Konten Media Partner
Kisah Petani Aloe Liquid Alan Efendhi: Gagal Jadi Montir, Kini Punya 100 Mitra
26 September 2025 17:27 WIB
·
waktu baca 4 menit
Konten Media Partner
Kisah Petani Aloe Liquid Alan Efendhi: Gagal Jadi Montir, Kini Punya 100 Mitra
Bukan perkara mudah kembali ke kampung halaman dan memulai bisnis dari nol. Setelah kepulangannya ke Gunung Kidul, Alan memang sudah punya banyak lidah buaya.Info Dompu

Siapa kira di balik kisah sukses seorang Alan Efendhi terkandung cerita yang berkebalikan dengan pencapaiannya saat ini?
Alan Efendhi, 37 tahun, sekarang dikenal sebagai petani sukses asal Gunung Kidul, Yogyakarta. Kontribusinya mengembangkan minuman berbahan dasar lidah buaya sembari memberdayakan masyarakat di tanah kelahirannya mendapat Apresiasi SATU Indonesia Award 2023 bidang Kewirausahaan.
Meski demikian, menjadi petani adalah hal yang sama sekali tak pernah terlintas dalam bayangan Alan dan keluarga besarnya.
“Saya adalah anak yang tidak diharapkan menjadi petani,” kata Anwar dalam webinar Workshop Menulis Feature & Bincang Inspiratif Satukan Gerak Terus Berdampak yang diselenggarakan oleh tirto.id dan Astra, Jumat, (12/9).
Anwar lahir dari keluarga petani. Ibu dan bapaknya, juga simbah-simbahnya, semua petani. Sadar bahwa menjadi petani di Gunung Kidul tidak berdampak banyak secara ekonomi, Alan pun diminta orang tuanya untuk menjadi pekerja pabrik.
Demi memenuhi harapan orang tuanya mewujudkan kehidupan yang lebih baik, Anwar merantau ke Jakarta. Bekalnya satu: selembar ijazah SMK jurusan otomotif.
"Alhamdulillah, tidak ada satu pabrik yang mau menerima saya menjadi karyawannya," ungkap Alan.
Meski demikian, Alan tak patah arang. Pada tahun-tahun pertamanya di ibukota, circa 2007-2008, Alan bekerja apa saja. Hasil usaha yang ia tabung, hasilnya digunakan untuk melanjutkan pendidikan. Alan kuliah lagi. Sehabis lulus, ia masih kepikiran menjadi mencari pekerjaan. Namun, bayang-bayang menjadi montir malah menjerumuskannya kepada perasaan pesimis.
“Kalau jadi montir, yang lebih jago banyak…”
Selama di Jakarta, Alan jarang sekali bertemu orang tua. Pulang kampung dilakukan hanya setahun sekali, membikin rindunya kepada keluarga dan kampung halaman semakin menjadi. Apalagi, semakin bertambahnya umur orang tua, keinginan Alan untuk berada di dekat mereka semakin kuat.
“Saya ingin bekerja dekat orang tua. Kalau pulang kampung, saya bisa kerja apa?”
Siapa sangka dari pertanyaan sederhana semacam itulah bisnisnya berkembang.
Sebelum benar-benar pulang kampung, Alan mencari informasi banyak-banyak mengenai kampung halamannya sendiri. Alan tahu sebagian besar wilayah Gunung Kidul beriklim kering dan tanahnya tandus. Tak mengherankan jika dulu keluarganya menolak Alan menjadi petani, sebab kebanyakan petani di Gunung Kidul adalah petani tadah hujan. Ketimbang bekerja di sawah atau ladang, mereka lebih banyak bekerja sebagai kuli bangunan dan pekerja serabutan.
Keinginan mengetahui potensi kampung sendiri membuat Alan menemukan pepaya california, anggur, buah naga, dan aloe vera sebagai komoditas yang disebut-sebut cocok dengan lanskap kering Gunung Kidul.
Dengan modal nekat tetapi diiringi keinginan yang kuat, Alan akhirnya pulang kampung. Kepulangan ini tidak dikabarkan sebelumnya kepada orang tua, dan yang lebih mengejutkan lagi: Alan membawa banyak bibit lidah buaya dari Pontianak.
Kepada orangtuanya, Alan bilang bahwa bibit yang ia bawa, kelak, akan mengangkat derajat keluarga. “Insya Allah sepuluh tahun lagi…”
Sebab itu pula ia mohon doa restu agar keinginannya terwujud. Orangtua tentu saja memberi doa, meski keraguan menghinggapi mereka dan Alan juga.
“Saya tidak tahu lidah buaya ini bisa jadi apa, tetapi saya tahu bahwa ini bisa menjadi sesuatu yang bisa dijual. Saya pingin punya usaha yang berdampak bagi lingkungan,” terang Alan.
Bukan perkara mudah kembali ke kampung halaman dan memulai bisnis dari nol. Nol besar. Pada 2019, lima tahun setelah kepulangannya ke Gunung Kidul, Alan memang sudah punya banyak lidah buaya, punya produk minuman pertama, dan punya mitra pertama.
“Jumlahnya tiga orang, mereka adalah bulik-bulik saya.”
Kini, Aloe Liquid berkembang dan jumlah petani mitra Alan sudah lebih dari 100 orang. Tak hanya di Gunung Kidul, mereka juga berasal dari Bantul, Sleman, bahkan Klaten. Saban hari, aloe vera yang Alan kumpulkan dari para mitra mencapai 500–700 kilogram.
Barang sebanyak itu tidak hanya dibuat minuman (Aloe Liquid), tetapi juga keripik (Keripik Aloe Vera) dan manisan (Nata de Aloe Vera).
Disinggung soal dampak mendapat Apresiasi SATU Indonesia Award dari Astra, Alan memberi jawaban mantap: Banyak diwawancara dan diberitakan media, sehingga usahanya menjadi lebih tepercaya.”
Saya berusaha membuktikan, menjual, menciptakan beberapa produk. Akhirnya terpilih menjadi penerima Satu Indonesia Award 2023.
-
Intan Putriani
