Konten dari Pengguna

Hiburan atau Keyakinan: Meningkatnya Konsumerisme Anak Muda terhadap Tarot

Nailal Ghinna
Saya adalah seornag mahasiswa Pendidikan Sosiologi UNJ
25 November 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hiburan atau Keyakinan: Meningkatnya Konsumerisme Anak Muda terhadap Tarot
Artikel ini membahas bagaimana tarot berkembang menjadi bagian dari budaya pop, apa yang mendorong anak muda mencarinya, serta bagaimana teori anomi dan alienasi membantu menjelaskan kebutuhan mereka
Nailal Ghinna
Tulisan dari Nailal Ghinna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi tebaran kartu tarot. Foto: IRAN-FORTUNES/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tebaran kartu tarot. Foto: IRAN-FORTUNES/REUTERS
Di tengah gempuran konten digital dan budaya pop yang terus berkembang, ramalan tarot muncul sebagai salah satu tren spiritual yang paling digemari anak muda. Bagi sebagian, kartu-kartu bergambar ini sekadar hiburan; bagi yang lain, ia menjadi rujukan emosional untuk memahami diri dan masa depan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting mengapa generasi yang tumbuh dengan rasionalitas dan teknologi justru semakin percaya pada praktik mistis seperti tarot? Fenomena ini bukan hanya soal ramalan, tetapi cerminan kegelisahan sosial dan pencarian arah hidup di kalangan generasi muda.
Dalam beberapa bulan terakhir ini, ramalan tarot mengalami lonjakan popularitas di kalangan anak muda, terutama melalui platform seperti TikTok, X, dan Instagram. Konten pembacaan kartu yang dikemas secara estetis, personal, dan mudah diakses membuat tarot tidak lagi dipandang sebagai praktik mistis yang eksklusif, melainkan sebagai bagian dari budaya pop yang dekat dengan keseharian.
Kenapa bisa melonjak?
Fenomena ini muncul seiring meningkatnya tekanan psikologis yang dialami generasi muda, mulai dari ketidakpastian masa depan, tuntutan pendidikan dan karier, hingga dinamika hubungan sosial yang semakin kompleks. Di tengah kondisi sosial yang penuh ketidakpastian, banyak anak muda mencari ruang untuk memahami diri, menenangkan kecemasan, dan menemukan arah. Tarot juga berfungsi sebagai bentuk self-help alternatif. Anak muda memanfaatkan pembacaan kartu untuk memahami relasi, mengambil keputusan, atau sekadar memperoleh rasa dikonfirmasi. Para ahli sosiologi melihat tren ini sebagai bentuk coping mechanism, yakni upaya menemukan kendali dalam realitas yang sulit diprediksi. Berbagai artikel pun menunjukkan bahwa generasi Z cenderung lebih terbuka terhadap praktik spiritual non-konvensional bukan karena percaya sepenuhnya pada ramalan, tetapi karena mereka mencari pengalaman emosional, afirmasi positif, dan rasa dipahami. Fenomena meningkatnya konsumsi tarot ini menjadi penting untuk diperhatikan, sebab ia tidak hanya menggambarkan perubahan orientasi spiritual anak muda, tetapi juga menandai pergeseran budaya yang lebih luas seperti kebutuhan akan ruang aman psikologis, pencarian identitas. Dengan kata lain, tarot bukan sekadar permainan kartu, tetapi medium refleksi diri yang merespon kegelisahan generasi masa kini.
Di berbagai kota besar terutama Jakarta, praktik pembacaan tarot kini mudah dijumpai, baik secara langsung di kafe dan ruang komunitas, maupun secara daring melalui sesi live reading di TikTok, bahkan dengan mudah kita bisa menemukan di aplikasi online shopping seperti. Berdasarkan pengamatan lapangan, sebagian besar penontonnya adalah remaja dan mahasiswa berusia 17–25 tahun. Banyak dari mereka mengaku menemukan kenyamanan ketika pembaca tarot memberikan afirmasi positif atau penjelasan mengenai situasi hidup yang sedang mereka hadapi.
Saya juga mewawancarai beberapa mahasiswi berusia 21-22 tahun, mereka mengatakan bahwa ia pernah menggunakan jasa reading tarot karena merasa “lebih dipahami” dibandingkan ketika bercerita kepada teman dan dapat memberikan penjelasan mengenai situasi hidup yang sedang dihadapi maupun situasi yang akan datang . Di sisi lain, data dari beberapa platform menunjukkan bahwa video bertema “tarot pick a card” sering kali mencapai ratusan ribu hingga jutaan penonton, menggambarkan besarnya minat publik. Fenomena ini juga diperkuat oleh meningkatnya jumlah kreator konten tarot yang menawarkan jasa konsultasi berbayar, yang menunjukkan permintaan pasar yang terus tumbuh. Tingginya konsumsi ramalan tarot di kalangan anak muda tidak dapat dipahami semata-mata sebagai bentuk kepercayaan mistik. Selain itu, tarot mudah diserap oleh budaya pop karena bentuknya yang visual, estetis, dan naratif. Hal ini membuat tarot terasa lebih dekat, tidak mengintimidasi, serta sesuai dengan kebutuhan ekspresif generasi Z.
Fenomena meningkatnya ketertarikan anak muda pada ramalan tarot dapat dijelaskan melalui Teori Anomi Émile Durkheim, yang menjelaskan bahwa kondisi sosial yang penuh ketidakpastian dapat menghasilkan kegamangan nilai dan kebingungan arah hidup. Dalam situasi anomi, individu merasa kehilangan pegangan, sehingga mereka mencari sumber makna atau petunjuk baru. Tarot, dalam hal ini, menjadi alat simbolik yang menggantikan kepastian yang hilang dari struktur sosial konvensional.
pic by: <a href="https://www.freepik.com/free-vector/hand-drawn-tarot-cards-background_18493570.htm">Image by coolvector on Freepik</a>
Sementara itu, Teori Alienasi Karl Marx membantu memahami perasaan keterasingan anak muda dalam dunia yang serba kompetitif dan terfragmentasi. Anak muda sering merasa jauh dari proses produktif, tekanan akademik, atau relasi sosial yang autentik. Tarot kemudian menjadi ruang alternatif bagi mereka untuk terhubung kembali dengan diri sendiri sebuah pengalaman intim yang memberi ilusi kontrol dan kedekatan emosional.
Kedua teori ini menunjukkan bahwa konsumsi tarot bukan sekadar tren hiburan, melainkan respons terhadap tekanan struktural dan psikologis yang dialami generasi muda. Tarot, dalam perspektif ini, bukan hanya kartu, tetapi cermin dari kecemasan modern dan kebutuhan manusia akan rasa keterikatan, makna, dan arah hidup.
Fenomena meningkatnya kepercayaan anak muda terhadap ramalan tarot menunjukkan bahwa di tengah dunia yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, mereka terus mencari ruang untuk memahami diri dan menemukan arah. Tarot, yang dulu dianggap mistis, kini bertransformasi menjadi medium refleksi yang akrab dan mudah diakses. Terlepas dari apakah ramalan tersebut akurat atau tidak, tren ini mengingatkan kita bahwa generasi muda membutuhkan dukungan emosional dan ruang aman untuk mengekspresikan kegelisahan mereka. Harapannya, pencarian makna ini dapat diarahkan tidak hanya pada simbol-simbol kartu, tetapi juga pada hubungan sosial yang lebih kuat dan akses terhadap pendampingan psikologis yang lebih inklusif.
Trending Now