Konten dari Pengguna

Monyet Ekor Panjang & Beruk: Dari Hama Lokal hingga Komoditas Riset Global

Indriyani
Guru SLB B YAAT Klaten. Lulusan Sarjana Pendidikan Luar Biasa, Universitas Sebelas Maret. Telah menempuh Program Profesi Guru. Tertarik pada isu-isu terkini.
8 September 2025 12:50 WIB
Β·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Monyet Ekor Panjang & Beruk: Dari Hama Lokal hingga Komoditas Riset Global
Artikel ini membahas monyet ekor panjang sebagai bagian ekosistem, dianggap sebagai hama, sekaligus komoditas riset biomedis, serta urgensi konservasi dan regulasi perdagangan
Indriyani
Tulisan dari Indriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Artificial Intelligence - Monyet Ekor Panjang Sering Dianggap Hama Lokal
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Artificial Intelligence - Monyet Ekor Panjang Sering Dianggap Hama Lokal
Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina) merupakan dua primata yang banyak ditemui hampir di setiap kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sejumlah kajian ilmiah melaporkan bahwa kedua primata ini menempati kategori endanger yang terancam mengalami kepunahan secara global. Keduanya memang penting, namun isu monyet ekor panjang jauh lebih pelik karena posisinya bersinggungan langsung dengan manusia dan industri global. Bahkan Convention International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora melabeli monyet ekor panjang ke dalam Appendix II, di mana perdagangan yang berlebih tanpa regulasi tegas bisa mempercepat kepunahannya. Kajian ini secara khusus menelisik posisi monyet ekor panjang di tengah tarik-menarik kepentingan antara ekologi, regulasi, dan komoditas ekspor.
Secara geografis, monyet ekor panjang hidup di habitat alam bebas seperti hutan hujan tropis, hutan bakau, rawa, atau tepian sungai dengan curah hujan tinggi atau iklim yang lembab. Menariknya primata ini bisa juga dijumpai di habitat manusia yakni pemukiman penduduk. Keberadaan monyet ekor panjang telah menjelma menjadi isu yang sarat dengan dilema. Pasalnya tidak sedikit negara melihat ancaman monyet ekor panjang sebagai hama karena karakteristiknya mudah beradaptasi dengan lingkungan. Studi yang terpublikasi dalam jurnal Scientific Exploration: Journal of Indonesian Academic Research merangkum gangguan monyet ekor panjang di lahan pertanian daerah Kuningan, Jawa Barat, yang menyebabkan kegagalan panen (Mashuri, 2024).
Dari Hama hingga Komoditas
Jika ditelaah dari perspektif satwanya, keberadaan monyet ekor panjang di pemukiman warga hingga melakukan gangguan pasti dipicu oleh suatu penyebab. Melansir pernyataan Kepala Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. drh. Huda S. Darusman, M.Si., Ph.D., menegaskan,
Fakta lapangan telah mengubah kondisi hutan lewat aktivitas illegal logging atau pengalihan fungsi lahan menjadi pemukiman atau agrikultur. Habitat alami monyet ekor panjang menjadi relatif mengecil dengan jumlah pakan yang minim. Koloni monyet ekor panjang akhirnya berbondong-bondong melakukan ekspansi ke daerah yang dirasa dapat memenuhi kebutuhannya, seperti makanan dan ruang gerak baru.
Hubungan antara monyet ekor panjang dan manusia akhirnya bermuara pada konflik yang sulit dihindari. Keresahan timbul oleh perilaku monyet ekor panjang setelah berpindah ke kawasan pemukiman penduduk. Tidak jarang pula satwa ini melakukan tindakan yang dianggap mengganggu dan merugikan manusia. Sebut saja merusak tanaman, mencuri buah-buahan, mengobrak-abrik kebun dan pekarangan warga, bahkan merampas makanan langsung dari tangan manusia. Oleh karena itu, satwa ini ditetapkan sebagai hama sehingga banyak dilakukan perburuan atau manipulasi populasi dengan cara dimusnahkan.
Populasi monyet ekor panjang di Indonesia sangat masif dan penyebarannya cukup meluas. Namun ironisnya status global menetapkannya sebagai satwa yang terancam punah. Kendati demikian, monyet ekor panjang sering dilibatkan dalam kegiatan riset biomedis atau toksikologi. Sejumlah negara besar, antara lain Amerika Serikat, China, dan Jepang tercatat menjadi pengimpor primata monyet ekor panjang dari Indonesia. Terlebih saat pandemi Covid-19, permintaan terhadap monyet ekor panjang mengalami lonjakan tajam untuk kebutuhan uji coba di laboratorium.
Peran Ekologis dan Paradoks Etis
Anggapan yang banyak beredar menempatkan posisi monyet ekor panjang sebagai hama yang harus diburu atau diusir. Di belahan bumi lain, primata ini justru memiliki nilai tinggi. Kehadiran monyet ekor panjang bahkan telah menjadi kontributor utama guna kepentingan riset medis modern. Satwa yang kerap dipandang sebelah mata ini, harus diakui telah membantu jutaan nyawa manusia terhadap kelahiran vaksin atau obat. Namun, tidak sedikit pihak mengecam praktik ekspor dan impor monyet ekor panjang demi kepentingan riset medis. Hal tersebut dikarenakan rasa iba melihat satwa ini seolah diperlakukan hanya sebatas β€œbahan percobaan”.
Kritik tegas muncul dari sejumlah pegiat hak hewan bersama pemerhati konservasi. Berbagai pihak menilai bahwa riset medis seharusnya tidak melulu bergantung pada penderitaan primata. Pertanyaan yang harus direnungkan bersama adalah, sampai kapan kita melihat monyet ekor panjang sebagai pengganggu atau komoditas? Padahal eksistensi primata ini mempunyai kedudukan krusial dalam ekosistem. Studi yang dipublikasikan dalam Ulin: Jurnal Hutan Tropis menjelaskan berbagai peran ekologis yang dimiliki monyet ekor panjang. Satwa ini berperan sebagai penyebar biji tanaman untuk regenerasi tumbuhan di hutan. Pola makannya pun beragam, tidak terbatas pada buah dan dedaunan saja, tetapi juga mencakup serangga kecil. Dengan begitu, monyet ekor panjang sebenarnya turut menempati posisi dalam pengendalian hama itu sendiri (Chantika et al., 2023).
Fakta yang lebih menggelitik adalah monyet ekor panjang justru belum masuk ke dalam daftar satwa yang sepenuhnya dilindungi oleh negara. Padahal dunia internasioal sudah menempatkannya sebagai satwa yang terancam punah. Alasan klasik yang sering muncul adalah populasinya dianggap masih masif, bahkan dilabeli sebagai hama di banyak daerah. Lebih mencengangkan lagi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) lewat ungkapan Direktur Jenderal KSDAE KLHK, Satyawan Pudyatmoko, beralasan bahwa belum ada data spesifik yang mengharuskan spesies ini layak masuk ke dalam kategori satwa dilindungi. Regulasi pun seolah menguatkan arah tersebut. Peraturan Menteri LHK No. P.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018 dengan gamblang menyebut monyet ekor panjang sebagai satwa yang tidak dilindungi dengan dalih populasinya di Indonesia dianggap melimpah. Kebijakan ini membuka ruang pemanfaatan baik dari penangkaran maupun habitat alam. Melalui mekanisme batas maksimal pemanfaatan (BMP), pemerintah tampak lebih menekankan nilai komoditas ketimbang peran ekologis satwa tersebut.
Sumber: Artificial Intelligence - Praktik Kekerasan Dilakukan kepada Monyet Ekor Panjang
Monyet ekor panjang kerap menjadi korban kekerasan manusia. Rekaman yang dirilis Actions for Primates (2022) memperlihatkan betapa brutalnya praktik penangkapan di alam liar. Para monyet dijaring, ada yang dipiting tangan dan ekornya, lalu dilempar ke dalam boks atau karung. Beberapa ada yang dipukuli, sementara bayi monyet yang baru lahir dipisahkan secara paksa dari induknya. Kekerasan juga terjadi di ruang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia, yakni lahan pertanian. Alih-alih mencari solusi ekologis, masyarakat kerap memilih jalur instan. Respons masyarakat pun keras, mulai dari membakar dengan petasan, melempari batu, membunyikan tembakan, sampai menggertak dengan seng. Praktik demikian seolah dilegalkan oleh stiga β€œhama”, menjadikan monyet ekor panjang tidak lebih dari musuh yang sah untuk disakiti. Ditambah lagi, hiburan jalanan seperti topeng monyet masih berlangsung di beberapa daerah, menambah daftar panjang eksploitasi.
Menimbang Solusi yang Adil
Pilihan ada di tangan kita: terus menutup mata dan menganggap monyet ekor panjang sebagai hama atau berani mencari solusi ekologis yang mengedepankan prinsip keadilan?
Tahapan yang paling fundamental tentu terletak pada sistem regulasi. Selama monyet ekor panjang belum memiliki payung hukum jelas, praktik penangkapan, perdagangan, hingga eksploitasi akan terus berlangsung tanpa henti. Selanjutnya yang perlu digarisbawahi adalah konflik antara monyet ekor panjang dan manusia sejatinya adalah gejala dari habitat yang telah rusak. Mustahil satwa ini menjarah pemukiman penduduk jika kebutuhan dasarnya terpenuhi di habitat asli. Oleh karenanya, restorasi ekosistem menjadi kunci. Jika terpaksa harus dilakukan pembukaan lahan, maka harus ada skema alokasi ruang hidup bagi monyet ekor panjang. Hal tersebut supaya prinsip food (makan), cover (berlindung), dan shelter (ruang singgah) bagi monyet ekor panjang tetap terjaga.
Persoalan ekspor monyet ekor panjang untuk kepentingan riset biomedis memang rumit. Bukan berarti hal tersebut tidak bisa diupayakan penataannya. Jika praktik ekspor masih harus dilakukan, minimal harus ada transparansi data. Berapa jumlah monyet yang diambil, indikator pasti yang digunakan, serta siapa yang mengawasi rantai distribusinya secara legal sesuai aturan hukum. Kebijakan selanjutnya juga harus melarang pengambilan induk monyet ekor panjang yang masih mempunyai bayi demi menjaga keberlangsungan populasi. Melalui transparansi setidaknya ada pijakan etis yang bisa dipertanggungjawabkan di mata publik domestik maupun kancah internasional.
Proyeksi Masa Depan Menuju Masa Depan Lestari
Jika regulasi jelas ditegakkan, habitat monyet ekor panjang direstorasi, dan praktik ekspor diatur dengan transparansi serta etika ketat, masa depan primata ini bisa lebih aman. Konflik dengan manusia dapat diredam, peran ekologis pun terjaga, dan pemanfaatan riset medis dapat berlangsung secara bertanggung jawab. Namun, keberhasilan ini butuh kesadaran kolektif, baik dari pembuat kebijakan, masyarakat, bahkan pelaku riset. Ketika semuanya turut andil berkontribusi secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin generasi mendatang dapat menyaksikan monyet ekor panjang hidup secara bebas dan lestari. Jadi, sudah saatnya kita berhenti memandang monyet ekor panjang sebagai hama atau komoditas semata.
Referensi:
Jurnal
Chantika, M. N., Syaputra, M., & Ichsan, A. C. (2023). Karakteristik Habitat dan Pemetaan Wilayah Jelajah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Blok Pemanfaatan Resort Manggelewa Kilo Bkph Tambora. Ulin: Jurnal Hutan Tropis, 7(1), 82–95. http://dx.doi.org/10.32522/ujht.v7i1.10128
Gumert, M. D., Rachmawan, D., Iskandar, E., & Pamungkas, J. (2012). Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Jurnal Primatologi Indonesia, 9(1), 3–12.
Haribowo, D. R., Khairiah, A., Pirmansyah, F., Rijal, A., Wahyuni, A. I., Haidar, T. Z., Basyuri, A., Sondari, K., Sopiah, W., Zidny, F. F., Wulandari, S. R., & Iffatalya, H. (2023). Aktivitas Makan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Kawasan Resort Pengelolaan Taman Nasional Tapos, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Bioma, 25(1), 60–73.
Mashuri, A. A. (2024). Gangguan Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis) Pada Kebun Campuran Di Kabupaten Kuningan. Scientific Exploration: Journal of Indonesian Academic Research, 2(1), 38–51. https://doi.org/10.25134/scientificexploration.v2i1.30
Website/Online News
Antara News. (2024, Januari 30). KLHK Ungkap Alasan Monyet Ekor Panjang Belum Masuk Satwa Dilindungi. https://www.antaranews.com/berita/3939012/klhk-ungkap-alasan-monyet-ekor-panjang-belum-masuk-satwa-dilindungi
Republika. (2024, Januari 30). Mengapa Monyet Ekor Panjang Tak Masuk dalam Kategori Satwa Dilindungi?. https://news.republika.co.id/berita/s82id0414/mengapa-monyet-ekor-panjang-tak-masuk-dalam-kategori-satwa-dilindungi-part2
Tempo Interaktif. (2024, Februari 17). Umur Pendek Monyet Ekor Panjang. https://interaktif.tempo.co/proyek/umur-pendek-monyet-ekor-panjang/
Universitas Airlangga. (2024, Agustus 6). Pentingnya Pengetahuan Dasar Primata dan Peran Budaya dalam Konservasi Monyet Ekor Panjang. https://unair.ac.id/pentingnya-pengetahuan-dasar-primata-dan-peran-budaya-dalam-konservasi-monyet-ekor-panjang/
Universitas Gadjah Mada. (2025, Agustus 11). Terancam Punah, UGM dan KOBI Desak Penyelamatan Populasi Monyet Ekor Panjang. https://ugm.ac.id/id/berita/terancam-punah-ugm-dan-kobi-desak-penyelamatan-populasi-monyet-ekor-panjang/
Trending Now