Konten dari Pengguna
Kenangan Sekolah: Mengapa Masa Itu Sulit Dilupakan?
5 Oktober 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Kenangan Sekolah: Mengapa Masa Itu Sulit Dilupakan?
Sekolah bukan hanya soal pelajaran dan rapor. Di balik rutinitas harian, ada kenangan, pengalaman pertama, hingga nilai kehidupan yang membentuk siapa kita hari ini. Artikel ini mengulas mengapa masa Arifin Yusli
Tulisan dari Arifin Yusli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian orang, sekolah mungkin hanya fase hidup yang “wajib dijalani”. Namun, ketika waktu berjalan dan melangkah semakin jauh, masa sekolah justru sering muncul kembali dalam ingatan. Kita merindukan suasana kelas, canda tawa di kantin, hingga deg-degan menunggu hasil ujian. Pertanyaannya: Mengapa masa sekolah begitu sulit dilupakan, padahal saat menjalaninya kita sering merasa lelah, jenuh, bahkan terkesan ingin cepat lulus?
Lebih dari Sekadar Belajar
Sekolah memang dirancang sebagai tempat belajar, tapi fungsi sebenarnya jauh lebih luas. Di sekolah, kita bukan hanya mempelajari matematika, bahasa, atau sejarah, tetapi juga kehidupan.
Kita belajar arti persahabatan saat ada teman yang selalu menemani; kita belajar arti kejujuran ketika memilih tidak menyontek meskipun godaan besar ada di depan mata; kita belajar arti tanggung jawab saat ditunjuk menjadi ketua kelompok meskipun merasa belum siap. Semua pengalaman itu menempel erat dalam ingatan, menjadikan sekolah sebagai salah satu bab paling berwarna dalam hidup.
Tempat Pertemuan dengan Beragam Karakter
Sekolah adalah miniatur masyarakat. Di dalamnya, kita bertemu dengan beragam karakter: ada yang pendiam, supel, ambisius, bahkan ada orang yang sering membuat kelas ribut. Perbedaan ini mungkin terasa melelahkan saat itu, tetapi justru menjadi bekal penting untuk kehidupan setelah lulus.
Sekolah mengajarkan kita tentang bagaimana kita belajar berkompromi dengan teman yang keras kepala, bagaimana kita memahami teman yang sulit diajak bekerja sama, hingga bagaimana kita belajar menghargai teman yang selalu berusaha meski nilainya tidak pernah sempurna. Semua itu adalah pelajaran sosial yang tak tertulis, tetapi nyata terasa manfaatnya.
Guru Sebagai Sosok yang Membekas
Selain teman, guru juga merupakan bagian yang sulit dilupakan. Ada guru yang gaya mengajarnya membuat kita jatuh cinta pada sebuah mata pelajaran. Ada pula guru yang dikenal tegas dan disiplin—yang mungkin saat itu membuat kita sering mengeluh—tetapi belakangan kita sadari bahwa sikap tegas itulah yang membentuk kedewasaan kita.
Kita mungkin masih ingat guru yang selalu memberikan motivasi sebelum ujian, atau guru yang rela meluangkan waktu ekstra untuk menjelaskan pelajaran kepada siswa yang belum paham. Sosok mereka bukan hanya “pengajar”, tetapi juga pembimbing dan teladan yang jejaknya tetap kita kenang.
Ritme Kehidupan yang Tak Terulang
Masa sekolah juga identik dengan rutinitas yang sederhana, tapi penuh makna. Dari berangkat pagi dengan seragam, mengikuti upacara bendera setiap Senin, istirahat sambil jajan di kantin, hingga menunggu bel pulang berbunyi. Saat masih di sekolah, mungkin rutinitas ini terasa membosankan. Namun, ketika kita sudah beranjak dewasa, justru ritme sederhana itulah yang sering kita rindukan.
Di dunia kerja atau kuliah, rutinitas menjadi lebih kompleks, penuh tekanan, dan tidak jarang melelahkan. Ada target yang harus dicapai, tanggung jawab besar yang harus diemban, dan ada tuntutan yang tidak bisa ditunda. Karena itu, kenangan masa sekolah sering hadir sebagai pengingat bahwa seseorang pernah ada dalam fase hidup di mana dirinya bisa tertawa lepas tanpa adanya banyak beban.
Sekolah sebagai Rumah Kedua
Bagi sebagian orang, sekolah bahkan lebih dari sekadar tempat belajar. Ia menjadi rumah kedua, tempat kita menghabiskan sebagian besar waktu tumbuh dan berkembang. Dari pagi hingga sore, kita menjalani aktivitas bersama orang-orang yang akhirnya terasa seperti keluarga.
Di sekolah, kita menemukan sahabat sejati. Kita belajar mengatasi konflik, berbagi cerita, hingga mendukung satu sama lain dalam situasi sulit. Banyak pula yang menemukan bakat dan minatnya di sekolah: ada yang mulai menulis di majalah dinding, ada yang pertama kali berani tampil di panggung, ada yang menemukan kecintaannya pada olahraga. Semua itu menjadi bagian penting dari perjalanan diri.
Masa Sekolah dan Rasa Nostalgia
Ketika kita sudah lulus, kenangan sekolah sering muncul tiba-tiba dalam ingatan: lagu-lagu yang dulu sering diputar di kelas, foto kenangan saat perpisahan, atau sekadar aroma buku baru yang mengingatkan kita pada masa itu. Nostalgia ini bukan sekadar romantisasi masa lalu, melainkan bagian dari cara kita menghargai perjalanan hidup.
Mungkin kita tidak menyadarinya, tetapi masa sekolah adalah periode di mana kita mengalami begitu banyak momen “pertama kali”: pertama kali mendapat nilai jelek, pertama kali mengikuti lomba, pertama kali jatuh cinta, hingga pertama kali berani mengambil keputusan sendiri. Semua pengalaman “pertama kali” ini begitu kuat menempel dalam ingatan, menjadikan masa sekolah sulit tergantikan.
Mengapa Kita Harus Merawat Kenangan Itu?
Kenangan sekolah sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai nostalgia belaka. Ia bisa menjadi pengingat bahwa setiap orang pernah melalui proses panjang untuk sampai di titiknya sekarang. Bahwa setiap orang pernah belajar dari nol, pernah gagal, pernah bangkit, dan pernah berusaha lagi.
Dengan mengingat masa sekolah, kita bisa lebih menghargai diri sendiri. Kita sadar bahwa meskipun jalan hidup penuh dengan tantangan, kita telah ditempa oleh pengalaman sederhana yang membentuk karakter. Sekolah mengajarkan kita bahwa hidup bukan hanya soal menang atau kalah, melainkan soal bagaimana kita tumbuh, belajar, dan terus berproses.
Mungkin benar kata banyak orang: masa sekolah adalah masa paling indah dalam hidup. Bukan karena semuanya selalu menyenangkan, melainkan karena di sanalah kita merasakan campuran lengkap antara suka dan duka, tawa dan tangis, serta kegagalan dan keberhasilan.
Sekolah bukan hanya ruang kelas. Ia adalah ruang hidup yang melahirkan cerita, membentuk karakter, dan meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Mungkin, suatu hari nanti ketika kita sudah jauh melangkah, kita akan menoleh ke belakang dan berkata: “Ah, ternyata masa itu adalah masa-masa yang paling berharga.”

