Konten dari Pengguna
Mau Jadi Apa?
12 Juli 2021 14:46 WIB
Diperbarui 13 Agustus 2021 14:02 WIB

Kiriman Pengguna
Mau Jadi Apa?
Mencari dan terus mencari pembenaran hidup dan bergandengan oleh fikiran yang ada dikepalaku. Selama ini perbuatan yang aku lakukan adalah hal yang benar atau salah untuk diri sendiri dan orang lain. Indi Lusiani
Tulisan dari Indi Lusiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Resah, gelisah, galau. Rasanya sulit sekali dipisahkan dari pikiranku. Terlalu kontradiktif memang mengakui bahwa usiaku yang sudah menginjak angka dewasa tapi merasa mental dan sifat yang ada di dalam diriku terbilang masih kekanak-kanakan.
Mencari dan terus mencari pembenaran hidup dan bergandengan oleh fikiran yang ada dikepalaku. Selama ini perbuatan yang aku lakukan adalah hal yang benar atau salah untuk diri sendiri dan orang lain. Adanya perbedaan dari aspek kehidupan yang sebelumnya membuat aku tersadar bahwa, Ya, aku sudah memasuki fase dewasa muda.
Ketakutanku akan masa depan adalah ketakutan pada sesuatu yang bahkan aku tidak ketahui. Mengapa? Misterinya masa depan terlihat abstrak dan serba tidak tertebak, Jangankan 10 tahun mendatang, lima menit kedepan aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tentu masa depan menjadi sesuatu ancaman yang mengerikan dan tidak bisa aku antisipasi.
Kegelisahan mulai muncul hingga akhirnya kata hati yang berbicara. ‘mau dibawa kemana dan jadi seperti apa hidup ini?’.
Aku tidak tahu tujuan hidupku, mau seperti apa kedepannya, ditambah rasa bingung dari kegiatan yang bergonta-ganti membuatku harus terus menggali demi potensi diri.
Bahkan tanpa mengetuk pintu, kerap pikiran masa depan juga datang secara tiba-tiba saat aku harus tidur dan beristirahat. Dan ketika aku melakukan kesalahan, aku akan didera rasa panik serta menyalahkan diri sendiri. lalu aku merasakan hidupku sia-sia begitu saja, hal seperti inilah merasa masa depanku semakin suram. Padahal, di setiap kegagalan ada pintu baru yang terbuka, dan ada sesuatu yang bisa dipelajari.
Berbicara masa depan dan kegelisahan memang tidak ada ujungnya. Mungkin terlalu mengkhawatirkan masa depan akan membuatku membuang masa kiniku yang berharga. Padahal, proses-proses seperti ini justru semestinya yang harus dinikmati. Mungkin dengan fokus terhadap masa kiniku justru dapat melakukan hal-hal hebat dan berpengaruh untuk masa depanku kelak.
Memang khawatir tentang masa depan itu adalah hal yang wajar, tapi jika berlebihan tidak akan membawa diri ini kemana-mana. Daripada aku mengkhawatirkan yang belum terlihat jelas, lebih baik memikirkan hari ini dan esok. Masalah-masalah yang muncul dan terjadi saat ini harus lebih aku pikirkan dan mencari solusi yang baik untuk kedepan. (Indi Lusiani/ Politeknik Negeri Jakarta)

