Konten dari Pengguna
Fenomena Oversharing: Mengapa Kita Suka Membuka Aib Sendiri di Sosial Media?
25 November 2025 17:58 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Fenomena Oversharing: Mengapa Kita Suka Membuka Aib Sendiri di Sosial Media?
Fenomena oversharing makin marak di media sosial, ketika banyak orang membuka aib pribadi demi perhatian, validasi, dan kedekatan semu, meski berisiko merusak privasi dan reputasi.Indriyani Vintan
Tulisan dari Indriyani Vintan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari, beranda media sosial dipenuhi kisah dramatis: perselingkuhan yang dibongkar publik, pertengkaran rumah tangga, curhatan tentang orang tua, hingga masalah keuangan yang diumbar tanpa pikir panjang. Pola ini bukan lagi kejadian sesekali-melainkan sebuah fenomena budaya baru, oversharing.
Fenomena ini membuat banyak orang bertanya, mengapa kita begitu mudah membuka aib dan masalah pribadi kepada ratusan bahkan ribuan orang asing di dunia digital?
Era Digital yang Mengubah Intimasi
Dulu, cerita pribadi hanya dibagi kepada orang terdekat: keluarga, sahabat, atau konselor. Namun kini, media sosial menciptakan ruang publik tanpa batas, di mana siapa pun bisa menjadi “teman dekat” dalam hitungan detik. Ada ilusi kedekatan yang mendorong orang merasa aman untuk bercerita.
Padahal kenyataannya, mereka sedang membuka diri kepada publik luas yang tidak selalu peduli, bahkan bisa menghakimi.
Para ahli komunikasi menyebut fenomena ini sebagai “intimacy collapse”,batas antara ruang privat dan publik hilang hingga tidak bisa lagi dibedakan.
Dopamin dari Perhatian Online
Ada alasan psikologis yang kuat mengapa oversharing begitu menggoda. Media sosial memberikan dopamin hitam- kenikmatan singkat dari notifikasi, komentar, dan dukungan.
Setiap kali pengguna membagikan curhatan sedih atau kisah yang memicu empati, interaksi yang masuk memberi sensasi “didengar” dan “diperhatikan”.
Sayangnya, rasa lega ini hanya sementara. Banyak orang justru menyesal ketika menyadari bahwa aib yang mereka bagikan telah menyebar ke mana-mana dan sulit dihapus.
Algoritma yang Mendorong Drama
Tidak bisa dipungkiri, algoritma media sosial turut memperkuat fenomena ini. Konten yang emosional- marah, sedih, atau kontroversial- lebih mudah viral dibandingkan postingan biasa.
Artinya, pengguna secara tidak sadar terdorong membuat cerita lebih dramatis agar mendapat respons. Semakin besar drama, semakin besar perhatian.
Pada titik inilah, media sosial berubah dari tempat berbagi menjadi panggung besar untuk membuka hal-hal yang semestinya bersifat intim.
Normalisasi Budaya Aib sebagai Hiburan
Oversharing subur di Indonesia karena masyarakat sendiri menyukai drama orang lain. Kisah curhat viral sering dijadikan bahan gosip, meme, atau konten ulang.
Inilah ironi paling besar, ketika seseorang membuka aib, mereka berharap dukungan, tetapi publik justru melihatnya sebagai tontonan.
Fenomena ini melahirkan arus baru: privasi dijadikan komoditas hiburan, aib dijadikan konten.
Dampak Serius yang Sering Terlambat Disadari
Meski terlihat sederhana, membuka aib di media sosial dapat membawa konsekuensi berat,berawal dari, hubungan keluarga rusak, pekerjaan terancam, reputasi tercoreng, konten disalahgunakan pihak lain,trauma jangka panjang setelah diserang netizen.
“Internet tidak punya tombol hapus,” kata seorang psikolog. Sekali aib dipublikasikan, ia bisa muncul lagi bertahun-tahun kemudian.
Oversharing, Tanda Kesepian di Tengah Keramaian
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan kegelisahan zaman. Di tengah koneksi digital tanpa henti, banyak orang justru merasa lebih sepi. Mereka mencari ruang untuk didengar, meski berisiko membuka diri kepada publik yang tidak kenal simpati.
Media sosial seperti ruang terapi raksasa, sayangnya tanpa terapis yang benar.
Tantangan Baru, Belajar Berhenti
Kini, tantangan terbesar bukan lagi membagikan cerita, melainkan menahan diri. Tidak semua hal perlu dipublikasikan, tidak semua masalah harus diumbar, dan tidak semua orang layak tahu cerita hidup kita.
Di era ketika semua orang berlomba menjadi pusat perhatian, kerahasiaan justru menjadi bentuk keanggunan baru.
Menjaga privasi bukan berarti menutup diri- itu adalah tanda kedewasaan.
Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas Medan,Fakultas Ilmu Komputer

