Konten dari Pengguna

Saat Diam Menjadi Bahasa Baru: Ironi Gaya Mewah yang Tak Lagi Perlu Pengakuan

Indriyani Vintan
Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas,Fakultas Ilmu Komputer
25 November 2025 11:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Saat Diam Menjadi Bahasa Baru: Ironi Gaya Mewah yang Tak Lagi Perlu Pengakuan
Sebuah opini yang membongkar ironi quiet luxury—saat diam dijadikan simbol status, kesederhanaan justru mahal, dan kemewahan tak lagi butuh sorotan untuk menunjukkan kuasanya.
Indriyani Vintan
Tulisan dari Indriyani Vintan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber dari AI
zoom-in-whitePerbesar
sumber dari AI
Ada masa ketika kemewahan dinilai dari seberapa keras seseorang memamerkannya. Tas bermerek harus difoto, mobil baru wajib diposting, liburan mewah harus diumumkan. Kini, dunia bergerak ke arah yang lebih sunyi—dan justru di sanalah “kemewahan” menemukan bentuk barunya. Tanpa sorak, tanpa pencitraan. Diam menjadi bahasa yang lebih keras daripada pamer.
Fenomena quiet luxury bukan sekadar tren fashion. Ia adalah cermin sosial yang menunjukkan kelelahan kolektif terhadap budaya pamer yang selama ini mendominasi media sosial. Ketika feed Instagram mulai terasa seperti katalog kompetisi status, sebagian orang justru memilih jalan lain: menyederhanakan tampilan, menyembunyikan merek, tetapi tetap memegang mutu dan kenyamanan tertinggi.
Data dari Business of Fashion menunjukkan bahwa pencarian tentang “quiet luxury” melonjak lebih dari 600% dalam dua tahun terakhir. Brand-brand premium seperti Loro Piana, The Row, dan Brunello Cucinelli mengalami peningkatan penjualan signifikan meskipun produk mereka tidak menampilkan logo mencolok. Ini adalah bukti sederhana,orang kaya baru tak ingin terlihat kaya—atau setidaknya, tidak dengan cara lama yang dianggap murahan.
Mengapa? Karena pamer dianggap sebagai tanda ketidakamanan. Psikolog sosial menyebutkan bahwa kebutuhan menunjukkan status sering datang dari kekhawatiran bahwa seseorang tidak cukup “diakui”. Di sisi lain, mereka yang sudah merasa aman secara finansial dan emosional cenderung memilih ketenangan. Mereka tidak perlu tepuk tangan; cukup kenyamanan.
Namun di balik tren ini, ada ironi yang tidak bisa kita abaikan. Quiet luxury sering digambarkan sebagai kesederhanaan, tetapi sebenarnya tetap membutuhkan kekuatan finansial besar. Kaos polos seharga jutaan rupiah, sepatu tanpa logo yang setara gaji bulanan pekerja, atau mantel minimalis yang hanya bisa dibeli kalangan tertentu—semua itu tetap merupakan bahasa kelas atas, hanya disampaikan dengan nada lebih pelan.
Di sinilah letak kontradiksinya: kesederhanaan yang tampak rendah hati, tetapi sebenarnya sangat eksklusif. Gaya yang “tidak ingin terlihat kaya”, tetapi tetap hanya dapat diakses oleh mereka yang kaya. Quiet luxury bukanlah demokratisasi mode, ia hanyalah rebranding kemewahan agar tampak lebih berkelas dan “beradab”.
Tetapi ada sisi menarik lainnya: tren ini juga menantang kita untuk bertanya ulang, untuk siapa sebenarnya kita tampil? Apakah kita memilih pakaian, barang, atau gaya hidup berdasarkan kenyamanan diri, atau berdasarkan validasi orang lain? Apakah kita membeli sesuatu karena kita benar-benar menyukainya, atau karena dunia perlu tahu bahwa kita memilikinya?
Quiet luxury mengingatkan bahwa gaya hidup bukan kompetisi terbuka. Tidak ada aturan bahwa hidup harus dipamerkan. Bahwa frasa “biar waktu yang bicara” ternyata dapat terwujud juga dalam dunia mode dan gaya hidup.
Pada akhirnya, pilihan untuk diam adalah kritik paling halus terhadap budaya bising yang selama ini mengatur cara kita menunjukkan diri. Gaya mewah yang tak lagi butuh pengakuan adalah pesan bahwa terkadang, justru yang tidak terlihatlah yang paling berbicara.
Dan mungkin, dalam dunia yang semakin gaduh oleh pencitraan, diam adalah kemewahan terbesar yang masih tersisa.
Penulis Adalah Mahasiswi Univertas Katolik Santo Thomas Medan, Fakultas Ilmu Komputer
Trending Now