Konten dari Pengguna
Tinggal Meninggal (2025): Ketawa Sekejap, Lalu Sunyi Menyergap
28 Agustus 2025 11:36 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Tinggal Meninggal (2025): Ketawa Sekejap, Lalu Sunyi Menyergap
Review Film terbaru dari Imajinari. Disutradarai oleh Kristo Imanuel, film ini mengajak kita mengeksplorasi kehidupan batin seorang Gema yang tersisih secara sosial. Muhammad Iqbal Awaludien
Tulisan dari Muhammad Iqbal Awaludien tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tinggal Meninggal (2025) karya Kristo Immanuel hadir ibarat oase di tengah perfilman Indonesia yang didominasi genre horor.
Dirilis pertengahan Agustus 2025 oleh rumah produksi Imajinari, film ini tidak memilih jalur drama-komedi yang bertabur tawa, melainkan bermain di ranah komedi getir. Isu yang dibawanya pun berat, tapi tidak bikin pening.
Gelak tawa dan rasa getir bisa seketika bercampur saat menontonnya, menghasilkan pengalaman yang menghibur sekaligus menohok.
Cerita berpusat pada Gema (dibaca bukan Geuma) yang diperankan oleh Omara Esteghlal. Ia digambarkan sebagai sosok neurodivergen yang sulit bersosialisasi, sering ngomong sendiri, dan dianggap aneh โ sebagai Liyan โ oleh lingkungannya.
Kehidupan Gema berubah ketika ayahnya meninggal. Untuk kali pertama, dia mendapat perhatian dari teman-teman sekantor, suatu hal yang tak pernah dia dapatkan selama ini.
Sayang, tak ada yang kekal di kolong langit, seperti halnya perhatian terhadap Gema. Gema kembali kosong dan tak terlihat (unseen) akibat teman-teman kantornya, lagi-lagi cuek!
Untuk meminimalisasi spoiler, tidak akan diceritakan di sini apa saja tindakan Gema selanjutnya untuk mendapatkan perhatian banyak orang.
Keluarga Disfungsional dan Kesepian
Dengan mudah kita bisa menilai bahwa Tinggal Meninggal adalah film tentang usaha seorang manusia untuk bisa diterima, diakui, dilihat, atau meminjam sedikit penggalan lirik lagu Linkin Park, the "Emptiness Machine" โฆ.only wanted to be part of something.
Ya, tak salah. Secara subtil film menyentak kita semua betapa kita kerap tak menjadi diri sendiri untuk diterima. Serta betapa kebohongan telah menjadi alat untuk untuk mengemis perhatian.
Akan tetapi, film yang naskahnya ditulis Kristo dan sang Istri ini (Jessica Tjiu), tidak terjebak dalam klise pesan moral dan taburan kutipan yang bikin jengah tak karuan.
Film justru mengajak kita, penonton, untuk mengeksplorasi pertanyaan,
Melalui Gema, jawaban untuk pertanyaan pertama adalah akibat keluarga disfungsional yang ternyata bisa membuat seseorang kesepian. Keluarga materialistis yang kerap bersembunyi dalam slogan โBerjuang untuk masa depan keluarga karena itu harus gila kerjaโ. Padahal cuma menempatkan anak sekadar komoditas dan investasi sehingga pada suatu hari nanti si Anak wajib membalas budi.
Sementara untuk pertanyaan kedua, jabawannya pembaca bisa tunjuk ke hidung sendiri.
Dari sisi teknis, Kristo menggunakan breaking the fourth wall, sebuah teknik yang sengaja mengajak penonton masuk ke dunia batin Gema yang berisik nan terasing. Terbilang riskan karena, jika pembuat film tidak mampu membuat karakter yang relate dan tidak mudah dicintai, film hanya akan menjadi monolog yang isinya keluhan dan gerutu.
Di titik inilah Kristo bisa dianggap sutradara bertalenta dengan masa depan cerah. Kolaborasinya dengan Omara menyajikan karakter yang lovable tapi sangat manusiawi, tanpa embel-embel bahwa protagonis itu harus selalu baik dan benar.
Selain itu, penonton pun dibikin betah mengikuti perjalanan Gema karena sang Sutradara lihai dalam mengatur tempo, dengan editing dan transisi yang rapi.
Jangan lupakan pula karakter pendukung film. Sebut saja Kerin yang diperankan Mawar Eva de Jongh, Ilham oleh Ardit Erwandha, Adriana oleh Shindy Huang, Naya oleh Nada Novia, dan Bos Cokro oleh Muhadkly Acho. Mereka mewakili dinamika pekerja kantor yang penuh basa-basi dan kepura-puraan, dunia yang terasa dekat bagi banyak orang. Dari interaksi mereka dengan Gema, terselip kritik terhadap budaya sosial kita yang sering lebih peduli pada citra dibandingkan rasa.
Akhir kata, Tinggal Meninggal lebih dari sekadar hiburan. Film ini ibarat surat cinta untuk orang-orang yang sering merasa tidak dilihat. Ia berbicara tentang mereka yang mungkin dianggap aneh, yang berbicara sendiri, sulit bergaul, dan siapa pun yang kerap terjebak dalam kepalanya sendiri.
Layak disebut sebagai salah satu karya penting tahun ini. Bukan karena berani mengangkat tema yang jarang disentuh secara cerdas. Lebih dari itu, sebagai cermin sekaligus pengingat: Ternyata di balik tawa, selalu ada rindu. Rindu seorang manusia untuk benar-benar dimengerti, diakui ....

