Konten dari Pengguna
Penguatan Green Skills melalui Reformasi TVET untuk Green Jobs Indonesia
4 Juni 2025 9:01 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Penguatan Green Skills melalui Reformasi TVET untuk Green Jobs Indonesia
Green jobs mencerminkan transisi hijau ke arah keberlanjutan ESG dan SDGs. Hal tersebut perlu didiukung dengan green skills yang memadai.Irene Kusuma Palmarani
Tulisan dari Irene Kusuma Palmarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Transformasi ekonomi global ke arah ekonomi hijau telah diadvokasikan oleh berbagai organisasi internasional dan menjadi rencana strategis di berbagai negara. Di tengah tekanan perubahan iklim, krisis energi, dan disrupsi digital, green jobs muncul sebagai alternatif strategis yang mampu menyelaraskan pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan penciptaan pekerjaan yang layak. Hal ini menjadi tantangan dan peluang baru dalam dunia ketenagakerjaan, terutama di Indonesia, karena tingginya tingkat pengangguran terbuka. Oleh karena itu, membangun ekosistem kerja hijau dapat menjadi salah satu kunci dan peluang untuk menjawab tantangan tersebut, yang perlu ditopang dengan green skills pada sistem pelatihan vokasional yang adaptif.
Green Jobs Sebagai Jalan Menuju Ekonomi Berkelanjutan
Pekerjaan hijau atau green jobs menurut ILO adalah pekerjaan yang layak dan berkontribusi pada pelestarian atau pemulihan lingkungan, baik di sektor tradisional (seperti manufaktur dan konstruksi) maupun di sektor baru yang hijau (seperti energi terbarukan dan efisiensi energi). Seiring dengan meningkatnya urgensi transisi menuju ekonomi rendah karbon, green jobs menjadi pilar penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Peran green jobs menjadi strategis dalam mendorong implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta menjadi bagian dari agenda global seperti Sustainable Development Goals (SDGs). Dalam konteks ESG, green jobs berkontribusi langsung dengan mengurangi dampak ekologis aktivitas ekonomi, menciptakan pekerjaan yang layak dan inklusif, serta menunjukkan komitmen terhadap tata kelola berkelanjutan bagi perusahaan yang menerapkannya.
Dari kerangka SDGs, green jobs berperan dalam mewujudkan tujuan SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggungjawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan iklim), dan SDG 15 (Kehidupan di Darat). OECD mencatat bahwa integrasi green jobs ke dalam kebijakan pembangunan nasional dapat mempercepat pencapaian target SDGs dan meningkatkan daya saing ekonomi secara global.
Nilai-nilai tersebut menekankan bahwa green jobs tidak hanya mengatasi isu lingkungan saja, tetapi strategi untuk mengurangi ketimpangan, memperluas inklusi sosial, dan meningkatkan ketahanan ekonomi. Maka dari itu, green jobs harus dibangun tidak hanya dengan menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga membekali tenaga kerja dengan green skills yang relevan.
Strategi Global: Reformasi TVET untuk Green Skills
Perkembangan green jobs juga menuntut peningkatan green skills, yaitu pengetahuan, kemampuan, dan sikap yang dibutuhkan untuk mendukung proses transisi hijau. Green skills meliputi keterampilan teknis seperti: pengoperasian teknologi energi terbarukan, manajemen limbah, konstruksi berkelanjutan, serta keterampilan lintas sektor untuk inovasi dan kolaborasi. OECD dalam forum Green Growth and Sustainable Development (GGSD) menekankan bahwa transisi hijau tidak akan tercapai tanpa reformasi struktural yang mendukung inovasi, pendidikan, dan keterampilan hijau.
Untuk mencapai hal tersebut, UNESCO-UNEVOC dan Cedefop menawarkan pendekatan praktis dalam mengintegrasikan keterampilan hijau pada kurikulum sektor pendidikan dan pelatihan vokasional (Technical and Vocational Education and Training-TVET). Hal tersebut tertuang dalam dokumen Meeting Skill Needs for the Green Transition, yang meliputi:
• Integrasi keterampilan hijau dalam kurikulum, dengan mengadopsinya ke semua program pelatihan, tidak hanya terbatas pada sektor lingkungan. Semua lulusan akan memiliki kesadaran dan kemampuan dalam praktik berkelanjutan.
• Pengembangan profesional bagi pendidik, dengan memberikan pelatihan dan sumber daya kepada pendidik dan pelatih agar dapat mengajarkan keterampilan hijau dengan efektif.
• Kolaborasi dengan industri dan komunitas, untuk memastikan bahwa pelatihan yang diberikan relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.
• Pendekatan pembelajaran berkelanjutan, untuk memungkinkan tenaga kerja memperoleh keterampilan baru yang diperlukan serta memastikan pelatihan tersedia bagi semua kalangan.
• Pemanfaatan teknologi digital, dengan mengintegrasikannya ke dalam proses pembelajaran untuk persiapan menghadapi transformasi digital di berbagai sektor industri serta meningkatkan aksesibilitas dan efektivitas pelatihan keterampilan hijau.
Mismatch Tenaga Kerja dan Strategi RPJMN Indonesia
Meskipun green jobs telah masuk dalam narasi pembangunan nasional di Indonesia, namun realisasinya masih jauh dari optimal. Laporan World Economic Forum awal tahun 2025 mencatat bahwa hanya sekitar 2.62% tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor hijau. Jumlah ini relatif kecil dibanding potensi besar Indonesia dalam perkembangan transisi energi, agrikultur berkelanjutan, dan pengelolaan limbah.
Sementara itu, Kementerian ESDM menyatakan adanya potensi penyerapan tenaga kerja dalam implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025-2030, di antaranya terbuka peluang lebih dari 760 ribu green jobs, tertinggi pada bidang Pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) Surya. Namun, apakah tenaga kerja Indonesia sudah siap dari aspek keterampilan kerja hijau yang diperlukan? Sementara di sisi lain masih banyak pengangguran yang didominasi oleh lulusan SMK dibandingkan lulusan pendidikan lainnya. Hal ini menandakan adanya mismatch antara keterampilan lulusan dan kebutuhan dunia kerja hijau.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Indonesia menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang menawarkan arah kebijakan strategis dalam mendorong transformasi hijau yang inklusif. Dokumen ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan GIZ, yang bertujuan untuk merancang strategi pengembangan tenaga kerja hijau di Indonesia. Peta jalan ini menekankan pentingnya integrasi aspek lingkungan dalam perencanaan tenaga kerja nasional, dengan fokus pada transisi energi, ekonomi sirkular, dan pembangunan rendah karbon.
Dokumen tersebut juga mengidentifikasi kebutuhan akan pengembangan green skills melalui reformasi pendidikan vokasi dan pelatihan kerja, serta pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, serta lembaga pendidikan dan pelatihan dalam menciptakan ekosistem kerja hijau yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya Indonesia ini sejalan dengan rekomendasi global yang disampaikan dalam dokumen UNESCO di atas. Hal ini menunjukkan bahwa RPJMN 2025-2029 menjadi momentum strategis untuk mengintegrasikan green jobs dan green skills dalam mendesain ulang sistem TVET.
Akselerasi Green Jobs di Indonesia
Untuk mewujudkan ekosistem green jobs yang produktif dan inklusif, dengan gambaran peluang dan kesenjangan di atas, maka Indonesia dapat menerapkan strategi berikut:
• Mengintegrasikan green skills ke dalam sistem TVET, yang dapat ditindaklanjuti oleh Kementerian Pendidikan untuk kurikulum SMK dan Politeknik, juga Kementerian Ketenagakerjaan untuk program pelatihan di Balai Pelatihan Vokasi lengkap dengan skema sertifikasi nasional dari BNSP.
• Peningkatan kapasitas pendidik dan pelatih, untuk menguasai keterampilan teknologi hijau dan metodologi berbasis keberlanjutan.
• Kemitraan triple helix, sebagai model kolaboratif antara pemerintah-industri-akademisi untuk menjamin kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan sektor hijau yang dibutuhkan.
• Insentif dan regulasi ESG untuk dunia usaha, guna mendorong transisi hijau dan penciptaan lapangan kerja hijau yang sejalan dengan standar SDGs.
• Evaluasi dan adaptasi berkelanjutan, dengan mengevaluasi penyesuaian strategi berdasarkan kebutuhan sektor kerja hijau yang terus berubah.
Green jobs menawarkan solusi konkret terhadap tantangan perubahan iklim dan pengangguran di Indonesia. Untuk mencapai hal tersebut, Indonesia harus berani mendesain ulang sistem pendidikan dan pelatihan vokasi dengan penyesuaian terhadap kebutuhan keterampilan hijau masa depan. RPJMN 2025-2029 telah menyediakan kerangka strategis, namun implementasinya perlu diperkuat dengan kolaborasi aktif lintas sektor. Dengan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya bisa mencapai target SDGs, tetapi juga membentuk ekonomi baru yang adil, hijau, dan berdaya saing global.

