Konten dari Pengguna

Dari Cisadane ke Moskow: Kontroversi BRICS Literature Award & Nominasi Denny JA

Irsyad Mohammad
Pengamat Geopolitik dan Pengamat Timur Tengah. Alumni Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Mahasiswa S2 Islamic Studies Universitas Paramadina. Penulis, Sejarawan, Penyair, dan Salah Satu Deklarator Angkatan Puisi Esai.
10 November 2025 11:59 WIB
·
waktu baca 13 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Cisadane ke Moskow: Kontroversi BRICS Literature Award & Nominasi Denny JA
Denny JA mendapatkan nominasi lewat Konferensi Pers BRICS Literature Award yang diumumkan di PDS HB Jassin pada 27 Oktober 2025. Denny JA menjadi penyair Indonesia yang dinominasikan.
Irsyad Mohammad
Tulisan dari Irsyad Mohammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
(Dari kiri) Koordinator Nasional Jaringan Sastra BRICS di Indonesia Sastri Bakry, Co Chairman of the BRICS Literature Network, Rusia, Vadim Terekhin, Director Rusia House Nikita Sergeevich Shilikov dan Sekretaris Badan Pembinaan Bahasa dan Satra, Ganjar Harimansyah saat konferensi pers BRICS Literature Award 2025 di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin, (27/10/2025). Sumber Gambar: Hasil jepretan sendiri.
zoom-in-whitePerbesar
(Dari kiri) Koordinator Nasional Jaringan Sastra BRICS di Indonesia Sastri Bakry, Co Chairman of the BRICS Literature Network, Rusia, Vadim Terekhin, Director Rusia House Nikita Sergeevich Shilikov dan Sekretaris Badan Pembinaan Bahasa dan Satra, Ganjar Harimansyah saat konferensi pers BRICS Literature Award 2025 di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin, (27/10/2025). Sumber Gambar: Hasil jepretan sendiri.
Denny JA mendapatkan nominasi lewat Konferensi Pers BRICS Literature Award yang diumumkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin pada 27 Oktober 2025. Denny JA menjadi satu-satunya penyair Indonesia yang lolos dalam nominasi ini setelah melalui rapat seleksi yang ketat dan objektif di dalam penjurian BRICS Literature Award sendiri. Dari Indonesia sendiri sebetulnya terdapat beberapa nama yang dicalonkan, sama juga dengan negara-negara anggota BRICS lainnya seperti: Brazil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab.
Namun pada hasill akhirnya setiap juri saling memilih nama untuk setiap negara dengan peraturan, bahwa juri tidak boleh memilih penyair dari negaranya masing-masing. Peraturan tersebut dibuat tentunya untuk memastikan tidak adanya bias dan sentimen dalam penentuan nama penyair yang akan mendapatkan nominasi untuk BRICS Literature Award. Juri dari Indonesia saja tidak boleh memilih nominee dari dalam negerinya, hanya juri dari 9 negara lain yang diperbolehkan dan begitu juga negara lain berlaku peraturan yang sama.
Ketika nama Denny JA diumumkan sebagai nominee dari Indonesia oleh Vadim Terekhin, Ketua the BRICS Literature Network. Sontak tiba-tiba Maman S. Mahayana teriak tolak dan dengan kelas dia katakan: “no!”
Langsung teriakan penolakan dilakukan juga oleh Remmy Novaris dengan tiba-tiba ia datang ke depan serta menyela MC dan mengatakan agar pihak penyelenggara memberikan kesempatan kepada Maman S. Mahayana untuk berbicara. Maman S. Mahayana sempat ke depan dan memberikan alasan penolakan terhadap Denny JA dan mengklaim dirinya sebagai juri tidak memilih nama itu, kemudian langsung segera dibantah oleh pihak BRICS Literature Award bahwa para juri dari Indonesia tidak bisa memilih nama-nama dari Indonesia dan hanya juri dari negara lain yang berhak memilih nama dari Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menjaga objektivitas terhadap nama-nama yang dipilih.
Pihak penyelenggara dengan tegas tidak mau tunduk kepada upaya anarkisme yang dilakukan oleh Maman S. Mahayana tersebut. Sebab yang ia lakukan tidaklah etis dengan menyerobot panggung acara orang lain. Pihak penyelenggara bersikeras bila ada bantahan, bisa dilakukan pasca selesainya konferensi pers. Maman S. Mahayana yang pernah berprofesi sebagai dosen, juga menganggap dirinya intelektual dan kritikus sastra, malahan melakukan tindakan tidak beretika, tidak terdidik, dan tidak berbudaya, serta tidak mencerminkan dirinya sebagai intelektual dengan menyela Vadim Terekhin ketika sedang mengumumkan nama Denny JA dalam nominasi.
Langkah Remmy Novaris dan Maman S. Mahayana tidak menunjukkan diri mereka sebagai intelektual dan penyair, karena tindakannya menunjukkan seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan. Terlebih lagi Remmy Novaris membacakan pernyataan sikap yang diklaimnya adalah sikap para penyair Indonesia yang menolak nominasi ini, tentu harus kita kritisi penyair yang mana? Karena banyak juga penyair muda hingga penyair termasyur di negeri ini yang mendukung nominasi Denny JA bahkan ikut menulis puisi esai karena terpanggil jiwanya untuk menulis puisi esai.
Satu langkah untuk membohongi publik dilakukan oleh Remmy Novaris dan Maman S. Mahayana sampai mengajak Vadim Terekhin untuk dialog di TIM selesai acara. Selepas itu mereka berpoto bersama, lalu Remmy Novaris mengunggah di laman Facebooknya dan mengklaim Vadim Terekhin selaku Ketua BRICS Literature Award, ikut mendukung sikap mereka menolak nominasi Denny JA dan tetap independen dalam urusan dalam negeri penyair Indonesia. Tentu ini upaya mendistorsi publik, cuma mengajak orang poto kemudian bikin konten di medsos dan membuat klaim sendiri.
Tindakan tidak beretika yang dilakukan oleh Maman S. Mahayana ini bukanlah yang pertama kalinya ia lakukan. Dulu ketika ia tergabung dengan tim 8 yang menyusun buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2013) di mana Maman S. Mahayana sempat tergabung di dalamnya, ia mendukung peluncuran buku ini. Namun ketika buku ini dihujat se-Indonesia, lantas ia keluar dan membiarkan sahabat-sahabatnya dihujat. Masalah Maman S. Mahayana mulanya mendukung buku ini tidak akan anda dengar dari pengakuannya sendiri, namun bila bertanya kepada 7 anggota tim lain yang ia khianati anda akan langsung dapat penjelasan lengkap soal itu.
Selayaknya Yudas yang menerima 30 keping perak untuk mengkhianati Yesus, Yudas pun tiba-tiba setelah mengkhianati Gurunya, ia pun mencium gurunya dan tiba-tiba berkhotbah soal moral. Hal ini seperti Maman S. Mahayana yang sudah mengkhianati para sahabatnya, tiba-tiba ia melempar bensin ke dalam api dengan menyatakan para penyusun buku itu dibayar itu dibayar 25 juta rupiah oleh Denny JA dan ia sendiri mengaku menerima uang tersebut, serta akan mengembalikannya ke Denny JA. Mengapa ia tega melakukan hal tidak terpuji tersebut? Menurut pengakuan salah satu Tim 8 yang menyusun buku 33, Maman S. Mahayana mengira Denny JA membayar setiap orang tersebut milyaran dan ia gak dapat bagian. Ia beranggapan para sahabatnya hengki pengki, tidak menerapkan prinsip BATUBARA (BArang Tuhan diBAgi Rata).
Maman S. Mahayana yang semula menyatakan mendukung buku itu, tiba-tiba ia menghujat buku itu ketika se-Indonesia menghujat buku itu. Maman S. Mahayana tinggal glanggang, colong playu. Maman S. Mahayana menyatakan ia akan mengembalikan uang 25 juta itu kepada Denny JA dan meminta tulisannya di buku 33 itu dicabut. Setelah khotbah dan ujaran moral Maman S. Mahayana soal etika dalam sastra dan hujatannya yang bombastis kepada Denny JA, pertanyaan mendasarnya apakah ia sendiri mengembalikan uang itu? Sudah lebih dari 10 tahun berlalu sejak pernyataan itu, uang itu belum juga dikembalikan kepada Denny JA dan kita tidak pernah melihat ada pernyataan apa pun dari Maman S. Mahayana telah mengembalikan uang itu ataupun dari Denny JA yang menerima kembali uang dari Maman S. Mahayana. Dari sini saja kita bisa menyimpulkan Maman S. Mahayana sebagai manusia seperti apa, tidak ubahnya ia bak pendusta yang berkhotbah soal moral. Menerima uangnya mau, dihujat tidak mau.
Seandainya ia kembalikan uangnya, terus ia tetap konsisten menghujat Denny JA dan puisi esainya, setidaknya itu sedikit bisa membersihkan namanya. Meskipun tidak bisa mengubah fakta sejarah bahwa ia semula mendukung buku tersebut. Jadi ketika ia tiba-tiba berbicara soal moral dan etika dengan melakukan cara-cara tidak beretika dengan menyerobot dan mengganggu acara Konferesi Pers BRICS, tetap tidak mengubah fakta bahwa perkataannya layaknya ucapan Yudas Iskariot, tidak bisa dipercaya. Saya melihat ada tulisan di medsos dari Aprinus Salam, mengkritik Denny JA dan juga sikap Maman S. Mahayana yang menurut mereka juga tidak bisa dipercaya, karena tidak mengembalikan uang kepada Denny JA. Menurut tulisan itu sebaiknya bila Maman S. Mahayana mau mengkritik Denny JA dan menghujatnya, ia harus terlebih dahulu menepati omongannya sendiri mengembalikan uang 25 juta rupiah. Jadi dapat kita simpulkan di sini, tidak semua komunitas sastra di Indonesia lupa omongan ini.
Langkah tidak terpuji lainnya dapat kita lihat dalam postingan Remmy Novaris yang menyatakan Vadim Terekhin mendukung mereka terbukti terbantahkan. Sebab hasil akhir 10 nama yang dinominasikan, di antaranya Denny JA sudah final, meskipun terdapat penolakan. Bahkan kita bisa lihat akun Instagram resmi Kedubes Rusia di Indonesia sudah resmi mempublikasikan Konferensi Pers BRICS Literature Award, di laman instagram mereka pada 28 Oktober 2025. Dari 10 nama yang dinominasikan nantinya akan disaring lagi untuk menentukan pemenangnya. Hasil akhir pemenang BRICS Literature Award akan diumumkan oleh juri lewat konferensi pers di Moskow pada 27 November 2025.
Suara miring lainnya bermunculan dari Iksaka Banu yang sempat merasa nominasinya diserobot oleh Denny JA. Bahkan ia menulis surat keras dan menyatakan dirinya akan menolak nominasi seandainya terpilih. Tentu itu Cuma ucapan seorang yang sakit hati dan kecewa karena namanya tidak terpilih, coba Iksaka Banu namanya terpilih tidak mungkin ia berkata begitu. Pernyataan begitu hanya untuk menutup rasa malu, buruk muka cermin dibelah.
Denny JA dan Transformasi Puisi Esai di Indonesia
Deklarasi berdirinya Angkatan Puisi Esai oleh para penyair se-Indonesia di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B, Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini pada Jumat, 13 Desember 2024. Tampak di poto Denny JA (depan bagian tengah mengenakan jas) memegang Kitab Angkatan Puisi Esai Jilid I-IV bersama Datuk Jasni Matlani, Presiden Puisi Esai ASEAN dari Negeri Sabah, Malaysia (tengah bagian depan menggunakan batik biru). Irsyad Mohammad, penulis sekaligus salah satu penyusun Kitab Angkatan Puisi Esai Jilid I-IV berada di paling kanan (mengenakan kemeja coklat dan celana krem).
Sastry Bakry selaku Koordinator Nasional BRICS Literature Award menjelaskan mengapa Denny JA layak untuk mendapatkan nominasi, karena ia menciptakan genre baru dalam puisi Indonesia yaitu “puisi esai” dan banyak aktif bergerak dalam dunia sastra Indonesia.
Tentu pemilihan Denny JA sebagai nominee, merupakan upaya yang obyektif dan tidak subyektif. Sebab jurinya saja berasal dari 10 negara anggota BRICS, juga Denny JA tidak mungkin Denny JA punya pengaruh politik sebesar itu sampai bisa mempengaruhi petinggi-petinggi bahkan para juri BRICS. Apalagi sulit kita membayangkan Denny JA kenal para juri BRICS Literature Award. Para penghujat dan pengkritik puisi esai serta Denny JA, kebanyakan dari mereka mengkritik Denny JA bukan karena puisi esai melainkan sentimen personal dan kedengkian terhadap Denny JA. Sangat disayangkan beberapa dari mereka mengaku dirinya beragama, namun berkelakuan seperti orang tidak beragama dengan hatinya diselumi iri dan dengki.
Di mata mereka Denny JA adalah “Superman” ia bisa mengendalikan apa pun. Seandainya Denny JA bisa menyetir agar namanya masuk nominasi, pastinya ia sudah sejajar dengan para elite global seperti George Sorros, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Xi Jinping, Vladimir Putin, Donald Trump. Padahal faktanya kita sendiri tidak pernah lihat ada poto Denny JA ngopi bareng dengan para pemimpin BRICS seperti Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Narendra Modi. Kubu-kubu yang menganggap masuknya nominasi Denny JA karena unsur politik, sebenarnya secara tidak langsung mereka telah menempatkan Denny JA ke tempat tertinggi dalam sejarah politik dunia. Berarti mereka menganggap Denny JA levelnya sudah sejajar dengan semua kepala negara yang menjadi anggota BRICS.
Kedunguan para penolak buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia (2013), sebenarnya dengan naifnya membenarkan isi buku tersebut bahwa Denny JA layak menjadi tokoh sastra paling berpengaruh. Mengapa? Mereka menolak Denny JA masuk dalam daftar 33 tokoh sastra paling berpengaruh, namun mereka sendiri menghujat Denny JA terus menerus bahkan tiada jemu-jemunya merapalkan hujatan terhadapnya layaknya mantra dan dzikir. Rupanya dzikir para penghujat buku 33 malahan menjadi self-fullfiling prophecy terhadap Denny JA, karena nama Denny JA di dunia sastra jadi terkenal berkat mereka sampai dilirik ke luar negeri. Sebab kalau orang itu tidak berpengaruh, tidak mungkin dihujat! Jelas sekali itu, hujatan terhadapnya malahan semakin membenarkan kalau Denny JA berpengaruh. Semakin tinggi pohon, semakin deras angin menerjang daun.
Ibarat anjing menggonggong kafilah berlalu, begitu juga dengan para penghujat puisi esai dan Denny JA. Denny JA tetap bersinar dan tumbuh tinggi dalam kesusastraan dunia. Itulah yang membuat para penghujatnya stress, semakin dihujat semakin tidak tumbang. Malahan saya bertemu dengan para penyair dan penulis muda atau orang-orang yang mencoba-coba belajar sastra, kebanyakan tidak tahu tentang kontroversi ini. Kontroversi ini sudah lama dilupakan orang, hanya nama harum Denny JA yang diingat. Sedangkan para penghujatnya masih belum bisa move on dari kontroversi ini. Hal paling tidak masuk akalah adalah banyak penyair ternama negeri ini menulis buku antologi puisi sejak 2012 hingga 2025, pemberitaannya ketutup dengan semua kontroversi Denny JA. Ibarat jarum jatuh dari
Denny JA setiap orang membicarakannya, seolah-olah dunia sastra Indonesia selama 13 tahun ini hanya diisi oleh pemberitaan mengenai Denny JA.
Kelahiran puisi esai sebagai genre baru dalam puisi Indonesia pada tahun 2012 dengan terbitnya Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai. Kemudian di tahun yang sama terbit buku puisi esai Kutunggu Kamu di Cisadane yang ditulis oleh Ahmad Gaus AF, hal ini membuat Ahmad Gaus menjadi “Assabiqunal Awwalun Puisi Esai di Indonesia.” Setelahnya bermunculan berbagai karya puisi esai hingga sekarang, mulai dari Isbedy Stiawan ZS, Anwar Putra Bayu, Fatin Hamama, Jonminofri Nazir, Elza Peldi Taher, Fanny J. Poyk, bahkan termasuk saya juga menulis puisi esai Sebotol Soju untuk Richard (2023) dan buku antologi puisi esai Yang Luput dari Jantung Sejarah (2024). Kita lihat sudah tidak terhitung banyaknya penulis yang menulis puisi esai dan sudah tidak terhitung banyaknya buku puisi esai yang terbit dalam berbagai bahasa.
Bahkan Agus R. Sarjono yang selama ini dikenal sebagai “Ideolog Puisi Esai” akhirnya tergerak juga untuk ikut menulis puisi esai, meskipun selama ini tidak pernah menulis puisi esai. Agus R. Sarjono mulai menulis buku antologi puisi esai pertamanya From River to the Sea: Husam Husky Rhapsody (2023). Hal ini menunjukkan Agus R. Sarjono yang selama puluhan tahun menjadi penyair kondang di negeri ini, hidupnya merasa kurang sempurna sebagai penyair apabila dirinya tidak menulis puisi esai. Agus R. Sarjono hidupnya baru lengkap sebagai seorang penyair, “Ideolog Puisi Esai”, penulis, dan bahkan Deklarator Angkatan Puisi Esai, dengan menulis buku antologi puisi esainya sendiri.
Sudah banyak kegiatan puisi esai yang disponsori Denny JA hingga sekarang mulai dari lomba dan sayembara puisi esai tingkat nasional, membantu para penulis yang hendak menerbitkan karya puisi esai, bahkan mempopulerkan puisi esai dengan alih wahana menjadikan puisi esai sebagai kartun, film, ataupun pementasan teater berdasarkan naskah puisi esai. Semua itu dilakukan dengan ikhlas dan menggunakan dana pribadi Denny JA sendiri, tanpa mengandalkan sponsor dari pihak manapun. Semua dilakukan idealisme Denny JA demi menghidupkan dinamika dunia sastra di Indonesia. Di era AI di saat orang semakin banyak meninggalkan puisi, malahan Denny JA menjadi “Juru Selamat Puisi di Era AI” dan turut menghidupkan puisi kembali, layaknya “Juru Selamat” yang menghidupkan kembali orang mati. Bahkan Denny JA melakukan terobosan revolusioner dengan mempelopori, penulisan dengan perbantuan AI. Sampai Denny JA mendirikan organisasi Kreator Era AI (KEAI).
Puisi Esai dari Polemik ke Pengakuan Global
Penyair sekaligus Ketua Tim Penyusun Kitab Angkatan Puisi Esai Jilid I-IV, Agus R. Sarjono mempresentasikan puisi esai dan Kitab Angkatan Puisi Esai Jilid I-IV, di Universitas Bonn, Jerman, pada September 2025.
Langkah Denny JA yang mewakafkan dirinya untuk kemajuan puisi, dunia sastra, dan dunia kepenulisan di tanah air, ternyata berbuah hasil. Mulai bermunculan orang-orang dari Sabang sampai Merauke yang menulis puisi esai. Bahkan tidak disangka puisi esai sudah mulai ditulis oleh para penulis dan penyair dari luar negeri, puncaknya sampai ada Festival Puisi Esai ASEAN diadakan di Kota Kinabalu, Negeri Sabah, Malaysia. Bahkan berdiri Komunitas Puisi Esai ASEAN yang dipimpin oleh Datuk Jasni Matlani. Festival Puisi Esai ASEAN ini diadakan setiap tahunnya disponsori dan diadakan oleh Pemerintah Negara Bagian Sabah, bukan oleh inisiatif ataupun dana pribadi Denny JA. Hal ini menunjukkan bahwa kiprah dan ketokohan Denny JA di dunia sastra, mulai diminati oleh negara lain.
Bahkan mulai ada buku antologi puisi esai berisikan para penyair Asia Tenggara, juga ada antologi puisi esai berisikan penyair berbagai negara mulai dari Kepulauan Solomon, Australia, Mesir, Myanmar, Iran, dll. Tidak heran bila tahun 2021 Komunitas Puisi Esai dapat surat undangan dari Komite Nobel Sastra, hal ini menunjukkan Denny JA mulai dilirik oleh pihak Nobel Sastra. Hal ini menjadikan Denny JA bersama dengan Pramoedya Ananta Toer sebagai penyair Indonesia yang pernah dapat nominasi Nobel Sastra.
Puncak dari antusiasme para penulis puisi esai ini terwujud di Indonesia pun sejak 2023 setiap tahun diadakan Festival Puisi Esai Jakarta yang setiap tahun diadakan di bulan Desember. Bahkan puisi esai mulai mengawali periodeisasi sejarah baru dalam dunia sastra di Indonesia dengan lahirnya “Angkatan Puisi Esai” yang dideklarasikan pada Festival Puisi Esai II Jakarta, pada 13 Desember 2025. 10 penyair dan kritikus sastra Indonesia seperti Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Ahmad Gaus AF, Berthold Damshäuser, saya sendiri, Mahwi Air Tawar, Jonminofri Nazir, Ipit Saefidier Dimyati, Imam Qalyubi, turut mendeklarasikan lahirnya “Angkatan Puisi Esai.” Bahkan deklarasi ini pun dilanjutkan di Nomu Kafe, 26 Juni 2025.
Tentunya penetapan Angkatan Puisi Esai bukan saja suatu upaya kultural semata, melainkan dilandaskan oleh sebuah landasan ilmiah yang menjadi raison d’etre berdirinya Angkatan Puisi Esai dengan terbitnya kitab kanon: Kitab Angkatan Puisi Esai Jilid I-IV (2024). Kitab ini berisikan karya puisi esai terpilih dan terbaik di setiap periodenya. Tentu kurasi yang ketat ini dilakukan untuk menghadirkan kitab kanon puisi esai ke publik agar publik bisa membaca mana sajakah puisi esai terbaik, juga memudahkan bagi para peneliti dan kritikus sastra untuk meneliti puisi esai dengan membaca Kitab Angkatan Puisi Esai Jilid I-IV (2024).
Tentunya dengan semua kiprah dan kontroversinya ketokohan Denny JA yang membuatnya kemudian sangat layak masuk ke dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014). Malahan omongan dan makian dari para penghujat yang makin membenarkan isi buku tersebut, bahwa Denny JA adalah tokoh sastra yang berpengaruh. Tentunya rezeki sudah tertakar, tidak tertukar. Tiada jarum jatuh kecuali atas seizin Allah SWT.
Oleh karenanya saya ucapkan selamat kepada Denny JA atas nominasinya untuk BRICS Literature Award. Semoga kedepannya semakin bisa mengibarkan nama sastra Indonesia.
Trending Now