Konten dari Pengguna

Generasi yang Pintar Tapi Tak Bahagia: Di Mana Salahnya?

Indriyani Vintan
Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas,Fakultas Ilmu Komputer
24 November 2025 15:49 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Generasi yang Pintar Tapi Tak Bahagia: Di Mana Salahnya?
Generasi muda tumbuh dengan kecerdasan luar biasa, namun banyak yang tidak benar-benar bahagia. Tekanan sosial, standar sukses, dan minimnya ruang emosional membuat mereka terus merasa kurang cukup.
Indriyani Vintan
Tulisan dari Indriyani Vintan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber dari AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber dari AI
Ada satu hal yang belakangan ini sering memenuhi kepala saya,kita hidup berdampingan dengan generasi muda yang tumbuh dengan kemampuan luar biasa. Mereka cepat belajar, kritis, luwes menghadapi teknologi, dan punya kecerdasan yang mungkin tak pernah dimiliki generasi sebelumnya. Namun di balik semua itu, ada keganjilan yang sulit diabaikan—mereka terlihat pintar, tetapi sering kali tidak bahagia.
Saya menuliskan ini bukan sebagai keluhan, apalagi romantisasi masa lalu. Ini lebih sebagai kegelisahan yang muncul setiap kali melihat anak muda yang dari luar tampak bersinar, tetapi di dalamnya menyimpan sesak yang bahkan mereka sendiri bingung harus ditaruh di mana. Mengapa semakin pintar kita, justru semakin sulit rasanya untuk merasa cukup?

Tekanan yang Tidak Pernah Mengendur

Sejak kecil, banyak dari mereka dilebur ke dalam budaya yang menjadikan angka sebagai ukuran nilai diri. Nilai ujian, ranking, hingga IPK seolah menjadi tiket untuk dianggap layak. Mereka tumbuh dalam atmosfer yang membuat kegagalan terasa seperti vonis, bukan pelajaran.
Saya sering melihat betapa keras mereka bekerja, tetapi betapa mudah mereka runtuh ketika sedikit saja sesuatu melenceng dari rencana. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka jarang diberi ruang untuk menjadi manusia.

Luka karena Terus Dibandingkan

Media sosial yang katanya ruang berbagi, kini berubah menjadi arena perbandingan tanpa jeda.
Seseorang mengunggah pencapaian, lalu yang lain ikut membagikan. Dalam hitungan detik muncul perasaan, “Aku tertinggal”.
Padahal tidak ada yang benar-benar tertinggal. Hanya saja dunia maya membuat kita lupa bahwa hidup bukan kompetisi sprint. Tekanan semacam ini menumbuhkan luka baru: luka karena terus melihat hidup orang lain yang tampak lebih baik dari miliknya sendiri.

Pintar Secara Akademik, Rapuh Secara Emosional

Kita menyiapkan mereka menghadapi ujian, tetapi tidak membekali mereka untuk menghadapi kehilangan. Kita mengajarkan cara menghitung, tetapi bukan cara berdamai dengan kecewa.
Ketika hidup bertanya dengan cara yang kasar, banyak dari mereka tidak tahu harus menjawab dengan apa. Mereka tidak kekurangan kecerdasan, hanya kekurangan ruang untuk menjadi manusia seutuhnya.

Standar Sukses yang Tidak Lagi Masuk Akal

Entah siapa yang memulainya, tapi kini sukses harus serba cepat. Umur 25 harus mapan, umur 30 harus punya pencapaian besar, jika tidak—dianggap gagal.
Ekspektasi seperti ini membuat banyak anak muda merasa hidupnya salah arah, padahal mereka baru setengah langkah berjalan. Ketika standar dibuat terlalu tinggi, wajar jika banyak yang akhirnya kelelahan mengejar sesuatu yang bahkan bukan keinginannya.

Tidak Ada Tempat Aman untuk Mengakui Lelah

Yang paling membuat saya berpikir panjang adalah ini, kita menuntut mereka kuat, produktif, dan selalu siap menghadapi tantangan, tetapi jarang menyediakan telinga atau bahu untuk mendengar keluh yang sederhana.

Terlalu banyak nasihat, terlalu sedikit empati.

Terlalu banyak tuntutan, terlalu sedikit pertanyaan, “Kamu benar-benar baik-baik saja?”
Bagaimana mungkin mereka merasa bahagia jika menjadi diri sendiri saja tidak diberi kesempatan?
Pada Akhirnya…
Saya tidak pernah percaya bahwa generasi ini rusak. Mereka bukan generasi manja atau rapuh seperti yang sering disematkan.
Mereka justru generasi yang berjuang paling keras—berjuang memahami diri di tengah dunia yang terus berubah, berjuang terlihat baik-baik saja ketika banyak hal di dalam diri sedang tidak baik-baik saja.
Kalau pun ada yang salah, mungkin bukan pada mereka, tetapi pada dunia yang kita bangun: dunia yang cepat, bising, dan menuntut terlalu banyak tanpa pernah benar-benar memahami apa yang dikorbankan.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah cara memandang mereka.
Tidak lagi dari pencapaian, tetapi dari keberanian mereka bertahan.
Tidak lagi menuntut mereka dewasa sebelum waktunya, tetapi memberi mereka ruang untuk tumbuh.
Dan terutama, tidak lagi menganggap kesedihan sebagai kelemahan.
Sebelum kita memaksa mereka menjadi luar biasa, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang perlu lebih sering kita tanyakan:
“Sudahkah kamu bahagia? Atau setidaknya, sudahkah kamu merasa cukup aman untuk berkata bahwa kamu tidak baik-baik saja?”
Penulis Adalah Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas Medan, Fakultas Ilmu Komputer.
Trending Now