Konten dari Pengguna

Meresapi Sejuta Makna dalam Sehelai Rupiah

Irwan Samad
Guru pada Kementerian Agama Kota Kendari, Penggiat Literasi
19 September 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Meresapi Sejuta Makna dalam Sehelai Rupiah
Meresapi sejuta makna dalam sehelai rupiah merupakan kisah nyata tentang bagaimana mencintai, berbangga, dan memahami makna dalam setiap lembar rupiah. #userstory
Irwan Samad
Tulisan dari Irwan Samad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Uang Rupiah Emisi 2022. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Uang Rupiah Emisi 2022. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Kokok Ayam jantan bernyanyi bersahutan menyapa seantero alam. Pekatnya malam perlahan beranjak meninggalkan peraduannya. Di ufuk timur, sang fajar pun mulai menampakkan wajahnya.
Kubangunkan satu persatu kedua putraku dari pembaringannya.
“Isam, Awi, bangun, salat dulu yuk!” pintaku sembari menepuk bahunya perlahan.
Keduanya pun menggeliat sembari mengusap sepasang netranya, pertanda mereka bersiap menyambut pagi itu dengan penuh semangat. Tak berselang lama, keduanya telah siap dengan seragam sekolahnya, tentunya setelah mandi dan sarapan.
Seperti biasa, sebelum ke sekolah, kurogoh saku celanaku sembari mengeluarkan lembaran uang kertas yang sudah tampak kusam dan sedikit sobek. Dua helai uang kertas kumal berwarna cokelat muda itu kuserahkan masing-masing kepada kedua putraku.
Gambar uang kertas pecahan 5000 rupiah. Foto: Dokumentasi Istimewa
“Sudah robek?” tanya Isam dengan nada sedikit agak meninggi.
Dengan raut wajah cemberut, putra sulungku, Isam, menolak menerima uang Rp5 ribu yang bentuknya sudah tak terawat lagi. Uang kertas bergambar Dr. KH. Idham Chalid itu sontak tak rela ia terima.
“Uang begini sudah tidak laku Pa,” katanya. Tanpa banyak berkilah, kuraih uang yang sobek itu, lalu menggantinya dengan uang kertas pecahan Rp10 ribu.
Dengan wajah sumringah, uang kertas bergambar Frans Kaisiepo itu diraihnya sembari meraih telapakku dan menyalamiku.
Gambar penari Gambyong asal daerah Surakarta pada uang kertas pecahan Rp5 ribu. Foto: Dokumentasi Istimewa
Seolah tak mau kalah, putra bungsuku, Awi, tampaknya terserang bandwagon effect. Ulah kakaknya menular ke adiknya. Dengan ekspresi merajuk, anak lelaki yang duduk di kelas 1 SD itu, enggan menerima uang pecahan Rp5 ribu meski bentuk dan kondisinya masih laik.
Disertai napas panjang, uang berlatar objek wisata Gunung Bromo itu kuraih dan menggantinya dengan uang kertas berwarna hijau bergambar Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi.
“Simpan kembaliannya ya, jangan dihabiskan semua!” tuturku sembari meraih tangannya untuk disalami.
Tanpa basa-basi, uang kertas—tahun emisi 2022 berlatar destinasi wisata Derawan itu—dimasukkan ke dalam saku celananya.
Bagian depan uang Rp 20 ribu bergambar Dr. G.S.S.J Ratulangi. Foto: Yudhistira Amran Saleh/Kumparan

Cinta Rupiah, Cinta Indonesia

Menjelang petang, saatnya menjemput kedua buah hatiku. Tampak dari kejauhan keduanya telah menungguku di depan gerbang sekolah. Sambil berlari menenteng tas, mereka berdua menuju ke dalam mobil. Sejurus kemudian, kami pun melaju meninggalkan sekolahnya.
Lalu lintas jalan raya hari ini tampak ramai lancar. Lampu weser mobil kunyalakan sembari perlahan menepi ke kiri. Perhatianku tertuju pada mesin ATM di perempatan jalan arteri.
Kusempatkan menarik uang untuk kebutuhan rumah tangga selama beberapa hari. Terdapat 10 helai uang berwarna merah muda pecahan Rp100 ribu. Uang yang masih kaku itu kuletakkan dalam dashbor mobil.
“Lihat, jalan Ir. Soekarno!” sahut sulungku sambil memerhatikan lembaran uang yang kusimpan di dashbor, seolah terkesima tulisan nama salah satu jalan sama dengan tulisan bergambar pahlawan di tangannya. Rupanya, rasa penasarannya akhirnya terpecahkan. Selama ini, nama jalan yang saban hari dilaluinya ternyata ada pada gambar uang di hadapannya.
Ilustrasi Ir. Soekarno. Foto: Shutterstock
“(Dia) pahlawan dan presiden pertama kita, Nak” terangku padanya.
Sambil berkendara dengan kecepatan normal, aku berusaha semampuku menjelaskan nama-nama tokoh yang ada dalam uang kertas. Selain itu, aku pun menceritakan sekilas alasan mengapa Bank Indonesia menyematkan sejumlah destinasi wisata pada terbitan uang kertas, termasuk peran Bank Indonesia, seperti menjaga stabilitas nilai rupiah, mengelola rupiah, melaksanakan kebijakan moneter, dan sebagainya, tentunya dengan bahasa yang mudah dipahami.
Dengan antusias, mereka pun mendengarkan kalimat demi kalimat yang terlontar tentang gambar pahlawan, destinasi wisata, dan budaya yang ada di balik uang kertas.
Bank Indonesia. Foto: Shutterstock
"Itulah salah satu bukti kecintaan Bank Indonesia terhadap para pahlawan yang telah berjasa bagi negeri kita, Indonesia tercinta, Nak, ” tuturku dengan bangga.
“…juga berkomitmen mempromosikan obyek wisata dan budaya tanah air kita, Nak,” sambungku sambil terus menyetir.
Bagiku, hari itu menjadi hari yang bermakna. Literasi finansial kedua anakku tentang mata uang rupiah mulai bersemi dan berkembang dengan baik.
Kataku itu menutup perjalanan kami. Tidak terasa, kami pun telah tiba di rumah dengan hati yang gembira.
Melalui cerita itu, aku berharap, Bank Indonesia akan selalu hadir dan tetap berkomitmen memberikan sejuta makna dalam setiap helai rupiah, demi Indonesia yang semakin maju.
Trending Now