Konten dari Pengguna
Dunia yang Semakin Canggih, Manusia yang Semakin Sendirian
25 November 2025 17:09 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Dunia yang Semakin Canggih, Manusia yang Semakin Sendirian
Di era teknologi yang serba cepat, manusia justru kian merasa kosong. Kemajuan menghubungkan kita, tapi perlahan menjauhkan dari kedekatan yang sebenarnya.Indriyani Vintan
Tulisan dari Indriyani Vintan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada hari-hari ketika saya merasa dunia ini bergerak terlalu cepat, seakan semuanya dipacu oleh mesin yang tak mau berhenti. Teknologi berkembang setiap menit, perangkat makin pintar, dan hidup kita dipenuhi notifikasi yang bersikeras meminta perhatian. Ironisnya, semakin banyak “koneksi” yang ditawarkan teknologi, semakin sering saya bertanya, mengapa justru rasa sendirian itu makin tebal?
Dulu, kesepian adalah sesuatu yang wajar-datang di waktu-waktu tertentu, pergi ketika kita bertemu orang-orang terdekat. Sekarang, kesepian terasa seperti bayangan yang menempel ke mana pun kita melangkah. Kita bisa berbicara dengan ratusan orang dalam sehari, tapi tak benar-benar merasa didengar. Kita bisa scroll ribuan cerita, tapi tak menemukan satu pun percakapan yang membuat dada terasa hangat.
Teknologi memang memudahkan banyak hal, tetapi ia juga menciptakan jarak yang tidak pernah kita sadari. Ketika semua orang lebih sibuk menata citra digitalnya, hubungan nyata terasa seperti urusan sampingan. Interaksi berubah menjadi tabungan “impresi”, seberapa menarik unggahan kita, seberapa cepat orang merespons, seberapa sering kita dianggap hadir meski sebenarnya kita tidak betul-betul ada.
Saya kadang berpikir, kapan terakhir kali kita berbicara dengan seseorang tanpa mengecek ponsel? Kapan terakhir kali kita tertawa tanpa memikirkan apakah momen itu layak diabadikan? Atau kapan terakhir kali kita merasa benar-benar ditemani, bukan sekadar berada dalam ruangan yang sama?
Teknologi juga membuat kita semakin mandiri secara ekstrem. Kita bisa memesan makanan tanpa bicara, menyelesaikan urusan tanpa bertemu petugas, berbelanja tanpa berdiri di antrian. Hidup menjadi ringkas, efisien, rapi—tapi entah mengapa terasa lebih kosong. Ada kehangatan yang hilang dari interaksi manusia yang dulu kita anggap remeh, senyum kasir, obrolan kecil, tatapan seseorang yang benar-benar memperhatikan kita, bukan layar di tangan kita.
Di sisi lain, dunia digital ini menanamkan ekspektasi yang melelahkan. Semua orang tampak bahagia, produktif, dan sukses. Semua orang terlihat punya arah, punya pencapaian, punya kehidupan yang luar biasa padahal kita sendiri masih sering kebingungan mengumpulkan sisa-sisa semangat setiap pagi. Tanpa sadar, kita menempatkan diri dalam kompetisi yang tak kita pilih, dan kekalahan itu membuat kita makin menutup diri.
Lama-lama, kesendirian terasa lebih aman daripada berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya kita rasakan. Dan di tengah keramaian virtual yang terus bising, kita justru memilih sunyi. Bukan karena tidak ada orang, tetapi karena kita tak lagi tahu bagaimana memulai hubungan yang tulus.
Tetapi saya percaya, masalah ini bukan tentang teknologinya. Ini tentang bagaimana kita, sebagai manusia, pelan-pelan berhenti hadir untuk satu sama lain. Kita menyisihkan waktu untuk layar, tapi tidak untuk percakapan. Kita memberi perhatian pada konten orang lain, tapi tak mendengar isi hati orang terdekat. Kita makin pintar, tetapi tidak makin peka.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak. Menutup layar. Mengatur ulang cara kita hidup. Mengingat bahwa hubungan yang bernilai bukan diukur dari seberapa sering kita muncul di timeline orang lain, tetapi seberapa sering kita betul-betul hadir ketika seseorang membutuhkan.
Teknologi akan terus menjadi semakin canggih, itu pasti. Tapi jika kita tidak mau menjadi manusia yang semakin sendirian, kita harus mulai berani hadir kembali-dengan hati yang utuh, perhatian yang penuh, dan keberanian untuk tidak selalu terlihat sempurna.
Karena pada akhirnya, kemajuan tidak ada artinya jika kita kehilangan satu sama lain.
Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas, Fakultas Ilmu Komputer.

