Konten dari Pengguna
Memperindah Taman agar Tidak Perlu Lagi Mengejar Kupu-Kupu: Tito-Stalin Split
2 Desember 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 30 menit
Kiriman Pengguna
Memperindah Taman agar Tidak Perlu Lagi Mengejar Kupu-Kupu: Tito-Stalin Split
Artikel ini adalah contoh kisah hubungan toxic dalam hubungan internasional antara Uni Soviet dengan Yugoslavia. Namun Yugoslavia menolak drama & memilih memperindah tamannya, tidak mengejar validasi.Irsyad Mohammad
Tulisan dari Irsyad Mohammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan: Sebuah Drama Geopolitik yang Terlupakan
Syahdan dalam narasi besar Perang Dingin (1947-1991) yang sering didominasi oleh konfrontasi Amerika Serikat dan Uni Soviet, terselip sebuah kisah drama geopolitik yang kini telah terlupakan, namun tak kalah kompleks dan penuh pelajaran: Perpecahan Tito-Stalin atau Tito-Stalin Split (1948-1955). Kisah ini bukan sekadar perselisihan ideologis antara dua pemimpin komunis, melainkan sebuah studi kasus yang mendalam tentang hubungan luar negeri yang toxic (toxic relationship).
Dinamika antara Josip Broz Tito dari Yugoslavia dan Joseph Stalin dari Uni Soviet dipenuhi oleh drama, tarik-ulur, manipulasi, sinyal pasif-agresif, disonansi kognitif (beda kata dengan perbuatan), tuntutan validasi, tuntutas reassurance, silent treatment, adu ego, serta hubungan yang kehausan akan dominasi, dan kontrol yang mirip dengan hubungan interpersonal yang tidak sehat.
Penulis mengambil inspirasi kisah ini dari buku Conversations with Stalin (1961) yang ditulis oleh tokoh revolusioner, rekan seperjuangan Tito, intelektual, dan ideolog sosialis Yugolavia, Milovan Djilas. Buku yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Percakapan Dengan Stalin (2020) menceritakan dengan sangat puitis mengenai kisah ini.
Melalui lensa Milovan Djilas kita dapat menyelami bagaimana Yugoslavia –sebuah negara yang tadinya dianggap sebelah mata dan tidak penting–kemudian dengan keteguhan hati dan strategi yang cerdas, berhasil membebaskan diri dari cengkeraman kekuatan adidaya dan menemukan jalannya sendiri di panggung dunia. Esai ini akan menelusuri jalannya hubungan yang rumit ini, didukung oleh sebuah analogi modern untuk memperjelas konteks emosional dan strategisnya.
Pasca Perang Dunia II: Keretakan dalam Kemenangan
Lanskap geopolitik pasca 1945 ditandai dengan kemenangan Sekutu (Allied Powers) yang justru melahirkan perpecahan baru. Uni Soviet, yang telah beraliansi dengan Blok Barat selama empat tahun sejak 1941 untuk mengalahkan Blok Poros (Axis Powers), menemukan dirinya dalam keadaan ambigu. Di satu sisi, mereka muncul sebagai pemenang perang dan kekuatan adidaya baru. Di sisi lain, mereka mengalami keretakan hubungan dengan mantan sekutu Baratnya dan diliputi oleh rasa tidak percaya diri (insecure) dan kerinduan akan pengakuan.
Wajar saja mengingat Uni Soviet dengan Blok Barat tadinya memiliki hubungan mesra, bahkan Uni Soviet bergantung atas cinta dan keuangan dengan Blok Barat. Blok Barat memberikan sejumlah uang, bahkan kredit lunak hingga logistik untuk Uni Soviet bertahan hidup melawan serangan Jerman. Bahkan Uni Soviet pun turut mengorbankan pasukannya untuk kemenangan Perang Dunia II ketika melawan Jerman, Italia, dan Jepang.
Keretakan hubungan antara Uni Soviet dengan Amerika Serikat inilah yang kita kenal sebagai peristiwa Perang Dingin. Kita melihat pada awal Perang Dingin, Uni Soviet merasa telah “berinvestasi emosi” dalam hubungan dengan Barat dan sulit untuk move-on, setelah 4 tahun punya hubungan mesra dengan Barat selama Perang Dunia II. Meski hubungan dengan Barat, toxic namun Soviet tidak mudah untuk move-on dan melepasnya karena sudah melewati suka duka bersama.
Ketika ada pilihan yang lebih baik, sebuah hubungan cinta yang utuh, dewasa, sehat, dan terbuka kemudian Uni Soviet ragu karena tidak terbiasa. Uni Soviet terperangkap dalam pola pikir yang menganggap hubungan yang penuh ketegangan, drama, tantrum, silent treatment, disonansi kognitif, dan tarik-ulur sebagai hal yang normal, bahkan intim dan menjadi satu-satunya love language yang dimengerti oleh Uni Soviet.
Di saat Uni Soviet sedang dalam keadaan bimbang dan tidak stabil akibat ketegangan hubungannya dengan Barat, tiba-tiba datang cinta lamanya Uni Soviet dalam hidupnya yaitu negeri Yugoslavia. Yugoslavia sebuah kekuatan yang juga ikut memenangkan Perang Dunia II dengan gerilya Pasukan Partisan Yugoslavia yang dipimpin Marsekal Josip Broz Tito. Yugoslavia dalam sejarah bisa dikatakan adalah cinta lamanya Rusia, ketika Rusia berbentuk Kekaisaran. Kerajaan Serbia yang di kemudian hari menjadi Kerajaan Yugoslavia, sejak lama memiliki hubungan yang bersahabat dengan Rusia karena kesamaan frekuensi: mereka sama-sama etnis Slavia dan didominasi Kristen Ortodoks, bahkan berperang bersama di Perang Dunia I.
Meskipun akhirnya Kekaisaran Rusia runtuh berubah menjadi Uni Soviet, namun mereka membagi kesamaan nilai ideologi dan budaya sebagai sesama ras Slavia. Ketika Barat dan Uni Soviet sempat memiliki hubungan mesra selama 4 tahun, Yugoslavia sibuk berjuang sendiri mengembalikan kedaulatan dan harga dirinya. Kerajaan Yugoslavia bubar, negerinya tercerai berai akibat diduduki oleh fasis Italia dan Nazi Jerman, serta para kolaborator serta antek-anteknya seperti rezim Ustaše di Kroasia serta Bosnia-Herzegovina dan Chetnik di Serbia.
Selama Perang Dunia II Uni Soviet dan Barat sibuk melawan Nazi Jerman, Yugoslavia sendiri selama 4 tahun juga berperang melawan Jerman dan Italia sembari sibuk memulihkan harga dirinya sendiri akibat negaranya diduduki kekuatan asing. Selama 4 tahun itu Yugoslavia dan Uni Soviet tidak berinteraksi secara intens, mereka hanya saling memantau dari kejauhan karena kesibukan mereka masing-masing. Kalaupun ada pertemuan diplomatik itu pun pertemuan ala kadarnya, karena posisi Pasukan Partisan Yugoslavia yang dipimpin Tito saat itu bukanlah kekuatan merdeka dan berdaulat.
Ilusi Persaudaraan: Kontrol di Balik Senyuman Stalin
Setelah pasukan Partisan Yugoslavia menang Perang Dunia II melawan penjajahan Jerman dan Italia, kemudian Republik Sosialis Federal Yugoslavia didirikan pada 29 November 1945 dan beribukotakan di Beograd (kini Serbia). Kemudian Yugoslavia mulai mendatangi cinta lamanya dan pujaan hatinya yakni Uni Soviet, sebuah negeri yang dianggap “Yerusalemnya Kaum Proletar” pada masanya. Begitulah Josip Broz Tito, Milovan Djilas, Edvard Kardelj, dan Aleksandar Ranković, memandang Moskow sebagai panutan dan contoh ideal untuk mereka. Setelah 4 tahun berjuang memulihkan harga diri Yugoslavia sebagai negara merdeka. Barulah Yugoslavia merasa pantas dan memberanikan diri untuk bertemu Uni Soviet, kekasih lama Yugoslavia.
Mulanya Uni Soviet memperlakukan rombongan Yugoslavia dengan hangat, sebagai saudara sesama komunis dan ras Slavia. Namun belakangan hubungan terasa ada yang janggal, di balik ketawa dan ramah tamahnya Stalin, terhadap sikap palsu penuh kontradiksi antara bahasa ideologi dan kekuasaan. Di balik pujian, terselip kontrol, tes loyalitas, dominasi, dan rasa takut kehilangan. Soviet ingin dipandang oleh Yugoslavia: I am in control and I am the boss in our relationship.
Yugoslavia sebagaimana negara komunis lainnya, meyakini ideologi internasionalisme kaum proletar. Mereka mulanya berusaha memaklumi dan menyangka bahwa sikap misterius serta jaga jarak Stalin “Sang Pemimpin Komunis Dunia” merupakan hikmah revolusi yang belum mereka pahami.
Setelah beberapa kali berinteraksi akhirnya semua terlihat jelas. Stalin berbicara tentang solidaritas kaum proletar, namun caranya memaksa tunduk setiap negara sekutu Uni Soviet; menunjukkan bahwa di bawah kulit internasionalisme kaum proletar, tersembunyi logika lama kekaisaran. Uni Soviet tak ubahnya bersikap seperti Kekaisaran Rusia dan setiap negara komunis lain hanyalah provinsi-provinsinya.
Milovan Djilas mulai melihat pola ini dengan jelas. Stalin memanggil para pemimpin komunis lain dengan nada bapak kepada anak: Mao Zedong disebut “murid yang rajin tapi keras kepala,” Klement Gottwald (Pemimpin Cekoslovakia) disebut “teman baik yang perlu diawasi,” sementara Tito disebut “terlalu ambisius.” Dalam daftar hierarki Stalin, tidak ada yang sejajar dengannya.
Di tengah jamuan itu, Djilas merasa udara menjadi berat. Gelas vodka pun beradu, tetapi tawa para tamu terdengar palsu. Ia sadar bahwa mereka tidak sedang merayakan solidaritas, melainkan sedang mempertahankan ilusi tentangnya. Ia menulis dengan getir: “Di Kremlin, persahabatan bukan perasaan, melainkan strategi. Setiap kata ‘kamerad’ adalah tali halus yang menjerat.” Kita bisa melihat meskipun Uni Soviet menjamu Yugoslavia, namun dalam hubungan tarik-ulur itu; keluar uang untuk jamuan bukanlah bentuk cinta melainkan wujud lain dari kontrol dalam hubungan, bahwa Uni Soviet lah yang mengendalikan ritme tarik-ulur.
Melihat Yugoslavia juga dengan negara-negara komunis lainnya yang pada saat itu baru berdiri mendatanginya dilihat Soviet sebagai kesempatan untuk mencari validasi dari Blok Timur. Dengan membuat hubungan tarik-ulur agar Uni Soviet dikejar oleh Yugoslavia dan negara-negara Blok Timur lainnya. Soviet merasa kepercayaan dirinya (self-esteem) dan ego narsistiknya naik apabila ia merasa diperjuangkan dengan sensasi dikejar dan diperebutkan, serta memanipulasi dan mengontrol negara-negara yang mencintainya agar ikut ritmenya.
Walhasil Yugoslavia yang semula mencintai dan mengagumi Uni Soviet, namun Yugoslavia ingin cinta yang dewasa dan terbuka, serta saling memahami tanpa tarik-ulur, tanpa tes loyalitas yang adalah sandiwara pertunjukkan dominasi, dan hubungan penuh persaudaraan karena meyakini ideologi yang sama serta cita-cita revolusi sosialis, kemudian pudar kekaguman dan cintanya. Yugoslavia yang selama ini sudah berusaha membuktikkan diri kepada Uni Soviet, selalu saja dites dengan beragam tes tidak masuk akal. Joseph Stalin yang menyambut rombongan Yugoslavia seperti Milovan Djilas, Edvard Kardelj, dan Aleksandar Ranković, mulanya dengan kehangatan dan penuh canda tawa, lambat laun berubah.
Semua canda tawa Stalin semuanya bernada politis, Stalin dari gerak tubuh dan microexpresssion-nya menunjukkan sikap paternalistik, narsistik, ego, insecure, dan kecurigaan serta sikap penuh kontrol. Di balik sikap canda tawa dan kehangatannya, terselip kendali dan kontrol secara tersirat. Stalin menunjukkan dirinya seolah-olah terbuka, namun tidak sepenuhnya. Ia hanya ingin membuka diri kalau Yugoslavia menyembahnya, sampai merendahkan harga dirinya.
Di mata Uni Soviet “Sang Pemenang Perang Dunia II” dia gak boleh kelihatan needy, menurunkan ego, murahan, dan lemah, Yugoslavia harus tahu bahwa Uni Soviet punya value yang layak untuk dikejar oleh Yugoslavia. Apa pun yang terjadi pokoknya Yugoslavia harus mengejar Uni Soviet! Uni Soviet tidak perlu mengatakan apa-apa, cukup memberikan sinyal pasif-agresif dan Yugoslavia harus paham sendiri maksudnya apa, meskipun Yugoslavia bukan barcode scanner namun mereka harus paham semua kode dan sinyal itu.
Agar pembaca lebih memahami konteks, penulis membuatkan sebuah analogi kisah cinta seorang mahasiswa dan mahasiswi yang bernama Budi dan Lidya, kisah rekaan ini dibuat agar dapat dipahami oleh pembaca. Kisah ini akan diceritakan di sub-judul berikutnya.
Sebuah Analogi Modern: Kisah Hubungan Toxic Budi dan Lidya
Untuk memahami dinamika psikologis yang kompleks ini, kita dapat melihat analogi hubungan antara Budi dan Lidya. Mulanya Budi dan Lidya saling mengenal ketika kuliah di UI. Saat itu Budi di semester 7 mengambil mata kuliah di jurusannya Lidya. Saat itu Lidya baru semester 5, ia mengajak kenalan Budi dan bertanya mengapa ia yang berbeda fakultas malahan mengambil mata kuliah di jurusannya? Dari situ obrolan mereka mulai akrab, mereka mulai sangat dekat lebih daripada teman.
Lidya kagum dengan kecerdasan dan intelektualitas Budi, bahkan setiap kali presentasi di kelas; Budi tampil dengan memukau dan ia pandai menyampaikan gagasannya. Hal ini membuat Lidya makin jatuh cinta dan mereka sering berdiskusi bersama mulai dari dunia intelektual hingga masalah pribadi.
Bahkan ketika ada acara jurusan mereka di @America – Pacific Place, mereka bahkan pulang bareng di bus. Saat mereka pulang bareng di bus, mereka bercanda hal-hal dark jokes tentang konspirasi hingga cerita masalah pribadi. Lidya curhat bahwa dia tidak respect sama orang miskin, sontak wajah Budi pun terbelalak. Sebagai seorang aktivis mahasiswa yang idealis dan menyerahkan jiwa raga, serta waktunya demi kemajuan bangsa dan tanah air –serta memperjuangkan orang miskin dan rakyat tertindas– hanya bisa terhenyak. Bagaimana bisa wanita yang ia cintai sanggup berpikiran begitu?
Cuma ia tidak mau kelihatan kaget di depan wanita yang dicintainya, ia langsung mengalihkan pembicaraan ke dark jokes dan mengatakan bahwa kemacetan di jalan dan hujan yang turun adalah konspirasi besar yang sengaja dibuat oleh Freemason dan Illuminati untuk menghambat mereka di jalan pulang menuju UI, sontak Lidya pun tertawa dan menimpali dark jokes Budi dengan dark jokes lainnya. Setelah itu tertanam di kepala Budi: “wah gue harus kaya ini, kalau gak Lidya gak mau sama gue.”
Waktu berlalu dan semester 8 pun datang, Budi skripsian. Tadinya Budi sempet ragu sama hubungannya dengan Lidya karena masih teringat sikap Lidya yang mengatakan tidak respect dengan orang miskin. Namun mereka masih sempat bertemu di semester 8 itu, Lidya pun sabar menunggu Budi lulus. Budi pun selama semester 8 selain skripsian ia pun sibuk sebagai aktivis mahasiswa, ia berhasil naik jadi pengurus organisasi di tingkat Cabang Depok sampai ia kemudian punya jejaring yang cukup bagus.
Perlahan namanya naik, sampai ia sempat berfoto dengan Aura Kasih. Hal ini membuat Lidya sempet panas, Lidya pun berusaha datang dan mendekati kembali Budi demi meneguhkan komitmen hubungan mereka. Walhasil hubungan baik mereka masih berjalan hingga Budi lulus, Lidya datang dan memberikan boneka Doraemon memakai toga dengan logo UI di wisuda Budi dan mereka poto bareng sambil rangkulan sekitar Agustus 2018.
Lidya yang melihat Budi sebagai aktivis mahasiswa idealis dengan kecerdasan intelektual tinggi, takut kehilangan Budi kalau nanti Budi kerja dan jatuh ke pangkuan wanita lain. Walhasil tak berapa lama berselang kelulusan Budi, lantas Lidya pun memelet Budi. Suatu tindakan yang konyol membayar dukun agar Budi tidak jatuh ke pangkuan wanita lain. Lidya tidak sadar akibat dari tindakannya, orang yang dipelet memang jadi terikat – namun rezekinya pun turut terdampak dan juga wibawanya, walhasil membuat korban menjadi sulit secara keuangan, psikologis bermasalah, dan kariernya terganggu, serta tidak memikat lawan jenis.
Budi ketika habis lulus kuliah masih kelihatan berwibawa, Februari 2019 Budi diundang untuk menghadiri Festival Puisi Internasional di Hanoi yang diselenggarakan pemerintah Vietnam dan ia mendatangi Istana Presiden Vietnam. Budi hadir mewakili delegasi dari Indonesia; tentunya bersama para penyair top se-Indonesia. Kharismanya masih memikat para wanita dari berbagai negara, terutama para wanita di Vietnam. Sepulang dari konferensi, mereka masih dekat. Terlebih sebelum Budi ke Vietnam, Lidya sendiri sebulan sebelumnya sempat ke Vietnam mendatangi suatu acara – namun acaranya tidak sebergengsi acaranya Budi. Hal ini membuat Lidya makin terpikat kepada Budi dan menaruh harapan besar kepada Budi.
Sayangnya selepas lebaran, pamor Budi pun meredup. Setelah 1 tahun lulus kuliah, Budi, seorang aktivis idealis, bergumul dengan pengangguran dan ketidakpastian karier. Lidya, mulai terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang materialistis, kehilangan kesabaran. Suatu ketika Budi chat Lidya melalui aplikasi Line, mengatakan ia hendak menjadi politisi. Lidya terhenyak dan mungkin saja berpikir, seorang pengangguran dan belum punya kepastian karier tiba-tiba berambisi mau jadi politisi; apa maksudnya ini? Lidya yang geram, sontak tidak membalas chat Budi selama sebulan. Lidya meremehkan ambisi Budi untuk masuk politik, sebulan kemudian ia membalas chat Budi sangat panjang sekali di Line dengan beruntun sehingga memenuhi layar hp Budi dan menyatakan Budi tidak cocok serta tidak layak jadi politisi. Puncak kekecewaannya, Lidya memutuskan hubungan secara tidak jelas (ghosting).
Pada saat itu Budi sedang berada di titik terendah hidupnya, tindakan Lidya menginjak-injak harga dirinya yang sudah terluka. Namun Budi tidak mau ambil pusing, ia berpikir wajar saja lah dia tidak percaya pada ambisi Budi, lantaran Budi sendiri pengangguran.
“Mana ada cewek mau sama cowok pengangguran kaya gue, yaudahlah. Fokus cari kerja dulu, dia cewek matre berarti. Percuma saja selama ini kita bicarakan dunia intelektual, kupikir dia beda. Rupanya sama saja dengan kebanyakan cewek lain. Padahal dia bilang kan gak respect sama orang miskin, kalau jadi politisi dan berkuasa – harusnya dia bisa bangga sama aku, dia jadi calon istri pejabat kan? Tapi sudahlah kan itu belum terjadi dan hari ini aku bukan siapa-siapa.”
“Padahal aku ingin berkuasa agar bisa melaksanakan idealismeku dari dulu untuk memajukan dunia sastra, filsafat, riset, dan kebudayaan, agar para intelektual sepertiku dapat dana riset yang layak dan hidupnya lebih sejahtera. Supaya para seniman dan sastrawan dapat panggung yang layak di dunia internasional dengan negara hadir untuk kesenian, dana APBN yang besar penting demi kemajuan budaya bangsa. Supaya bangsa ini bisa ekspor budaya seperti Korea Selatan. Juga aku ingin memberantas kemiskinan dan membantu jutaan kaum tertindas.”
“Aku sadar dia pengen aku jadi kaya dan mapan, cuma aku gak bakat bisnis. Bakatku cuma dunia intelektual dan berpolitik, jadi intelektual susah kaya di negeri ini. Palingan jadi politisi yang memungkinkan untuk orang tidak berbakat bisnis sepertiku. Toh mana ada politisi miskin di Indonesia? Makanya aku ingin jadi politisi biar dia setidaknya bisa memenuhi impiannya, bukan saja ia bisa bangga punya laki-laki kaya, tapi juga berkuasa. Tapi yasudahlah ini cewek gak jelas maunya apa? Sudah tinggalin aja. Gak sesuai ini secara ideologi dan filosofi hidup dengan gue, bisa-bisanya merendahkan orang miskin. Terus pengen punya suami kaya, tapi takut punya pacar calon politisi. Jadi temen aja cukup lah kalau gitu, salah gue menilai dia selama ini. Ntar juga kalau gue dah punya duit, ntar juga cewek-cewek datang sendiri” ujar Budi dengan getir.
Budi tidak galau soal ini, sampai Lidya bingung dan malahan Lidya yang galau. Lidya bingung: “Kok cowok ini gue buang, malahan dia kaya B ajah? Yaudah lah kali ini pelan-pelan gue coba dekati, cuma gak usah ekspektasi jadi pacar lagi.” Lidya terkena masalah psikologis karena itu, sampai ia telat lulus. Lidya lupa satu hal penting, ia tidak memahami psikologi laki-laki. Bagi laki-laki pengangguran jauh lebih berat ketimbang ditinggal wanita dan semua laki-laki malahan bisa melihat kalau wanita yang meninggalkannya ketika ia lagi jatuh, berarti itu cewek matre. Gitu saja kok repot!
2020 pandemi covid-19 pun datang, Budi mengalami masa sulit dan nganggur sampai 2 tahun pasca lulus. Ntah karena peletnya Lidya ataupun karena memang nasib sial saja. Budi pun mulai introspeksi diri. Sebagai seorang aktivis, Budi menolak menyerah kepada keadaan. Jiwa aktivismenya yang menyala-nyala, ia alihkan untuk belajar dan memperbaiki diri. Selama covid, ia banyak membaca buku dan belajar skill baru seperti belajar bahasa Arab dan memperdalam bahasa Belanda, lewat aplikasi Duolingo selama setahun lebih. Cobaan dan tempaan hidup yang dialami Budi, semakin melezatkan sikap hidupnya.
Ketika pandemi mereka masih berinteraksi, cuma interaksi ala kadarnya. Budi melihat di Instagram, bahwa Lidya terkena covid. Hati Budi yang lama membeku karena ditinggal Lidya, kemudian kembali iba dengan cinta lamanya itu. Budi hanya bisa terdiam mendoakan Lidya – mungkin inilah bentuk cinta tertinggi, mencintai dalam diam tanpa terujar satu kata pun. Budi pun fokus melanjutkan hidupnya dengan “memperindah taman, agar tidak perlu lagi mengejar kupu-kupu.”
Beberapa tahun kemudian, keadaan berbalik. Melalui ketekunan dan komitmen untuk meningkatkan diri (self upgrade) dan pengembangan karakter (character development), Budi berhasil membangun karier yang sukses di dunia politik dan bekerja untuk seorang konsultan politik ternama di tanah air. Ia menjadi pribadi yang mapan, percaya diri, dan dewasa. Bahkan Budi telah meluncurkan 2 judul bukunya sendiri, belum lagi 10 buku yang tersebar di berbagai antologi buku dan memenangkan Rekor MURI dengan antologi buku terbesar yang disusun oleh 221 penulis se-Indonesia – tulisan Budi bersanding dengan para tokoh-tokoh nasional se-Indonesia.
Sementara itu setelah meninggalkan Budi – Lidya justru terjebak dalam hubungan pacaran yang tidak jelas masa depannya, dan karier yang stagnan. Setelah meninggalkan Budi, Lidya berpacaran dengan teman seangkatannya yang kuliah di UI, seorang mahasiswa kelas internasional. Ia berpikir akan dapat prospek yang bagus dan bisa hidup mapan, rupanya 4 tahun lebih mereka pacaran – rupanya ia tidak kunjung dinikahi dan mereka berada dalam hubungan yang toxic.
Di saat Lidya bergelut dengan berbagai masalah dalam hidupnya mulai dari masalah keluarga, keuangan, dan asmaranya yang stagnan, ia melihat Budi justru berkembang pesat. Walhasil setelah lama tidak berjumpa dan kini Budi sudah mulai punya pekerjaan, punya jaringan yang luas, serta lebih setel dan pantas, Budi pun memberanikan diri menemui Lidya. Lantas pada 2024 mereka pun bertemu. Budi saat itu bertemu hanya untuk menunjukkan ke Lidya, bahwa anggapannya salah dan ia bisa bekerja di dunia politik.
Tatkala Lidya dan Budi bertemu di sebuah restoran, selepas itu Budi bertanya soal omongan Lidya bahwa dirinya tidak layak di dunia politik. Lidya tersipu malu dan mengatakan itukan dulu, tentu beda dengan sekarang. Lidya agak kaget, Budi masih inget omongan itu. Ketika pulang Budi membayar semua tagihan, untuk menunjukkan dia punya uang dan gak semiskin waktu diremehkan Lidya – ketika Budi menjadi aktivis kere. Bahkan ia mengantar Lidya ke kediamannya menggunakan mobil, Lidya pun terbelalak dan bertanya-tanya dalam hatinya, sejak kapan Budi bisa beli mobil? Lidya berusaha tidak ambil pusing dan melanjutkan obrolan dengan Budi di mobil, bahkan bersikap mesra dengan meminta Budi mengabari Lidya kalau Budi sudah sampai ke rumah.
Melihat transformasi Budi, Lidya ingin kembali. Namun, alih-alih menyampaikan keinginannya dengan jujur dan dewasa, ia kembali menerapkan pola lama: tarik-ulur, membalas pesan dengan lambat, memberikan sinyal campur aduk (pasif-agresif), silent treatment, drama, tantrum, dan semua cara manipulatif untuk menguji kesabaran Budi—semua untuk memastikan bahwa ia masih diinginkan dan "dikejar."
Budi, yang telah belajar dari pengalaman pahitnya, menyadari permainan ini. Pertamanya ia meladeni permainan tarik-ulur ini untuk memberi sinyal kepada Lidya: I know your game. Budi mengirimkan quote of the day seminggu berturut-turut setiap pagi hari. Bahkan sampai mengirimkan puisi panjang dalam bahasa Inggris pada jam 12 malam, di hari ulang tahunnya Lidya. Lidya pun gak nyangka, ternyata Budi serius dengan dia. Ketika hatinya Lidya sudah mulai luluh, Budi pun pergi.
Budi pun sadar, daripada menghabiskan energi emosionalnya untuk kembali terjebak dalam drama, ia memilih strategi yang lebih bijaksana: "memperindah tamannya." Ia fokus pada pengembangan karier, pendidikan (mendapatkan beasiswa S2), menerbitkan 2 buku, belajar bahasa Mandarin, jadi pembicara di mana-mana, dan memperluas pergaulan. Konsekuensinya, banyak wanita-wanita cantik, pintar, dan seksi mendatanginya—Budi kini laksana taman yang indah yang dihinggapi ratusan kupu-kupu cantik yang mendatangi taman yang indah— Para wanita itu tertarik dengan kualitas dirinya yang kini telah "diperindah" dan mendekatinya dengan sikap saling menghormati (mutual respect) dan tulus: tanpa drama, tarik-ulur, permainan kecemburuan, disonansi kognitif, tanpa tantrum, tanpa sinyal pasif-agresif.
Akhirnya Budi bersikap tegas dengan menolak untuk menjadi "pilihan cadangan" Lidya. Ia menetapkan batasan yang tegas: setiap hubungan di masa depan harus didasari pada kedewasaan, kejujuran, dan rasa saling menghormati, tanpa manipulasi, tanpa silent treatment, tanpa drama, permainan kecemburuan, dan tanpa tarik-ulur. Budi pun jalan dengan berbagai wanita cantik lain, Lidya yang geram dan cemburu buta tidak suka dengan Budi yang cuek dan meninggalkannya. Ia ingin Budi tetap mengejar, namun anehnya ia tidak mengakhiri hubungan toxic dengan pacarnya – tapi cemburu buta melihat Budi dekat dengan wanita lain. Lidya pun berbuat sangat nekat dan di luar nalar, ia mendatangi dukun dan rela merogoh koceknya hanya untuk mengirimkan pelet ke Budi.
Sayangnya Budi yang sekarang kini telah berubah, dulu mungkin Budi masih labil dan belum dewasa secara karakter dan spiritual. Kini Budi telah mengalami “internalisasi” dan telah mendalami ilmu-ilmu kebatinan, serta spiritual. Bila dulu dikirim pelet bisa nembus, kali ini mental dan tidak tembus. Sudah terhitung 8 kali pelet dan santet dikirim, tidak tembus juga ke Budi.
Mulanya Budi gembira, berpikir: “Ada ya cewek ngejar-ngejar gue gini sampai pakai pelet? Ganteng juga gue ini sampai dikejar dengan cara begini” – Kemudian melihat beberapa wanita ada yang pergi dari Budi karena kena pelet untuk menjauhkan diri dari Budi, sehingga berubah sikap. Sampai dengan nekatnya Lidya membuat banyak akun palsu di Instagram hanya untuk stalking Budi, bahkan sampai melakukan teror dengan stalking wanita-wanita yang dekat dengan Budi.
Lantas Budi pun ambil tindakan dengan menegur akun-akun palsunya Lidya. Sontak Lidya yang kaget kemudian membalas cepat pesan itu, ia berkata: “Saya tidak ganggu mas.” Lidya pun syok, kedoknya terbongkar. Tiba-tiba Budi menghubungi via chat di WA dan telpon ke akun aslinya, Lidya bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. Budi kemudian mengeluarkan ultimatum di akun palsunya Lidya: “Lidya! Berhenti kirim-kirim pelet, kamu pernah menduga aku punya indera keenam kan? Memang punya! Cuma aku selama ini gak mau nunjukkan, karena Guruku melarang pamer-pamer. Cuma kalau kamu masih kirim pelet, aku cukup kirim sekali dan gak perlu kirim yang kedua!”
Setelahnya Budi pun mulai serius dengan wanita lain, Lidya malahan diputus pacarnya. Lidya pun mulai overcompensation, ia lari terbirit-birit mengejar Budi dan berusaha bersikap dewasa tanpa tarik-ulur ke Budi karena takut kehilangan, sayang segalanya sudah terlambat. Budi sudah terlanjur ill feel terhadap Lidya dan bersikap cuek, ia tidak lagi menginginkan Lidya.
Budi mengatakan dengan tegas, bahwa ia sudah menutup pintu hatinya dan hanya membuka jendela terhadap Lidya, apabila Lidya ingin menggapai Budi – maka ia harus membuktikkan cintanya ke Budi. Lidya berjuang habis-habisan demi mendapatkan cinta lamanya dengan overcompensation, berusaha memuji Budi habis-habisan dan menyanjung Budi di medsos. Sayangnya hati Budi tidak tergerak sedikitpun, Budi sudah terlanjur tertarik dengan wanita lain yang mencintainya secara dewasa. Tinggal waktu yang meresmikan hubungan mereka.
Melihat semua itu, mata Lidya pun berlinang air mata. Ketika ia sudah mulai membuang drama, sikap manipulatif, dan tarik-ulurnya, segalanya sudah telat. Ketika Lidya mencoba memulai hubungan dengan dewasa setelah diputus cowoknya, Budi sudah terlanjur pergi meninggalkannya. Menghadapi masalah ekonomi yang tak kunjung usai, hutangnya yang banyak, masalah karier, masalah keluarga, diputus pacarnya, dan ditinggal cinta lamanya – nasib Lidya bagaikan jatuh ketimpa tangga, sekaligus ketimpa genteng, dan kaleng cat beserta isinya. Syahdan Lidya meratapi masa lalunya dan meringkuk di kamar, sembari berharap waktu bisa diulang dan Lidya tidak mengenal Budi.
Puncak Keretakan: Yugoslavia Menolak Ditundukkan
Dari analogi hubungan Budi-Lidya, kini kita kembali ke pembahasan utama kita yakni kisah hubungan toxic Tito-Stalin. Kesabaran Yugoslavia akhirnya habis. Sebagai negara yang memenangkan kedaulatannya sendiri melalui perjuangan gerilya, Yugoslavia tidak merasa memiliki hutang budi yang besar kepada Soviet. Mereka memiliki rasa percaya diri dan harga diri nasional yang tinggi. Keinginan Tito untuk membentuk Federasi Balkan dengan Bulgaria dan Albania tanpa meminta izin Moskow dianggap oleh Stalin sebagai pembangkangan yang tidak bisa ditolerir.
Bagi Stalin, Tito terlalu independen dan ambisius. Stalin menginginkan semua negara komunis berkiblat secara mutlak ke Moskow, bukan ke Beograd. Pada tahun 1948, puncaknya terjadi. Stalin secara resmi mengecam Tito dan Yugoslavia melalui Cominform (asosiasi partai komunis se-dunia), menyebut mereka sebagai musuh, borjuasi nasional, antek kapitalis, pengkhianat, dan kontra-revolusioner, lalu mengeluarkan mereka dari Blok Timur. Stalin yakin bahwa dengan diisolasi, pemerintahan Tito akan cepat runtuh.
Keyakinan Stalin bahwa Tito akan jatuh dengan sendirinya ternyata keliru. Bahkan, pengaruh Yugoslavia justru semakin kuat. Yugoslavia yang dipimpin Tito baru saja merdeka dari penjajahan Jerman dan Italia, tidak sudi tunduk di bawah penjajah dan kekuatan asing lain; meskipun kekuatan itu berideologi komunis dan sama-sama ras Slavia seperti Uni Soviet.
Tito ingin Yugoslavia independen dan bebas menentukan nasibnya sendiri, tanpa tekanan bangsa lain. Frustrasi, Stalin kemudian beralih ke metode yang lebih gelap: pembunuhan. Dalam beberapa tahun setelah perpecahan, Stalin mengirimkan sejumlah pembunuh bayaran untuk membunuh Tito. Operasi rahasia ini menjadi bukti nyata betapa personal dan penuh kebencian konflik ini.
Namun, upaya-upaya ini gagal total. Tito yang pernah menjadi Komandan Pasukan Partisan yang tangguh dan memenangkan Perang Dunia II melawan Jerman dan Italia, diyakini punya semacam “indera keenam” untuk menangkis pembunuhan dan tentunya memiliki jaringan intelijen yang sangat efektif, lewat lembaga intelijen Yugoslavia: Uprava Državne Bezbednosti (UDBA) atau Direktorat Keamanan Negara. Mereka berhasil menangkap beberapa agen yang dikirim Stalin. Tito kemudian mengirim sebuah surat pendek namun sangat powerful kepada Stalin. Isinya kurang lebih: "Stalin! Berhenti mengirim pembunuh bayaran! Kami telah menangkap beberapa dari mereka. Jika kamu tidak berhenti, saya akan mengirim satu orang ke Moskow, dan saya tidak perlu mengirim yang kedua."
Pesan itu, secara akurat mencerminkan sikap Tito: percaya diri, tidak gentar, dan berwibawa. Yang pasti, setelah surat itu—atau karena kegagalan berulang—pengiriman pembunuh bayaran berhenti. Tito telah membuktikan bahwa ancaman terbesar pun tidak akan membuatnya tunduk.
Jalan Mandiri Yugoslavia: Memperindah Taman agar Tidak Perlu Lagi Mengejar Kupu-Kupu
Ketegasan Tito terhadap ancaman pembunuhan hanyalah satu sisi dari strategi yang lebih besar. Alih-alih hanya bereaksi terhadap drama dan sikap tantrumnya Uni Soviet, Yugoslavia langsung melakukan konsolidasi nasional dan merapatkan barisan untuk melawan sikap pongah dan tidak dewasanya Uni Soviet.
Pertama-tama Yugoslavia melakukan secara simbolis mengubah doktrin dan disiplin militernya dengan mengganti formasi baris berbaris militernya dari langkah tegap (goose step) ala Uni Soviet, menjadi langkah tinggi (high step) menandakan perubahan doktrin dan disiplin yang mandiri. Yugoslavia membangun kekuatan militernya besar-besaran dan memiliki 1 juta personel tentara, membuatnya menjadi kekuatan militer terkuat no.4 di Eropa.
Kemudian Yugoslavia secara proaktif "memperindah tamannya" dengan membangun model negara sosialis yang unik dan mandiri, dengan tidak tunduk kepada Uni Soviet:
Pertama: Yugoslavia membangun “Sistem Swakelola Sosialis” (Socialist Self-Management atau Samoupravi Socijalizam menurut istilah aslinya di Yugoslavia). Berbeda dengan ekonomi komando terpusat ala Soviet, Yugoslavia menerapkan sistem di mana pabrik-pabrik dikelola langsung oleh para pekerja melalui serikat buruh dengan slogan: “pabrik untuk pekerja!” Konsep ini mirip dengan konsep koperasi kalau di Indonesia.
Kedua: federalisme yang desentralistik. Yugoslavia memilih struktur federal yang memberikan otonomi lebih besar kepada republik-republiknya, mengakomodasi keberagaman etnis dan budaya di dalamnya. Dalam hal ini federalismenya Yugoslavia memberikan kebebasan lebih daripada di Uni Soviet dan negara komunis lainnya.
Ketiga: keterbukaan Yugoslavia terhadap dunia. Ketika banyak negara-negara komunis menutup diri, Yugoslavia membuka pintunya. Yugoslavia menerima investasi dari luar negeri dan terbuka terhadap budaya dari Blok Barat yang masuk ke negerinya. Yugoslavia tidak seperti negara-negara komunis lainnya yang takut kalau membuka negerinya untuk produk asing dan budaya asing, terutama dari Blok Barat maka akan melemahkan kedaulatannya dan memperlemah pengaruh ideologi serta kekuasaan partai komunis; alih-alih melemahkan – justru masuknya budaya dan produk Barat dengan bebas malahan menguatkan Yugoslavia dan mendinamisasi kehidupan budaya di negeri itu.
Bahkan Yugoslavia tidak seperti negara komunis lainnya yang mengekang kebebasan beragama, Yugoslavia tidak mengekang kebebasan beragama warganya. Bagi Yugoslavia buat apa takut turis asing masuk dan memberitakan yang jelek-jelek tentang Yugoslavia? Selama tamannya indah dan bagus, tidak perlu takut akan omongan miring negara-negara lain. Toh tindakan Tito terbukti benar, selama Tito berkuasa – Yugoslavia relatif stabil dan tidak ada omongan-omongan hingga pemberitaan miring dari negara lain terhadap Tito dan Yugoslavia.
Di saat negara-negara komunis mempersulit warganya bepergian dan bekerja di luar negeri, Yugoslavia malahan membebaskan warganya bepergian dan bekerja di luar negeri. Walhasil devisa dari para pekerja migran turut menghidupi Yugoslavia, bahkan negara itu menjadi destinasi pariwisata utama, menghasilkan devisa dan memperluas pengaruh budayanya. Hal ini membuat paspor Yugoslavia menjadi salah satu paspor terkuat di masanya karena Yugoslavia diterima di Blok Barat maupun Blok Timur.
Strategi Yugoslavia untuk "memperindah taman agar tidak perlu lagi mengejar kupu-kupu" terbukti sangat sukses. Dengan fokus pada pembangunan internal dan pencarian jalannya sendiri, Yugoslavia justru menjadi magnet bagi persahabatan internasional. Banyak "kupu-kupu cantik" – negara-negara dari berbagai blok – yang berdatangan ke “Taman Yugoslavia” yang kini indah dan terbuka.
Amerika Serikat dan Blok Barat, melihat Yugoslavia sebagai sekutu potensial dalam melemahkan pengaruh Soviet, mulai memberikan bantuan ekonomi dan menjalin hubungan diplomatik yang erat. Meskipun mendapatkan banyak investasi hingga bantuan logistik, hingga negaranya dipenuhi turis dari Blok Barat – Tito tidak ingin Yugoslavia menjadi bagian dari Blok Barat dan menjadi negara satelitnya Barat. Tito ingin Yugoslavia tetap mandiri dan independen dari blok mana pun di dunia.
Namun, puncak dari strategi ini ketika Yugoslavia, bersama dengan tokoh dunia yang sepaham dengan Yugoslavia seperti: Sukarno (Indonesia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Kwame Nkrumah (Ghana), dan Jawaharlal Nehru (India), mendirikan Gerakan Non-Blok (GNB). Kelima pemimpin dunia ini bercita-cita menciptakan tatanan dunia baru, di mana negara-negara berkembang dan baru saja merdeka dari kolonialisme agar tidak tunduk kepada kedua blok yang sedang bertarung baik itu Blok Barat maupun Blok Timur. Mereka menciptakan persaudaraan negara-negara berkembang dan baru merdeka yang kemudian disebut negara “Dunia Ketiga” yang mereka yakini, apabila bersatu tidak akan bisa ditekan kekuatan Barat maupun Timur.
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pertama GNB diselenggarakan di Beograd pada 1961, dan Tito menjadi salah satu pemimpin utamanya. Hasil KTT GNB pertama mengangkat Josip Broz Tito sebagai Sekjen GNB pertama – hal ini masuk akal, mengingat Yugoslavia sebagai negara komunis di Eropa Timur, namun dengan kepala tegak dan berani serta gagah perkasa, melawan Uni Soviet yang merupakan negeri “raksasa komunis” di Eropa Timur.
Langkah ini mengangkat status Yugoslavia dari semula dianggap “negara satelit yang memberontak” terhadap Uni Soviet, kemudian menjadi pemimpin Dunia Ketiga yang dihormati. Yugoslavia diterima oleh Barat, Timur, dan negara-negara baru merdeka. Yugoslavia berubah menjadi sebuah taman yang indah yang dihinggapi oleh ratusan kupu-kupu yang cantik serta siap berhubungan diplomatik secara dewasa, terbuka, komunikatif, saling menghormati, tanpa tarik-ulur, tanpa drama, tanpa tantrum, tanpa silent treatment, tanpa disonansi kognitif, tanpa sinyal pasif-agresif, dan tanpa sikap manipulatif.
Keputusasaan dan Overcompensation: Upaya Terakhir Uni Soviet
Melihat kesuksesan dan pengaruh Yugoslavia yang semakin mendunia—dari menjadi destinasi wisata ternama hingga pemimpin Gerakan Non-Blok—Uni Soviet menyadari kesalahan strategi Stalin. Yugoslavia tidak hanya tidak runtuh, tetapi justru berkembang pesat dengan model sosialisme mandirinya.
Dalam kepanikan akan kehilangan pengaruh secara permanen di Balkan dan di mata Dunia Ketiga, Soviet di bawah pengganti Joseph Stalin yakni Nikita Khrushchev dan kemudian Leonid Brezhnev, melakukan apa yang dalam psikologi disebut overcompensation—sebuah upaya berlebihan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu yang didorong oleh rasa takut kehilangan dan penyesalan.
Langkah pertama dimulai dengan de-Stalinisasi. Khrushchev, dalam Pidato Rahasia dalam Kongres ke-20 Partai Komunis Uni Soviet tanggal 25 Februari 1956, secara resmi mengutuk kebijakan Stalin, termasuk kesalahannya dalam memperlakukan Yugoslavia. Ini adalah upaya untuk “membersihkan nama” dan menunjukkan wajah baru Soviet yang lebih manusiawi.
Namun, langkah paling spektakuler adalah serangkaian kunjungan diplomatik tingkat tinggi yang hampir tidak pernah terjadi sebelumnya untuk berusaha merebut kembali hati Yugoslavia. Diantaranya:
Pertama, kunjungan Khrushchev 1955: Hanya dua tahun setelah Stalin wafat, Khrushchev melakukan perjalanan permintaan maaf ke Beograd. Ini adalah kunjungan yang sangat simbolis, dimaksudkan untuk memulihkan hubungan yang rusak. Khrushchev secara terbuka menyalahkan konflik pada “oknum provokator” yang telah menyesatkan Stalin, meskipun upaya ini diterima dengan sikap dingin dan penuh kecurigaan oleh Tito.
Untuk menghilangkan kecurigaan dan keraguan Tito, Uni Soviet sampai membubarkan Cominform pada 17 April 1956 sebagai bagian dari program rekonsiliasinya dengan Yugoslavia. Sebab pada masa Stalin, Yugoslavia diusir dari keanggotaannya di Cominform. Dengan dibubarkan, maka status Yugoslavia tidak lagi dipermasalahkan.
Kedua, kunjungan Khrushchev 1963: Untuk memperkuat hubungan lebih lanjut, Khrushchev melakukan kunjungan resmi kedua ke Yugoslavia. Kunjungan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa rekonsiliasi bukan hanya sekadar retorika, tetapi komitmen jangka panjang.
Ketiga, kunjungan Brezhnev 1971 dan 1976: Penerus Khrushchev, Leonid Brezhnev, melanjutkan tradisi ini dengan dua kunjungan resmi ke Yugoslavia. Kunjungan-kunjungan ini menandakan bahwa upaya perbaikan hubungan dengan Yugoslavia adalah kebijakan tetap Politbiro Moscow, terlepas dari perubahan kepemimpinan.
Langkah overcompensation lainnya yang paling mencolok adalah pemberian “status khusus” kepada Yugoslavia. Soviet secara efektif menciptakan doktrin tidak resmi: “semua negara sosialis, kecuali Yugoslavia.” Ini berarti bahwa berbagai kebijakan luar negeri dan ideologi yang wajib diikuti oleh semua negara satelit Blok Timur—seperti Doktrin Brezhnev tentang kedaulatan terbatas—tidak berlaku untuk Yugoslavia.
Moskow secara implisit mengakui bahwa Yugoslavia adalah kasus khusus, sebuah negara sosialis yang berdaulat penuh dengan hak untuk menafsirkan marxisme-leninisme dan menentukan kebijakan luar negerinya sendiri. Sebuah pengakuan yang sebelumnya mustahil diberikan di era Stalin.
Soviet juga meningkatkan bantuan ekonomi dan teknis, berharap bisa mengikat Yugoslavia dengan kemitraan material. Mereka berusaha mati-matian menunjukkan bahwa mereka telah berubah: tidak lagi toxic, tidak lagi suka memberikan silent treatment kolektif, dan ingin berkomunikasi secara matang serta dewasa.
Mereka "lari terbirit-birit" mengejar pengakuan dan hubungan istimewa dengan Yugoslavia yang telah jauh meninggalkan mereka, persis seperti seseorang yang putus asa mencoba merebut kembali mantan kekasih yang sudah sukses dan dikelilingi banyak pelamar baru. Namun, seperti dalam kisah Budi-Lidya, upaya ini pada dasarnya tetap merupakan bentuk manipulasi –kini dengan menggunakan “kebaikan” dan konsesi– untuk mendapatkan kembali pengaruh yang telah hilang.
Penutup: Pelajaran Abadi dari Taman Yugoslavia yang Berbunga
Pada akhirnya kisah Yugoslavia-Uni Soviet dan analogi kisah cinta Budi-Lidya memberikan pelajaran universal yang bergema, baik dalam hubungan interpersonal maupun diplomasi internasional. Yugoslavia, melalui keteguhan Tito dan komitmen pada jalannya sendiri, membuktikan sebuah kebenaran mendasar: kedaulatan sejati dan harga diri tidak dapat diperoleh dengan mengejar pengakuan dari pihak lain, melainkan melalui keberanian untuk mendefinisikan diri sendiri.
Strategi Yugoslavia untuk “memperindah taman agar tidak perlu lagi mengejar kupu-kupu” rupanya terbukti jauh lebih ampuh daripada semua ancaman, isolasi, atau bujukan Soviet. Dengan berinvestasi pada pembangunan model sosialisme yang unik, keterbukaan terhadap dunia, dan kepemimpinan di Gerakan Non-Blok, Yugoslavia tidak hanya sekadar bertahan – ia berkembang menjadi sebuah kekuatan “Dunia Ketiga” yang disegani.
Yugoslavia menjadi magnet alami yang menarik persahabatan dan kerja sama dari semua penjuru dunia. “Kupu-kupu” dalam bentuk pengakuan diplomatik, kemitraan ekonomi, dan legitimasi internasional berdatangan dengan sendirinya, bukan karena Yugoslavia memohon-mohon, tetapi karena dunia tertarik pada apa yang ditawarkannya: sebuah alternatif yang mandiri dan bermartabat.
Sebaliknya, upaya putus asa Uni Soviet–mulai dari kunjungan berulang Khrushchev hingga konsesi khusus Brezhnev–pada akhirnya hanya menjadi penanda betapa dalamnya penyesalan, takut kehilangan, dan rasa panik Uni Soviet. Upaya overcompensation ini, meskipun masif, justru semakin menyoroti kegagalan strategi awal mereka dan mengukuhkan posisi Yugoslavia sebagai pihak yang diinginkan, bukan yang menginginkan. Upaya mereka untuk “mengejar” justru menjadi pengakuan terbesar atas keberhasilan Yugoslavia.
Oleh karena itu, pelajaran utama dari episode sejarah ini adalah sebuah paradoks: kekuatan terbesar justru seringkali terletak pada kemampuan untuk tidak terobsesi pada kekuatan orang lain. Dengan fokus membangun kapasitas internal, integritas, dan nilai-nilai unik yang dimiliki–entah oleh sebuah negara atau seorang individu–kita pada akhirnya mencapai posisi di mana kita tidak perlu lagi mengejar validasi eksternal.
Cukup kita menjadi taman yang begitu indah, sehingga kupu-kupu yang cantik dan paling berharga akan datang dengan sendirinya, tertarik oleh kualitas diri, serta keaslian, dan kedamaian yang kita pancarkan. Dalam dunia yang penuh dengan permainan kekuasaan, tarik-ulur, tantrum, hubungan toxic, silent treatment, drama, dan manipulasi, menjadi taman yang indah serta terawat baik adalah bentuk kekuatan yang paling elegan dan abadi.

