akan selalu aku kenang sebagai salah satu keajaiban tuhan yang indah dan menyenangkan. (Indi Lusiani/Politeknik Negeri Jakarta)

